Friday, November 18, 2011

Sikap Ulama Salaf Terhadap Penentang Sunnah


Dari Abu Qatadah berkata: Kami pernah di sisi 'Imran bin Hushain rodhiyallahu 'anhu dalam suatu rombongan dan di antara kami terdapat Busyair bin Ka'b. Maka 'Imran berbicara kepada kami pada suatu hari, dia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam: "Malu itu baik semuanya" atau beliau bersabda: "Malu itu adalah semuanya baik." Maka berkata Busyair bin Ka'b: "Sesungguhnya kami mendapati di sebagian kitab atau hikmah bahwa dari malu itu ada yang merupakan ketentraman dan penghormatan kepada Allah, tetapi pada malu itu juga ada kelemahan." Maka 'Imran pun marah sampai merah kedua matanya dan berkata: "Tidakkah kamu melihat aku, aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kamu menentangnya!!" (HR. Al-Bukhariy no.6117, Muslim no.37 dan lafazh ini milik Muslim)
 
Dari 'Abdullah bin Mughaffal rodhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk melempar dengan batu dan beliau bersabda: "Sesungguhnya melempar dengan batu itu tidak akan mendapatkan buruan dan tidak akan dapat mengalahkan musuh, tetapi hanya akan membutakan mata dan memecahkan gigi." Maka berkatalah seseorang kepada 'Abdullah bin Mughaffal: "Apa jeleknya hal ini?" Maka 'Abdullah bin Mughaffal berkata: "Sesungguhnya aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan seperti ini, maka Demi Allah... Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!" (HR. Al-Bukhari no.5479, Muslim no.1954 dan lafazh ini milik Ibnu Baththah di dalam Al-Ibaanah hadits ke-96)

Dari Abil Makhariq berkata: 'Ubadah bin Ash-Shamit rodhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Maka berkatalah seseorang: "Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa asalkan tangan dengan tangan (kontan)." Maka 'Ubadah berkata: "Aku berkata: "Telah bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan kamu mengatakan: "Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa", (maka) Demi Allah... Tidak akan menaungi aku dan kamu satu atap pun selama-lamanya!!" (HR. Ibnu Majah no.81, Ad-Darimiy no.443 dan lafazh ini milik Ad-Darimiy. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy)
Dari Salim bin 'Abdullah bahwa 'Abdullah bin 'Umar rodhiyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian ke masjid jika mereka meminta ijin kepada kalian untuk ke sana!"
Berkata Salim: Berkatalah Bilal bin 'Abdullah: "Demi Allah, kami akan melarang mereka."
Berkata Salim: "Maka 'Abdullah menghadap kepadanya (anaknya yaitu Bilal bin 'Abdullah) kemudian mencaci-makinya dengan suatu caci-makian yang jelek, yang aku belum pernah mendengar caci-makian seperti itu sama sekali. Kemudian 'Abdullah berkata: "Aku khabarkan kepadamu dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan: "Demi Allah, kami akan melarang mereka!!" (HR. Muslim no.442)
 
Dari 'Atha` bin Yasar: Bahwa seseorang menjual pecahan emas atau mata uang dengan yang lebih banyak dari ukuran nilainya. Maka berkatalah Abu Darda` rodhiyallahu 'anhu kepadanya: "Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam melarang dari hal yang seperti ini kecuali dengan yang senilai. Maka orang itu pun berkata: "Aku berpendapat yang seperti ini tidak apa-apa." Maka berkatalah Abu Darda`: "Siapakah yang bisa memberikan alasan kepadaku dari si fulan ini, aku mengatakan: "Dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan dia mengatakan kepadaku dari pikirannya, aku tidak akan tinggal di negeri yang kamu berada padanya!" (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-94)

Dari Al-A'raj berkata: Aku pernah mendengar Abu Sa'id Al-Khudriy rodhiyallahu 'anhu berkata kepada seseorang: "Tidakkah kamu mendengar aku, aku mengatakan dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Janganlah kalian menjual dinar dengan dinar, dirham dengan dirham kecuali dengan yang senilai dan janganlah kalian menjual darinya, yang segera (kontan) dengan yang ditunda!", sedangkan kamu berfatwa dengan apa yang kamu fatwakan, maka Demi Allah... tidak akan menaungi aku dan kamu selama aku hidup kecuali masjid." (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-95)

Dari Qatadah berkata: "Ibnu Sirin pernah mengajak bicara kepada seseorang dengan hadits dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, maka orang tersebut berkata: "Si Fulan telah berkata demikian dan demikian!" Maka Ibnu Sirin berkata: "Aku mengatakan kepadamu dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kamu mengatakan: "Si Fulan dan si Fulan telah berkata demikian dan demikian...!" Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!!" (Sunan Ad-Daarimiy no.441)

Berkata Abus Sa`ib: "Kami pernah di sisi Waqi', maka dia berkata kepada seseorang yang berada di sisinya, yang termasuk orang yang berpendapat dengan ra`yu: "Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah melakukan Isy'aar (yaitu merobek salah satu sisi pundak (punuknya) hewan (unta) sehingga mengeluarkan darahnya dan hal itu dijadikan sebagai tanda bagi hewan tersebut yang dengannya akan diketahui bahwasanya itu adalah hewan qurban, lihat An-Nihaayah 2/479)."
Berkatalah orang tersebut: "Bahwasanya telah diriwayatkan dari Ibrahim An-Nukha'iy, bahwa dia berkata: "Isy'aar adalah menyakitkan."
Berkata Abus Sa`ib: "Maka aku melihat Waqi' marah dengan marah yang sangat dan berkata: "Aku telah berkata kepadamu: "Telah bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan kamu berkata: "Telah berkata Ibrahim", (maka) tidaklah ada yang menghalangi kamu agar kamu ini dipenjara kemudian tidak dilepaskan sampai kamu menarik kembali dari ucapanmu ini!!" (Jaami'ut Tirmidziy 3/250)

Dari Kharzadz Al-'Abid berkata: "Abu Mu'awiyyah Adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun Ar-Rasyid suatu hadits: "Adam dan Musa saling berhujjah." (HR. Al-Bukhariy no.3409 dan Muslim no.2652 dari Abu Hurairah -pent.)
Maka berkatalah seorang bangsawan dari Quraisy: "Di mana dia (Adam) bertemu dengannya (Musa)?"
Maka Harun pun marah dan berkata: "(Untuk) orang yang berlebih-lebihan adalah pedang, seorang Zindiq yang mencela hadits." Maka Abu Mu'awiyyah pun terus berusaha menenangkannya (Harun) lalu berkata: "Jangan terburu-buru, Ya Amirul Mu`minin..." dan dia tetap belum paham, sampai (akhirnya) dia tenang. (Taariikh Baghdaad 41/7 dan Siyar A'laamin Nubalaa` 9/288)

Ikutilah Jejak Salafush Shalih!
Inilah nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tentang pengagungan terhadap Sunnah. Dan inilah sikap Salafush Shalih (shahabat dan tabi'in) terhadap orang-orang yang menentang Sunnah. Kamu lihat padanya terdapat kekuatan, keseriusan dan kekerasan terhadap orang yang muncul darinya sesuatu yang di dalamnya terdapat penentangan terhadap Sunnah.

Berkata Ibnul Qayyim: "Sesungguhnya Salafush Shalih sangat keras pengingkaran dan kebencian mereka terhadap orang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dengan akal atau qiyas atau istihsaan (menganggap baik sesuatu) atau dengan pendapat seseorang siapa pun orangnya. Dan mereka mengisolir terhadap orang yang melakukan hal tersebut serta mengingkari atas orang yang menjadikan bagi beliau tandingan-tandingan. Dan tidaklah mereka melakukan hal ini, melainkan hanya karena keterikatan dan ketundukan (mereka) kepada beliau serta menerimanya dengan pendengaran dan ketaatan, dan tidak pernah terbetik di dalam hati mereka untuk berhenti dari menerimanya.... (I'laamul Muwaqqi'iin 4/244)

Maka bandingkanlah antara sikap Salafush Shalih terhadap orang yang menentang Sunnah dengan sikap orang sekarang terhadap orang yang mengolok-olokkan Sunnah!!!

Dan sebelum itu lihatlah (terlebih dahulu) perkataan-perkataan mereka (Salafush Shalih), kemudian lihatlah perkataan-perkataan orang-orang sekarang. Adapun mereka (Salafush Shalih), kamu telah melihatnya. Sedangkan mereka, orang-orang sekarang, maka lihatlah contoh-contoh atas pengolok-olokan mereka (terhadap Sunnah):

1. Sebagian mereka ada yang menolak suatu hadits. Ketika dikatakan kepadanya: "Bahwasanya hadits tersebut terdapat di dalam Shahiih Muslim!" Maka orang itu berkata: "Letakkan hadits itu di bawah kakimu!!!" (Karena menurutnya bertentangan dengan Al-Qur`an, padahal tidak akan pernah As-Sunnah bertentangan dengan Al-Qur`an -pent.)

2. Berkata salah seorang di antara mereka dengan sangat kurang ajarnya -mengomentari terhadap hadits masalah lalat-: "Saya akan mengambil ucapan dokter kafir dan tidak aku ambil ucapan Rasul !!"

3. Berkata yang lain: "Apabila hadits bertentangan dengan akal, maka tolaklah hadits tersebut!" Maka dikatakan kepadanya: "Walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy?!" Dia berkata: "Ya, walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy dan tidak ada kemuliaannya!!!"

Demikianlah mereka memperolok-olokkan dan melecehkan Sunnah!
Maka bagaimanakah sikap orang-orang di zaman kita ini terhadap mereka (yang mengolok-olokkan Sunnah)? Dan bagaimanakah memperlakukan mereka, apakah dengan mengisolir, mencerca dan memutuskan hubungan dengan mereka?!
"Tidak... tidak demikian.... Bahkan orang-orang di zaman kita ini telah menganggap mereka ini sebagai para da'i, para 'ulama dan para mujaddid (pembaharu Islam)!!!"

Alangkah mengherankan...?!! Apabila telah demikian keadaan para da'inya, maka bagaimana pula dengan keadaan mad'unya (orang-orang yang diserunya)?!!"

Berkata Ibnu Baththah: "Ambillah pelajaran oleh kalian... Wahai orang-orang yang memiliki pandangan.... Alangkah jauhnya perbedaan antara mereka, orang-orang yang memiliki akal, para tokoh, orang-orang yang baik dan orang-orang pilihan (yakni Salafush Shalih), yang hati-hati mereka dipenuhi dengan ghiirah (kecemburuan) terhadap keimanan mereka dan marah kalau agama dicela atau dikurang-kurangi, dengan mereka (orang-orang) di zaman kita yang kita hidup di dalamnya, kita berada di antara punggung-punggung mereka (hidup bersama mereka)?!

Inilah 'Abdullah bin Mughaffal -shahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan tokohnya para tokoh mereka- memutuskan silaturrahmi dan meninggalkan kawan dekat/kekasihnya, ketika kawan dekatnya tersebut menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan dia juga telah bersumpah untuk memutuskan hubungan kepadanya dan meninggalkannya, dalam keadaan dia mengetahui apa-apa yang terdapat di dalam masalah silaturrahmi dan memutuskan hubungan kekeluargaan!

Begitu juga 'Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Darda` -Rasulullah telah menamakan beliau sebagai hakim ummat ini- serta Abu Sa'id Al-Khudriy, mereka semua pergi dari tempat tinggal mereka dan pindah dari negeri mereka serta menampakkan kepergian mereka kepada kawan-kawan mereka hanya dikarenakan ada seseorang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan tidak mau mendengarkan Sunnah!

Duhai kiranya.... Bagaimanakah keadaan kita nanti di hadapan Allah 'Azza wa Jalla, yang kita selalu bertemu dengan orang-orang yang menyimpang di waktu pagi dan sore, mereka selalu mengolok-olokkan ayat-ayat Allah dan menentang Sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, mereka menjauhkan diri dari Sunnah tersebut dan mengingkarinya?! Semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari penyimpangan dan ketergelinciran." (Al-Ibaanah hal.259)

Wahai Saudaraku.... Sesungguhnya memperolok-olokkan Sunnah dan mencemoohkannya adalah suatu kejelekan yang betul-betul kejelekan!!
Berkata 'Abdullah Ad-Dailamiy: "Telah sampai kepadaku bahwa pertama kali hilangnya agama ini adalah dengan ditinggalkannya Sunnah, akan hilang agama ini satu Sunnah demi satu Sunnah sebagaimana tali akan lapuk satu kekuatan demi satu kekuatan." (Sunan Ad-Daarimiy 1/58 dan Al-Laalikaa`iy 1/93)

Oleh karena itu.... Kembalilah wahai para da'i kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaful Ummah (Salafush Shalih).
"Maka setiap kebaikan itu di dalam mengikuti Salafush Shalih dan setiap kejelekan itu ada pada bid'ahnya orang-orang Khalaf (yang menyelisihi Salafush Shalih)."

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab di dalam risalahnya (Nawaaqidhul Islaam/ Pembatal-pembatal Keislaman):
"Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa-apa yang dibawa oleh Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam, walaupun dia beramal dengannya, maka dia telah kafir!! Dalilnya firman Allah Ta'ala: "Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (Al-Qur`an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amalan-amalan mereka." (Muhammad:9)
"Dan barangsiapa yang memperolok-olokkan sesuatu dari agama Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam atau pahala Allah atau siksaan-Nya, maka dia telah kafir!!" Dalilnya firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: "Apakah dengan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian cari alasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah:65-66)

Berkata Sulaiman bin 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdul Wahhab: "Para 'ulama telah sepakat atas kafirnya seseorang yang melakukan sesuatu dari hal itu (membenci atau istihzaa`), maka barangsiapa yang memperolok-olokkan Allah atau Kitab-Nya atau Rasul-Nya atau Agama-Nya, maka dia telah kafir secara ijma' (kesepakatan 'ulama) walaupun dalam keadaan bersenda gurau, tidak bermaksud benar-benar untuk memperolok-olokkannya." (Taisiirul 'Aziizil Hamiid hal.617)

Wahai Para Da'i.... Sesungguhnya perkara ini adalah sangat berbahaya sekali. Maka sesungguhnya kalian seandainya mau membandingkan antara apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut (dari kalangan munafiq -pent.) di dalam Perang Tabuk yang dengan sebabnyalah turunnya ayat ini (At-Taubah:65-66), dengan apa yang telah dikatakan oleh sebagian orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah pada hari ini, niscaya kalian akan mendapatkan bahwa perkataan mereka (orang-orang sekarang ini) lebih besar dan lebih keras lagi (kejelekannya) daripada perkataan mereka (orang-orang yang di zaman Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam). Wallaahul Musta'aan.

"Ya Rabb kami.... Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)." (Aali 'Imraan:8). Wallaahu A'lam.

Diringkas dari kitab "Ta'zhiimus Sunnah" karya 'Abdul Qayyum As-Sahaibaniy hal.35-53.
Sumber: Buletin Al Wala' Wal Bara' Edisi ke-30 Tahun ke-2

Thursday, November 17, 2011

Hari ini dan Hari-hari ku

assalamu'alikum Wr.Wb

Bismillahirrohmannirrohim...

Tidak ada kata tidak bisa, susah, bingung, apalagi putus asa... yang menandakan kita lemah.
Bila itu suatu masalah dari yang kita hadapi dalam hidup ini... dan kita dapat mengatasinya... berarti kita memperoleh ilmu dan keberkahan yang melimpah dari sang kholik Allah `azza wajalla
*•Yaa Rabbi•*´¯)segala puji bagi-Mu karena kesempurnaan kasih sayang-Mu benar-benar begitu mengesankan.

love light

Aku mendapati diriku berdiri  dalam kesendirian meratapi hidup yang penuh dengan kesan nan istimewa,
dengan puas aku berdiri disana tak lepas ku menghirup teh yang entah sudah keberapa cangkir. "Manusia-

manusia malang," ujarku berseri-seri dalam hati.
Ku tau jalan ku tak seperti angan dan harapku
Yang selalu terbayang dalam benak ku
Yang terimpikan dalam tidur ku
Kala kecil ku ialah cita ku…

Dulu ingin ku hanya menjadi seseorang
Yang mampu merangkai kata menjadi makna
Yang menghabiskan tinta pena ku
Dilembar-lembar kertas putih

Tapi semua bebalik arah
Ketika seseorang datang padaku
Seseorang yang berkata seperti pada Umar Al-Tilmisani
Bahwa ada tubuh-tubuh yang hampir rubuh memerlukan ku…

Inikah kewajibaku…
Atau kah sebuah keperluanku atas Tuhan ku
Yang dulu sempat tertutup awan pekat
Hingga tak terlihat secerca sinar di balik ruasnya…

Inikah kewajibanku…
Yang tersempatkan di usia muda ku
Yang di ujarkan Imam Syahid
Bahwa pemuda adalah pengibar panji Robb ku…

Dan kini ku ingin tetap di jalanku...
walau badai dan aral siap menghadangku...
ku kan tetap meniti tiap langkahku...
hingga waktu kan mengambil ruhku...
Terlepas Dari lamunanku, Aku berjalan menuju suatu tempat yang tak tertuju, entah! langkahku kan menepi sampai di mana.
Kini ku sadari lemahnya diri,
karna pesona rekayasa Tuhan,
tak ada tempat untuk berbangga diri,
tak ada waktu untuk memuaskan hasrat...

Oh...Tuhan
betapa mulia dzat dan asma Mu,
ciptakan hembusan angin nafas insani,
kepada Engkau kami kembali,
Sempat terlintas dalam lamunan perjalanan hampaku, Betapa indah jika aku memiliki  Imam Sang Pengunci Hatiku,. tak harus ku termenung dalam kesendirian, tak harus ku tak tahu ku harus bersandar di mana, tak harus ku menulis curhatku dalam tulisan tak bermakna dan tak harus - tak harus - tak harus..
ya allah seng pemilikku sepenuhnya, andai ku bosan meminta padamu haruskah aku meminta pada selainmu?
ya allah ku tau tidak ada alasan untuk membuatku putus asa dalam mengulang doa-doaku, ketika Engkau menunda ijabah doaku“
Ya Allah ikatlah aku, kekalkan cintaku padamu. Tunjukilah jalan-jalanku. Penuhilah hatiku ini dengan cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dadaku dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal pada-Mu. Nyalakanlah hatiku dengan ma'rifat kepada-Mu. Matikanlah aku dalam syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong….

*• Amin-amin-amin Yaa Robbal `aalamin•*´¯)

Bukan kerana hari ini INDAH , kita BAHAGIA. . tapi kerana kita BAHAGIA hari ini mnjadi INDAH ! Bukan kerana tidak ada RINTANGAN kita mnjadi OPTIMIS. . tapi kerana kita OPTIMIS RINTANGAN menjadi tidak terasa ! Bukan kerana MUDAH kita YAKIN BOLEH. . tapi kerana kita YAKIN BOLEH maka semuanya mnjadi MUDAH ! Bukan kerana semua BAIK kita TERSENYUM. . tapi kerana kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK !
tidak ada hari yG menyuLitkan kecuaLi kita SENDIRI yG membuatnya SULIT !!


Wallohu a’alam.
Semoga  bermanfaa'at  
Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir
Wassalmu 'alikum Wr.Wb


Wednesday, November 16, 2011

Keutamaan Surat Al Baqarah

Di antara keutamaan membaca Surat Al Baqarah dari ayat pertama sampai ayat terakhir adalah orang yang membacanya tidak akan bisa ditaklukkan oleh tukang sihir.
Jin dan setan akan kabur dari rumah yang dibacakan Surat Al-Baqarah.

Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Umamah, dia berkata,
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
"Bacalah surat Al-Baqarah karena sesungguhnya mengambilnya (dibaca dan diamalkan) adalah mengundang keberkahan dan meninggalkannya adalah penyesalan, sedangkan para penyihir tak mampu melawannya."

HR. Muslim.

Tuesday, November 15, 2011

Wahai Imamku Sang Pengunci Hatiku

Bismillah...
Dengan menyebut namamu kusambut takdirku yang baik dan buruk hanya darimu dengan ketulusan hatiku.

Yaa Robbi Hadirku Dengan Segala Kekhilafan dan Kesalahan, ku yakin kau kan selalu menghapus semua itu, Karna hanya engkau dzat sang pengasih dan penyayang.

Kau hadir mengisi kehidupanku. Kau ketuk pintu hatiku, yang membuatku enggan berpaling dan menjauh darimu. Kau hadirkan bunga-bunga asmara antara kita. Hingga sampai saat dimana ku tersadar, entah jalan apa yang sedang kulalui ini. Tanpa petunjuk mana yang benar dan mana yang salah.. karna semua masih nampak abu-abu, belum jelas ujung dari semua ini.

puisi


Jika engkau mengharapkan harta menggunung tinggi, aku pasti akan mengecewakanmu..
Jika engkau mengharapkan wajah secantik puteri,  aku pasti akan mengecewakanmu..
Jika engkau mengharapkan layanan sebaik khadam, aku pasti akan mengecewakanmu..
Jika engkau mengharapkan teman yang setia di sisi, aku pasti akan mengecewakanmu..

Adakah secercah harapan yang kau titipkan untukku
Adakah sekeping hati yang bisa aku singgahi
Adakah segenggam mimpi yang bisa kau simpan untukku..

Engkau terlalu indah untuk disakiti
Engkau terlalu berharga untuk dipermainkan
Engkau terlalu sempurna untuk dicampakkan.

Jadilah engkau bak mutiara dilautan
Yang selalu bersinar
Memancarkan cahayanya yang berkilauan
Walau engkau berada dalam lumpur yang paling dalam..

"Sudikah enkau Menjadikan Aku pilihanmu kerana ILLAHI
Karna Aku juga telah memilihmu kerana petunjuk RABBI"

Nikmatilah Percintaan antara Aku dan Kamu dgn caranya yg terindah
puisi







 `*•.¸¸.•* Pernikahan `*•.¸¸.•*




_wallohu a`lam bisshoab
♥ SEMOGA BERMANFAAT ♥

Barakallaahu fiykum wa jazzakumullah khoir

Salam santun Ukhuwah 

Wassalamu`alikum Wr.Wb

Al Quran Sebagai Obat

Salah satu fungsi Al Qur'an adalah sebagai obat (syifa) atau penawar dan penangkal segala macam jenis penyakit, baik penyakit rohani maupun jasmani.
Termasuk pula penangkal gangguan jin, syetan atau sihir.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim usahakan senantiasa membaca wirid harian, yaitu membaca Al Qur'an setiap hari.

Allah SWT berfirman,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

Artinya:
"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
(QS. Al-Israa: 82).

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Janganlah menjadikan rumah-rumah kalian layaknya kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibaca di dalamnya surat Al-Baqarah."

Ayu nan Lugu

Seorang gadis sederhana yang terlahir dari sebuah keluarga kecil di sebuah kampung yang jauh dari perkotaan, meski terlahir dari keluarga sederhana tapi kebahagiaan selalu menghiasi hari-harinya, senyumnya pun senantiasa mengambang tak pernah lepas dari wajah manisnya. sikapnya yang lemah lembut dan ramah tamah semakin menambah ayu paras wajahnya....
Ku pandang wajahmu ayu nan lugu, …
perawakanmu nan takperkasa, memang engkau gemulai…
senyum manismu...membuatku rindu akan hadirnya dirimu....
bila ku pandang wajahmu yang ayu,sejuk terasa menyirami...bagai titik-titik embun di pagi hari...putih...bersih nan suci...tatapan mata nan tajam, fokus menyentuh relung jiwaku…Bola matamu...seakan pancarkan putihnya hatimu...

" Sempat ku rasakan suatu yang aneh di benakku dan rasa dingin merayap ke seluruh persendian tubuhku... " mungkin pertanda aku suka padanya...!!!
tapi setelah ku pikir lebih jauh... itu semua hanya sementara.!!! yang lebih indah dari itu mungkin BISA KU DAPATKAN.


Duhai sang Ayu nan Lugu
kurindu wajahmu nan ayu
Dalam diam kucumbu khayal semu senyummu
Tiada bosannya aku pandangi wajah imutmu
Tiada jenuhnya aku pandangi senyum cantikmu
Wajahmu dan senyummu adalah kesempurnaaan bagiku
Teruntuk sang pemilik senyum ayu, _Gadis Ayu nan Lugu

(ku coba untuk mengukirkan angan kedalam bentuk tulisan)
_Z13

Monday, November 14, 2011

Fikri Haikal Calon Penerus KH Zainuddin MZ

Fikri Haikal disebut-sebut sebagai penerus KH Zainuddin MZ.
Ayah dari dua anak ini mengaku mempunyai tugas berat untuk melanjutkan dakwah dan cita-cita sang ayah, yaitu menyatukan umat islam.


Siapa yang tidak kenal dengan KH Zainuddin MZ.
Lelaki yang dijuluki dai sejuta umat itu merupakan tokoh betawi sekaligus ulama pendakwah yang bercita-cita menyatukan umat islam. Namun, kini KH Zainuddin MZ telah meninggal dunia pada tanggal 5 Juni 2011 yang lalu.

Penerus KH Zainuddin MZ
Sebagi penerus adalah Fikri Haikal, putra pertama KH Zainuddin MZ. Sarjana agama dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ternyata dari 5 orang anak KH Zainuddin MZ, Fikri inilah yang diminta secara khusus untuk meneruskan cita-cita ayahnya.

Terbukti, sebelum meninggal dunia, KH Zainuddin MZ telah meminta Fikri Haikal untuk menggantikannya dalam berbagai ceramah di berbagai daerah.

Ingin Tetap Belajar dan Belajar.
Yang dilakukan selama ini oleh FIkri Haikal tentu saja tak lepas dari didikan ayahnya agar melayani umat, sebagai pendakwah muda dan professional namun tetap rendah hati.

Seringkali ia menghabiskan waktu di Masjid Fajrul Islam untuk bermunajat kepada Allah SWT dan mengenang kepergian KH Zainuddin MZ.
Beliau ini bisa dipanggil untuk semua kalangan tanpa pandang bulu, mulai dari lapisan bawah hingga atas.

Suara Khas.
Fikri Haikal kebetulan sekali memiliki suara yang mirip dengan ayahnya, KH Zainuddin MZ.
Nada suaranya yang khas dan seruan agar umat islam bersatu jadilah cita-citanya berlanjut.

Persaingan DAI.
Loh dai juga ada persaingan. Baru aku baca yang satu ini, dimana para dai saling bersaing untuk berebut untuk bisa manggung di televisi.
Tapi kalau aku saksikan di televisi, Fikri Haikal mengatakan kurang lebih bahwa dia berharap Indonesia tidak mengandalkan jenaka dan terjun ke dunia hiburan belaka. Dakwah harus meniru Rasulullah SAW, mendidik dan mencerdaskan umat.

Menurut Fikri Haikal, dakwah itu harus disertai teladan dan kesederhanaan, bukan mengutamakan untung dan materi. Sebab dakawah itu yang disampaikan adalah pesan dari Rasululah SAW dan Al Qur'an sehingga orang yang mendengarkan dakwah bisa menjalankan syariat Islam dengan baik.

Saya sendiri sanagt setuju dengan pernyataan Dai Fikri Haikal ini, sederhana saja jangan materi yang diutamakan. Toh dakwah tujuannya mencerdaskan umat islam, bukan untuk mencari materi.
Pastilah sangat besar pahala seorang dai yang bisa melakukan kesederhanaan dan keteladanan.

Ingat, dai dan ustad adalah contoh bagi masyarakat Indonesia ini, saya berharap agar dai atau ustad di negeri ini memberikan contoh yang sebaik-baiknya.
Masih banyak dai di luar sana yang tidak dikenal, namun di mata Allah SWT mereka-mereka itulah yang sangat disukai. Teladan baik, maka dia akan mendapatkan pahala, teladan buruk, dia juga akan memperoleh balasannya.

19 Tanda Ahlul Bid'ah, Waspadalah...



Kami akan sampaikan apa yang telah ditulis oleh Syaikh Dr. Ibroohim bin Muhammad bin ‘Abdillah Al Buraikan dalam kitab beliau: Ta’rif Al Khalaq Bi Manhaj As Salaf, dimana dalam kitab tersebut kita temukan sangat banyak identitas dan karakter para Ahlul Bid’ah, tidak kurang dari 19 macam.
Tanda-Tanda Ahlul Bid’ah tersebut adalah:

1.
Ahlul Bid’ah sangat memusuhi, menghina dan menganggap enteng kepada mereka pembawa berita dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Hal itu bisa kita temukan dalam apa yang diriwayatkan oleh Imaam Ash Shoobuuny رحمه الله dalam kitab beliau: ‘Aqiidatussalaf Ashaabul Hadiits.
Kata beliau رحمه الله  , dengan sanadnya dari Ahmad bin Sinaan Al Qaththoon, “Tidak ada di dunia ini seorang pun Mubtadi’ (seorang Ahli Bid’ah), kecuali dia yang membenci Ahlul Hadiits (Pembawa Hadits). Maka jika seseorang melakukan kebid’ahan, akan dicabut rasa lezatnya Hadits dari dirinya. Ciri Ahlul Bid’ah adalah mereka mencela, menghina, dan memusuhi Ahlul Atsar (Ahlul Hadits, Ahlus Sunnah).”

Kalau dari mereka ada yang mengaku Ahlus Sunnah, sebetulnya mereka jahil (tidak tahu / bodoh) terhadap apa itu Ahlus Sunnah. Kita harus secara jujur dan ‘ilmiah menyampaikan ‘ilmu kepada kaum muslimin tentang apa sebenarnya Ahlus Sunnah. Ahlus Sunnah menurut versi Ahlus Sunnah, bukan menurut versi Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah menurut mereka Ahlul Bid’ah adalah diantaranya Mujassimah. Maka kalau ada orang mengatakan Mujassimah itu Ahlus Sunnah, maka sebetulnya ia bukan lah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Mujassimah itu adalah menyatakan, meyakini bahwa Allooh سبحانه وتعالى berbentuk jism (fisik). Mereka mengatakan Allooh سبحانه وتعالى punya tangan, punya mata, punya hidung dstnya, dimana mereka mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya. Oleh karena itu, mereka disebut Mujassimah, dan mereka bukanlah termasuk golongan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meng-imani bahwa Allooh سبحانه وتعالى  itu baik Dzat-Nya maupun sifat-sifat-Nya adalah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Karena tidak ada yang menyamai-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, tidak ada yang sebanding dengan-Nya, sehingga Allooh سبحانه وتعالى tidak boleh dianalogikan dengan ciptaan-Nya.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meyakini sebagaimana yang diberitakan dalam QS. Al Asy Syuroo (42) ayat 11 bahwa Allooh سبحانه وتعالى:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:

“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”
Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menetapkan bagi Allooh سبحانه وتعالى, apa yang Allooh سبحانه وتعالى  tetapkan untuk diri-Nya, dengan penetapan tanpa tamtsil (tanpa menyerupakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya) dan menyucikan tanpa ta’thiil ( mengingkari ).

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menetapkan bagi Allooh
سبحانه وتعالى pendengaran, penglihatan, ilmu, kekuasaan, kebersamaan (ma’iyyah), telapak kaki, betis, tangan dan lain-lain dari sifat-sifat yang telah Allooh سبحانه وتعالى sifatkan sendiri untuk diri-Nya dalam Al Qur’an dan melalui lisan Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم dengan kaifiyyah yang hanya Allooh سبحانه وتعالى saja lah yang mengetahuinya, sedangkan kita tidak mengetahuinya, karena Allooh سبحانه وتعالى tidak mengkhobarkan kepada kita tentang kaifiyyah-Nya.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Fath (48) ayat 10 :
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ
Artinya:
…. Tangan Allooh di atas tangan mereka…”

Dan firman Allooh سبحانه وتعالى  dalam QS. Al Qomar (54) ayat 14:
تَجْرِي بِأَعْيُنِنَا
Artinya:
Yang berlayar dengan pengawasan Kami…”

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berbeda dengan Mujassimah
, karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak boleh men-tasybiih (menyerupakan) Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk. Sehingga kalau ada orang mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى adalah jism dan fisik dengan mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى itu dengan makhluk-Nya, maka ini bukanlah perbuatan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

2.
Ciri Ahlul Bid’ah adalah mencela dan menyalahkan Hadits dan Atsar, peninggalan-peninggalan yang diriwayatkan dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan para shohabat beliau.

Sikap mereka terhadap Hadits, bukannya mengagungkan, menghormati, mengamalkan atau memperjuangkan demi tegaknya Hadits, tetapi mereka justru malah mencela. Yang mengatakan demikian adalah Imaam Al Barbahaary رحمه الله, dalam kitabnya Sarhussunnah,  kata beliau: “Jika engkau mendengar seseorang mencela peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atau menolaknya, atau menginginkan selain yang ditinggalkan oleh Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka jelas ia adalah Ahlul Hawa dan Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah).”
Maka bila terdengar dalam masyarakat, ada orang yang kepada Hadits itu sikapnya justru tidak senang, atau sikapnya adalah ingin mengubah, tidak suka, membenci, memusuhi dan sebagainya; maka ketahuilah bahwa orang itu bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, walaupun ia mengaku atau mengatas-namakan dirinya sebagai Ahlus Sunnah. Tetapi sebenarnya ia adalah Ahlul Bid’ah. Itulah yang dikatakan oleh Imaam Al Barbahary رحمه الله dalam kitabnya diatas.

Imaam Al Barbahary رحمه الله wafat pada tahun 329 Hijriyah, berarti perkara ini sudah diperingatkan dari hampir 900 tahun yang lalu.
Lalu dilanjutkan oleh Abu Nadhr bin Salaam Al Faqiih dalam kitab beliau ‘Aqidatus Salaf Ashaabul Hadiits, kata beliau: “Tidak ada sesuatu yang dirasakan paling berat atas orang-orang yang menyeleweng dari Islam, tidak juga ada yang paling mereka benci, melainkan dari mendengarkan Hadits, riwayat Hadits dan Isnad Hadits.”

Maksudnya, jika Hadits Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم disampaikan, dibahas maka mereka justru tidak suka dan membenci, maka mereka itu adalah Ahlul Ilhaad.
Ahlul Ilhad adalah orang yang menyeleweng dari Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Dan termasuk dari Ilhad (berpaling dari kebenaran) adalah ta’thil (mengabaikan), tahrif (menyimpangkan), takyf (memvisualisasikan) dan tamtsil (menyerupakan) sifat-sifat Allooh, dengan tanpa berpedoman pada apa yang datang dari Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Padahal, tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allooh سبحانه وتعالى melainkan Allooh سبحانه وتعالى sendiri.

Allooh سبحانه وتعالى  berfirman dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 140:
قُلْ أَأَنتُمْ أَعْلَمُ أَمِ اللّهُ
Artinya:
Katakanlah: ‘Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allooh…’”

Dan tiada seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allooh سبحانه وتعالى, setelah Allooh, daripada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم atas izin-Nya. Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An-Najm (53) ayat 3-4 tentang beliau صلى الله عليه وسلم:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى ﴿٣﴾ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى ﴿٤
Artinya:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”

3.
Menamakan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dengan julukan-julukan yang rusak

Al Imaam Abu Haatim
رحمه الله dalam kitab ‘Aqiidatussalaaf, oleh Imaam Ash Shobuny رحمه الله dikatakan: “Ciri dari orang Zanadiqoh (orang-orang zindiq), mereka orang kaafir yang masuk kedalam Islam tetapi berpura-pura, untuk menghancurkan Islam dari dalam. Sebenarnya ia munaafiq. Orang-orang tersebut menamakan Ahlus Sunnah sebagai Hasawiyah.” Yang dimaksudkannya adalah mereka ingin menolak peninggalan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.
Sedangkan Qodariyyah, ciri-cirinya adalah mereka itu menjelek-jelekkan Ahlus Sunnah sebagai Mujbiroh (artinya: orang pesimistis).
Tentang Qodariyyah, contohnya adalah dalam sebuah buku yang ditulis oleh Harun Nasution, dimana buku tersebut sekarang menjadi kurikulum di UIN. Dalam buku tersebut, mereka membuat pernyataan bahwa Ahlus Sunnah membuat mereka menjadi mundur, karena menurut prinsip mereka bahwa Ahlus Sunnah itu selalu pesimis.

Ini mengejutkan. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak lah seperti yang mereka sebutkan.

Sebenarnya yang pesimis adalah Jabariyyah, bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Jadi ada kekeliruan atau salah menempatkan julukan di dalam buku tersebut. Kesalahan penempatan julukan itu dimungkinkan, karena yang dilihat oleh penulis buku tersebut (Harun Nasution) adalah realitas dalam kehidupannya, dimana notabene dalam masyarakatnya diajarkan tentang pesimistis. Itu sama sekali tidak benar, dan ia pun juga salah dalam menempatkan julukan. Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak berpaham Jabariyyah dan tidak pula berpaham Qodariyyah. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang tidak pesimistis sekali, tetapi juga orang yang tidak optimistis sekali. Melainkan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah orang yang berada ditengah-tengah, diantara keduanya (Ahlul Kasab). Dan itu dibahas panjang lebar diantaranya oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah رحمه الله dalam banyak tulisan beliau.

Kata beliau juga: “Tanda dari Jahmiyyah (kelompok dari Jahm bin Sofwaan), adalah mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat.” Karena menurut mereka, kalau Allooh سبحانه وتعالى mempunyai nama dan sifat maka berarti Allooh سبحانه وتعالى menjadi seperti makhluk. Agar Allooh سبحانه وتعالى tidak sama dengan makhluk, maka menurut mereka Allooh سبحانه وتعالى semestinya tidak punya nama dan sifat. Dan mereka menuduh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai Mutasyaabihah (orang yang mempersamakan Allooh سبحانه وتعالى dengan makhluk-Nya), dan pemahaman mereka (kelompok Jahmiyyah) tersebut adalah pemahaman yang keliru, ekstrim dan tidak sesuai dengan dalil.

Karena Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman bahwa Allooh سبحانه وتعالى mempunyai Asmaaul Husna (nama-nama yang baik), dan sifat-sifat yang mulia. Dia lah Allooh سبحانه وتعالى yang memiliki semua sifat yang sempurna dan suci dari segala kekurangan. Dia lah Allooh سبحانه وتعالى yang Maha Esa dengan sifat-sifat tersebut. Perhatikan firman-Nya dalam QS. Al A’roof ayat 180:
وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Artinya:
Hanya milik Allooh Asmaaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, seperti yang dikatakan oleh ‘Ulama ‘Abdullooh bin Al Mubaarok رحمه الله, beliau menghukumi kelompok Jahmiyah tersebut sebagai orang kaafir, murtad, keluar dari Islam karena mereka telah kufur terhadap banyak ayat Al Qur’an. Bahkan ‘Ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menghukumi kelompok Jahmiyah sebagai orang-orang yang menghamba dan beribadah kepada sesuatu yang tidak ada. Kalau tidak punya nama, tidak punya sifat, berarti tidak ada. Padahal segala sesuatu itu punya nama, walaupun manusia ada yang belum tahu namanya. Karena Allooh سبحانه وتعالى sudah berfirman dalam Al Qur’an bahwa Allooh سبحانه وتعالى  telah mengajarkan kepada Nabi Adam عليه السلام seluruh nama.

Perhatikan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 31:
وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!”

Adapun jika ada orang yang belum tahu nama dari sesuatu, bukan berarti sesuatu itu belum ada namanya.

Sedangkan ciri-ciri dari orang Raafidhoh (Syi’ah) adalah mereka mengatakan bahwa Ahlus Sunnah adalah orang yang menempatkan Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه sebagai Khaliifah, padahal menurut mereka (Syi’ah) semestinya bukan Abu Bakar رضي الله عنه, melainkan menurut mereka yang seharusnya menjadi Khaliifah adalah Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه. Pendapat itu berdasarkan suatu kedengkian, dan pemahaman tersebut adalah tidak benar.

Orang-orang Raafidhoh (Syi’ah) berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Bila Raafidhoh terjatuh pada mencela dan mengkafirkan para shohabat Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, bahkan yang termasuk Khulafaa Ar Roosyidiin seperti Abu Bakar As Siddiq رضي الله عنه, ‘Umar bin Khoththoob رضي الله عنه akibat kedengkian mereka; maka sebaliknya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengajarkan untuk mencintai para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم karena para shohabat رضي الله عنهم adalah orang-orang pilihan Alooh سبحانه وتعالى untuk menemani Rosuul-Nya. Ahlus Sunnah Wal Jama’ah beriman bahwa Alooh سبحانه وتعالى meridhoi para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana yang Alooh سبحانه وتعالى sendiri firmankan dalam QS. At Taubah (9) ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allooh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allooh dan Allooh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِى فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
Janganlah kalian mencaci para shohabatku, janganlah kalian mencaci para shohabatku! Demi Allooh yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang diantara kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud, maka tidak akan mencapai satu mud pun (dari yang mereka infaqkan), tidak sampai pula setengahnya.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 6651 dan Imaam Al Bukhoory no: 3673 dari Abu Hurairoh رضي الله عنه)

Sehingga dalam pandangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah terhadap orang-orang Raafidhoh : “Kalau saja mereka meyakini suatu keyakinan, yang keyakinan itu dibangun diatas khurofat (karena tidak bersambung kepada Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, karena semua shohabat beliau mereka kafirkan termasuk Khulafaa Ar Roosyidiin, kecuali beberapa orang saja dari para shohabat), maka mereka sudah kaafir, sehingga mereka tidak berhak lagi untuk didengar riwayatnya.”
Dengan demikian maka seluruh hadits dari mereka (Raafidhoh) akan tidak bisa diriwayatkan dan tidak berhak untuk diyakini isinya, karena mereka telah menunjukkan kufur terhadap Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

4.
Ciri Ahlul Bid’ah adalah mencela para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم

Seperti telah dijelaskan diatas, Raafidhoh (Syi’ah) itu selalu mencela shohabat Rosuul صلى الله عليه وسلم kecuali hanya beberapa orang diantara mereka saja. Maka hendaknya harus berhati-hati didalam membeli buku-buku dien, karena buku-buku Syi’ah tersebut sekarang banyak diterbitkan dan dijual di pasaran.
Imaam Al Barbaahary رحمه الله dalam kitab Sarhussunnah berkata: “Jika engkau melihat seseorang mencela salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka ketahuilah olehmu bahwa orang tersebut telah mengeluarkan perkataan yang buruk dan ia adalah pengikut hawa nafsu.

Dan menurut Imaam Maalik رحمه الله, beliau berkata: “Jika engkau melihat seseorang yang mencela salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, ketahuilah bahwa orang tersebut adalah munafiq, zindiq (kaafir tetapi berpura-pura Islam).”

Ada film CD yang telah beredar di tokoh-tokoh tentang kisah ‘Uthbah bin ‘Aamir رضي الله عنه, salah seorang shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Yang dikisahkan dalam film CD itu bukanlah tentang kepahlawanan dan kepiawaian shohabat ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه, justru diceritakan bahwa ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه adalah orang yang arogan karena memaksa orang agar orang membayar pajak (istilah dalam film itu adalah ‘pajak’). Padahal ‘Uthbah bin Amiir رضي الله عنه adalah orang yang adil. Demikianlah cara mereka menjelek-jelekkan shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

5.
Ciri Ahlul Bid’ah adalah meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah di masjid

Mudah-mudahan kita tidak termasuk ciri-ciri tersebut. Sholat Jum’at saja mereka enggan melaksanakannya, apalagi sholat fardhu berjama’ah secara rutin di masjid tentunya mereka lebih enggan lagi. Mereka hanya sholat berjama’ah tahunan saja, yaitu ketika sholat ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adha.
Yang paling mengenaskan adalah sholat fardhu berjama’ah. Dalam suatu masjid, paling banyak hanyalah satu shaf ketika sholat Shubuh. Lalu dimana jama’ah yang jumlahnya banyak dikala sholat Jum’at dan sholat ‘Ied tersebut? Berarti sebagian besar orang masih suka melaksanakan sholat berjama’ahnya adalah pekanan atau tahunan saja. Padahal sholat pekanan itu ibaratnya seperti orang Nasrhoni, dimana hal itu tidaklah dibenarkan. Maka sekali lagi, hendaknya diingat bahwa meninggalkan sholat Jum’at dan meninggalkan sholat fardhu berjama’ah di masjid tanpa udzur adalah ciri-ciri Ahlul Bid’ah.
Imaam Al Barbahary رحمه الله dalam kitabnya mengatakan bahwa, “Siapa yang meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah tanpa udzur, maka orang tersebut adalah Mubtadi’ (Ahlul Bid’ah). Tanpa udzur misalnya adalah karena sakit, atau takut dengan penguasa yang dzolim; maka selain daripada itu tidaklah disebut udzur.”

6.
Mendo’akan kejelekan terhadap penguasa

Imaam Al Barbahary
رحمه الله mengatakan, “Jika engkau melihat seseorang mendo’akan kejelekan bagi penguasa, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah Ahlul Bid’ah.”

7.
Duduk bersama Ahlul Bid’ah, setelah tahu bahwa mereka adalah pelaku Bid’ah

Imaam Al Barbahary
رحمه الله mengatakan, “Jika ada orang yang duduk bersama Ahlul Bid’ah setelah ia mengetahui bahwa mereka adalah pelaku Bid’ah, maka hindarilah ia karena ia adalah Shoohibul  Hawaa (pengikut hawa nafsu), dalam hal ini adalah Ahlul Bid’ah.”

8.
Menyeru untuk memerangi pemimpin kaum muslimin dan menghalalkan darah orang lain

Imaam Al Barbahary
رحمه الله mengatakan, “Ketahuilah bahwa hawa nafsu itu semuanya jelek. Karena mereka menyeru / mengajak kepada pedang (pembunuhan). Dan yang paling jelek dan paling kaafir adalah Raafidhoh (Syi’ah), Mu’tazilah dan Jahmiyah. Sebab mereka menginginkan agar manusia melucuti aqidah yang baik dan kembali kepada kemunafiqan.”

9.
Menyepelekan hal-hal yang fardhu berkenaan dengan hidup berjama’ah

Kata Imaam Al Barbahary رحمه الله: “Jika engkau melihat seseorang yang menyepelekan hal-hal yang fardhu yang semestinya berlaku dalam suatu jama’ah betapapun bersama penguasa, ketahuilah bahwa orang tersebut adalah pelaku Bid’ah.”

10.
Menisbatkan sesuatu makalah kepada makalah-makalah yang keluar dari Sunnah (seperti Qodariyyah, Jahmiyyah, Murji’ah, Raafidhoh, dll)

Qodariyah
adalah golongan yang mengaku dirinya muslim, umat Muhammad صلى الله عليه وسلم, tetapi keyakinan mereka rusak. Karena mereka meyakini bahwa di dunia ini mereka lah yang berwenang mengatur diri mereka sendiri, tanpa ada campur tangan dari Allooh سبحانه وتعالى.
Murji’ah adalah golongan orang yang menganggap bahwa amalan itu boleh dikebelakangkan, kata mereka “yang penting kan hatinya…”. Dan yang seperti ini adalah banyak di masyarakat kita. Kalau melihat kemunkaran, mereka membiarkannya saja, tidak mau melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kata mereka, “Nafsi-nafsi saja lah…”, “Urusan dia adalah urusan dia, kita tidak perlu ribut...”, dan yang senada dengan perkataan-perkataan tersebut.
Padahal sebagaimana kita tahu bahwa kemunkaran itu sudah semestinya diubah.

Shohabat Abu Sa’id Al Khudry رضي الله عنه berkata bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda,
« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ »
Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaknya ia merubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tidak mampu pula maka dengan hatinya; dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (Hadits Riwayat Imaam Muslim no: 186 dari Abu Sa’iid Al Khudry رضي الله عنه)

Kapan kemunkaran itu akan hilang jika kita tidak mau melakukan tindakan konkrit untuk mengubah kemunkaran tersebut.

Jadi Murji’ah adalah orang yang mengatakan bahwa Iman itu cukup didalam hati saja, bukan dengan lisan dan bukan pula dengan perbuatan. Dan pendapat mereka ini keliru.

Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah senantiasa memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar (amar ma’ruf nahi munkar). Sebagaimana Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Ali ‘Imroon (3) ayat 110:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْراً لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allooh. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq.”

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan dakwah dengan cara yang lembut, baik berupa perintah maupun larangan; dan menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nahl (16) ayat 125:
ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Artinya:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…”

Dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mendahulukan wajibnya bersabar atas semua gangguan manusia dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana yang Allooh سبحانه وتعالى firmankan dalam QS. Luqman (31) ayat 17:
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“… Suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allooh).”

11.
Berwala’ kepada pernyataan yang mereka yakini

Imaam Ibnul Qayyim Al Jauziah
رحمه الله mengatakan dalam kitabnya Mukhtashor Ashowaa’iqil  Mursalah : “Ahlul Bid’ah itu loyalitasnya, permusuhannya dibangun diatas pernyataan yang mereka yakini.”
Dengan kata lain bahwa pernyataannya adalah subyektif, bukan berdasarkan dalil, melainkan berdasarkan pemahaman diri mereka sendiri. Dan yang seperti ini adalah tidak benar, dan yang demikian adalah ciri Ahlul Bid’ah.
Sementara Ahlus Sunnah Wal Jama’ah menerima, mengambil dalil dan mengikuti (ittiba’) terhadap dalil yang datang dari Kitabullooh (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya صلى الله عليه وسلم yang shohiih baik secara dzahir maupun bathin, serta berserah diri (tasliim) kepada Sunnah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. Al Ahzaab (33) ayat 36:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْراً أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً مُّبِيناً
Artinya:
Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allooh dan Rosuul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allooh dan Rosuul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.”

Juga Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS. An Nisaa’ (4) ayat 59:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allooh dan ta’atilah Rosuul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allooh (Al Qur’an) dan Rosuul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allooh dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم bersabda,
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ
Aku tinggalkan dua perkara, kamu tidak akan tersesat selama kamu berpegang teguh pada keduanya, yaitu: ‘Kitabullooh’ dan ‘Sunnah Rosuul-Nya’.” (Hadits Riwayat Imaam Maalik dalam kitab Al Muwaththo’ no: 3338, dihasankan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany dalam Misykaatil Mashoobiih)

Jadi Al Qur’an itu bergandengan dengan As Sunnah, karena Allooh سبحانه وتعالى mewajibkan semua hamba-Nya untuk taat kepada Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم, dan As Sunnah menjelaskan makna yang dikehendaki oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam Kitabullooh (Al Qur’an) tersebut.

Setelah itu, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengikuti apa yang ditempuh oleh para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dari kalangan Muhajirin dan Anshor secara umum dan Khulafaa Ar Roosyidiin secara khususnya. Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم telah mewasiatkan kepada ummatnya agar mengikuti para Khulafaa Ar Roosyidiin lalu mengikuti generasi berikutnya, yakni tiga generasi pertama yang dimuliakan (Shohabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in). Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ
Hendaklah kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah para Khulafaa Ar Roosyidiin yang telah mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah padanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan hati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru (dalam urusan dien), karena sesungguhnya segala sesuatu yang baru (dalam urusan dien) adalah Bid’ah dan segala yang Bid’ah adalah sesat.” (Hadits Riwayat Imaam Abu Daawud no: 4609, dari Al ‘Irbaadh bin Saariyah رضي الله عنه, dishohiihkan oleh Syaikh Al Albaany)

Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merujuk pada pemahaman para shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Dan menurut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tidak ada sesuatu  apa pun dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohiih itu dipertentangkan dengan qiyas (analogi), perasaan, kasyaf (penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghoib), pendapat syaikh (guru, kyai, Ustadz) maupun imam; karena Dienul Islam telah sempurna semasa hidup Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Allooh سبحانه وتعالى berfirman dalam QS Al Maa’idah (5) ayat 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِيناً…
Artinya:
“…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…”

Jadi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mendahulukan ucapan seseorang atas Kalamullooh (Al Qur’an) dan sabda Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم (As Sunnah). Karena mendahului Allooh سبحانه وتعالى dan Rosuul-Nya  صلى الله عليه وسلم adalah termasuk mengatakan atas nama Allooh  سبحانه وتعالى tanpa didasari oleh ‘Ilmu, dan itu adalah tipuan syaithoon.

Perhatikan peringatan Allooh سبحانه وتعالى dalam QS Al Hujuroot (49) ayat 1:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allooh dan Rosuul -Nya dan bertakwalah kepada Allooh. Sesungguhnya Allooh Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Sesudahnya, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah merujuk kepada Ijma’ ulama yang mu’tabar dan bertumpu padanya, karena Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم bersabda:
لا يجمع الله أمتي على ضلالة أبدا و يد الله على الجماعة هكذا فاتبعوا السواد الأعظم فإنه من شذ شذ في النار
Sesungguhnya Allooh tidak mengumpulkan ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allooh diatas jama’ah. Barangsiapa yang menyimpang, maka ia akan menyendiri dalam Neraka.” (Hadits Riwayat Imaam Al Bukhoory no: 396 dan Imaam At Turmudzy, dari Ibnu ‘Umar, dishohiihkan oleh Syaikh Nashiruddin Al Albaany)

12.
Mendustakan terhadap kebenaran, dan mengkafirkan manusia dan jika ditegakkan kepada mereka hujjah baik itu dari Al Qur’an maupun As Sunnah, maka mereka justru kembali kepada mengisolasi Sunnah dan menghukum orang-orang yang berpegang kepada Sunnah jikalau mereka itu berkuasa.

Hal ini sebagaimana tercantum dalam QS. Al Isroo’ (17) ayat 46:
وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْراً وَإِذَا ذَكَرْتَ رَبَّكَ فِي الْقُرْآنِ وَحْدَهُ وَلَّوْاْ عَلَى أَدْبَارِهِمْ نُفُوراً
Artinya:
“… dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Qur’an, niscaya mereka berpaling ke belakang karena bencinya.”

Maka jika di masyarakat terdapat arogansi seperti itu, tidak memberikan kebebasan kepada orang-orang yang jelas-jelas mempunyai argumentasi dari firman Allooh سبحانه وتعالى dan Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, maka itu adalah identitas dari Ahlul Bid’ah.

13.
Mengambil Sunnah hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka.
Seperti terdapat dalam QS. Az Zumar ayat 45:
وَإِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِن دُونِهِ إِذَا هُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
Artinya:
Dan apabila hanya nama Allooh saja disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allooh yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.”
Jadi diantara ciri-ciri Ahlul Bid’ah adalah mengambil Sunnah hanya yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, baik yang shohiih maupun yang dho’iif. Kata mereka, biarpun dho’iif, tetapi itu kan Hadits. Itu termasuk ciri-ciri Ahlul Bid’ah. Dan mereka meninggalkan hadits-hadits yang shohiih karena tidak sesuai dengan selera mereka.

14.
Meninggalkan apa yang terdapat dalam nash terhadap pernyataan orang.

Padahal, yang seharusnya dijadikan dalil adalah nash Al Qur’an maupun Sunnah, tetapi Ahlul Bid’ah ini justru menjadikan pernyataan/ perkataan orang sebagai dalil.

Berbeda dengan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang mempunyai pemahaman bahwa: Perkataan orang, siapa pun dia, tidak bisa dijadikan dalil, kalau ia bukan dari Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.
Imaam Maalik رحمه الله menyatakan:
كل يؤخذ من قوله ويرد إلا صاحب هذا القبر . وأشار إلى قبر النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Artinya:
Setiap perkataan boleh diambil dan boleh ditolak kecuali jika berasal dari yang ada dalam kuburan ini.” Sembari beliau mengisyaratkan pada kuburan Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Jadi, setiap orang boleh kita ambil perkataannya dan boleh kita tolak, tidak ada hak untuk memaksa seseorang mengambil apa yang ia katakan; asal saja itu bukan Hadits atau Sabda Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم yang shohiih.
Kalau sudah jelas itu bersumber dari Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم, maka tidak boleh ada orang yang memilah dan memilih. Harus diambil, karena itu adalah Wahyu dan Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم. Kalau meninggalkannya berarti ingkar terhadap Sunnah Rosuulullooh  صلى الله عليه وسلم.

Ibnu Qoyyim al Jauziyah
رحمه الله mengatakan dalam kitabnya: “Ahlul Bid’ah meninggalkan nash-nash Al Qur’an dan Sunnah, hanya sekedar untuk menjadikan perkataan orang sebagai dalil dan argumen, kemudian Al Qur’an dan As Sunnah dikebelakangkan.”

15.
Menolak Sunnah, membenturkan Sunnah kepada pernyataan dan pendapat orang.

Ciri-ciri Ahlul Bid’ah adalah menolak Sunnah dan membenturkan Sunnah dengan pernyataan dan pendapat orang. Kalau sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka terima. Dan jika tidak sesuai dengan pendapat mereka, maka mereka tolak. Penolakan itu adalah dengan meninggalkannya atau dengan cara men-ta’wil-kan Al Qur’an dan Sunnah tersebut.

Penyimpangan dalam aqidah bisa muncul dari berbagai hal, sehingga muncullah paham Mu’tazilah, yang mendahulukan akal daripada Wahyu (Al Qur’an dan Sunnah).

Demikian pula dengan orang Sufi, yang mendahulukan mimpi dan rasa daripada Wahyu (Al Qur’an dan Sunnah). Sehingga sebagai contoh, pernah muncul beberapa tahun yang lalu dengan apa yang disebut “Auraad Muhammadiyah”. Yang mengalami mimpi adalah Ashari Muhammad, tokoh Al Arqom di Malaysia. Menurut mereka, membaca dan mewiridkan Auraad adalah bagian dari ibadah. Dan itu bukanlah dalil, karena hanya berasal dari mimpi.
Juga dalam masyarakat yang sangat yakin dengan kata-kata kyai / ajeungan. Menurut mereka, tidak mungkin ajeungan itu salah. Mereka menganggap ajeungan itu ma’shum dan Al Qur’an maupun Sunnah mereka kebelakangkan. Sesungguhnya pemahaman mereka itu keliru dan sesat, dan mereka telah menyimpang dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Sementara, Ahlu Sunnah Wal Jama’ah tidak meyakini adanya orang yang ma’shum (terjaga dari dosa dan kesalahan) selain Rosuulullooh  لى الله عليه وسلم, dan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah berpendapat bahwa seseorang itu boleh ber-ijtihad dalam permasalahan yang tersembunyi (samar) sebatas kebutuhan darurot. Meskipun demikian, Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidaklah fanatik terhadap pendapat seseorang, sehingga pendapat tersebut berkesesuaian dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka berkeyakinan bahwa setiap mujtahid bisa benar dan bisa salah. Jika benar maka baginya dua pahala yaitu pahala ijtihad dan pahala kebenaran ijtihad-nya. Dan jika salah, maka baginya satu pahala yakni pahala ijtihad-nya saja. Sehingga hal ini tidak mengharuskan terjadinya permusuhan dan saling menjauhi, akan tetapi satu sama lain saling mencintai, walaupun ada perbedaan diantara mereka pada sebagian permasalahan Furu’ (cabang, dan bukan pada masalah yang Pokok). Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak mewajibkan seseorang dari kaum Muslimin untuk taklid pada madzhab fiqih tertentu, namun tidaklah mengapa jika atas dasar ittiba’ (mengikuti) dalil yang Syar’i. Karena itu, setiap muslim hendaknya berpindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain karena mengikuti dalil yang kuat. Karena, bagi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang mereka ikuti itu sebenarnya adalah dalilnya (yang datang dari Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم) dan bukan madzhab-nya.

16.
Ahlul Bid’ah mengajak dan menyeru untuk menjadikan pendapat orang dan apa yang masuk kedalam akal mereka sebagai pemutus perkara.

Kalau ada orang yang mengatakan bahwa akal dan pendapat mereka layak menjadi pemutus perkara atas problem atau permasalahan di muka bumi ini; maka ketahuilah bahwa mereka bukanlah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, melainkan Ahlul Bid’ah.

Ahlus Sunnah Wal Jama’ah selalu mengatakan bahwa yang disebut dalil adalah Al Qur’an dan As Sunnah. Kalau bukan berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah maka bukanlah dali. Lalu bagaimana dengan Qiyas? Qiyas adalah juga dalil, tetapi pada urutan ke-empat; dan itu pun dalam masalah tertentu (masalah Khilaafiyah / Furu’ / cabang) dan bukan dalam masalah Pokok (‘Aqidah). Tidak ada Qiyas dalam urusan ‘Aqidah. Sedangkan dalil urutan ke-tiga adalah Ijma’ ush Shohaabah (Ijma’ Shohabat). Ada dalil yang mendukungnya seperti misalnya: Al Aql, Al His dan Al fitroh. Dan ketiganya merupakan pendukung saj, dalam arti: Jika ia memperkuat dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka pembuktian penguatannya diterima. Tetapi, jika tidak memperkuat dalil Al Qur’an dan As Sunnah, maka tidak diterima karena bertentangan dengan dalil.

17.
Ahlul Bid’ah lari dari da’wah yang menyeru pada Sunnah

Kalau mereka disuruh kepada Sunnah, maka mereka enggan dan lari daripadanya. Hal ini sudah dijelaskan dalam QS. Al Isroo’ ayat 46 dan QS. Az Zumar ayat 45, sebagaimana telah dibahas pada poin 12 dan 13 diatas.
18. Mereka mengatakan perkataan-perkataan yang Bid’ah, yang tidak pernah Allooh سبحانه وتعالى turunkan.

Mereka mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى tidak mempunyai nama dan tidak mempunyai sifat. Jelas ini adalah Bid’ah.

Ada pula sebagian orang yang berkata-kata seperti ini: “..Mungkin Tuhan mulai bosan..”, maka itu adalah kata-kata Bid’ah. Tuhan dalam kata-kata itu maksudnya siapa? Kalau Tuhan adalah Allooh سبحانه وتعالى, berarti mengatakan bahwa Allooh سبحانه وتعالى bosan, dan bosan itu adalah negatif. Mustahil Allooh سبحانه وتعالى mempunyai sifat bosan.

Lalu mereka juga mengatakan, “Pendengaran Allooh sama dengan pendengaran kita,” jelas ini adalah pernyataan yang keliru, karena bertentangan dengan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Asy Syuroo (42) ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya:
“…Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…”
Pernyataan-pernyataan yang menyimpang itu disebabkan oleh kejahilan mereka, dan yang seperti itu adalah tidak boleh. Hal ini telah dibahas dalam Tauhid Al Asma Wash Shifaat.

19.
Perpecahan dan Perselisihan

Diantara ciri Ahlul Bid’ah adalah Perpecahan dan Perselisihan. Jadi kalau banyak muncul perpecahan dan perselisihan, maka bisa jadi bukan lah tergolong Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, tetapi masih Ahlul Bid’ah.
Perhatikan pernyataan Al Imaam Abul Qoosim Al Assahaany رحمه الله yang dinukil dari kitab beliau : “Adapun jika engkau perhatikan Ahlul Hawa dan Ahlul Bid’ah, maka akan engkau dapati mereka berpecah-belah, berselisih, berkelompok-kelompok, ber-hism (bergolongan/ berpartai) sehingga hampir-hampir saja engkau tidak temui ada dua orang dimana dua orang itu berjalan diatas satu jalan, baik itu dalam masalah Aqidah maupun dalam masalah lainnya. Justru satu sama lain saling mem-Bid’ahkan, bahkan sampai mengkafirkan satu sama lainnya. Engkau lihat mereka selamanya dalam keadaan perselisihan, kebencian, perpecahan dan habis umur mereka dalam keadaan tidak bersatu. Karena mereka bukanlah kaum yang berakal.”

Demikianlah tanda-tanda dan ciri-ciri serta karakter-karakter dari Ahlul Bid’ah, mudah-mudahan kita bisa mengetahuinya dan kita bisa mewaspadai; karena mereka bukannya mendekat kepada Sunnah, melainkan menjauhi Sunnah Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم.

Dikutip dari artikel: Tanda-Tanda Ahlul Bid'ah
Penulis:ust. Achmad Rofi'i Lc
Sumber url: ustadzrofii.wordpress.com