Showing posts with label Manhaj. Show all posts
Showing posts with label Manhaj. Show all posts

Friday, March 2, 2012

Batasan Dalam Istilah Salaf

A. Makna Salaf
 
Kata Salaf sering diucapkan. Maksudnya adalah generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in (generasi pasca sahabat) yang berada di atas fitrah (dien/agama) yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah. Mereka menyandarkan aqidah kepada Alqur’an dan Assunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai dengan pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat tersebut merusak kaum muslimin. Untuk mengetahui batasan Salaf, maka kita harus mengetahui batasan jaman dan manhaj mereka.
 
B. Batasan Jaman
 
Adapun batasan jaman mereka adalah 3 generasi yang pertama yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam. Untuk keutamaan mereka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,
 
"Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku (para Sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)" (Hadits Riwayat Imam Bukhary dalam Shahihnya)
 
Demikian itu dikarenakan segala kebaikan yang ada pada diri mereka, dan di masa mereka kelompok-kelompok sesat belum menampakkan permusuhan dan belum menguasai kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sesudah mereka tiada. Berarti yang dimaksud Salaf menurut tinjauan sejarah adalah para sahabat Nabi, kemudian tabi’in, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka secara kebaikan (tabi’ut tabi’in). 
 
C. Batasan Manhaji
 
Adapun batasan manhaji adalah orang-orang yang konsisten memegang prinsip-prinsip Al Qur’an dan As Sunnah, mengutamakan prinsip tersebut di atas prinsip-prinsip akal manusia dan mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada keduanya, berdasarkan firman Allah Subhanahu Wata’ala,
 
"Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur’an) dan Rasulullah (Assunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya"(An Nisa:59)
 
Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh mereka (Ahlus Sunnah). Karena kelompok-kelompok yang menyelisihi mereka dengan berbagai macam bentuknya adalah tidak konsisten di atas manhaj (jalan) ini. Kelompok yang lain menolak sebagian hadits-hadits, walaupun hadits tersebut shahih dan mentakwilkan ayat-ayat yang sudah jelas dengan menyangka bahwa semuanya bertentangan dengan akal sebagaimana terjadi pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Sebab tidak ada yang menetapkan secara lahiriyah dan menafikan tasybih (penyerupaan kepada makhluknya) kecuali ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka.
 
"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar"(At taubah:100)
 
Orang-orang yang telah dijelaskan dalam ayat tersebut dengan sifat-sifatnya adalah Salafus Shalih. Adapun orang-orang (generasi) setelahnya dan menempuh jalan yang ditempuh mereka maka dinisbahkan kepada mereka dengan huruf "ya", nisbahnya menjadi Salafy. Adapun orang-orang yang datang setelahnya dan tidak mengikuti jalan mereka, mereka adalah khalaf dan mereka bangga dengan keadaan yang demikian itu. Mereka memisahkan jalan mereka sendiri dari jalan Salaf, khususnya dalam hal menetapkan Sifat-sifat Allah. Bukti nyatanya yang demikian itu ada dalam makalah-makalah mereka yang menyatakan jalan Salaf adalah selamat dan jalan khalaf adalah lebih berilmu dan lebih lurus. Makalah ini serta kebatilannya sangat mahsyur (terkenal). Dan juga dibawakannya makalah ini sebagai bukti pengakuan orang-orag khalaf bahwa mereka bukan di atas jalan Salaf, dan bahwasanya jalannya Khalaf lebih berilmu dan lebih lurus.
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membatalkan ungkapan ini dan menetapkan bahwa jalan Salaf adalah menghimpun segala sifat-sifat yang baik. Maka dari itu, JALAN MEREKA (SALAFUS SHALIH) adalah LEBIH SELAMAT, ILMIYAH, DAN LURUS.  

Ditulis oleh: Syaikh Muhammad Bin Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali
 
Dinukil dari kitab "Adwa’un ‘ala Kutubis Salafi fil-Aqidati"
Judul Indonesia "Berkenalan Dengan Salaf"
Penerbit Maktabah Salafy Press
Sumber: ghuroba.blogsome.com

Thursday, March 1, 2012

Mereka Tidak Bisa Membedakan Antara Salafi dan Teroris

BENARKAH MEREKA TIDAK BISA MEMBEDAKAN ANTARA SALAFI DAN TERORIS DI ERA KETERBUKAAN INFORMASI INI

[SEBUAH JAWABAN SINGKAT UNTUK BPK. AGUS MAFTUH ABEGEBRIEL , PROF. SAID AGIL SIROJ (Ketua NU berpaham SYI’AH), SYAIKH IDAHRAM dan METRO TV]

Allah tabaraka wa ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا


“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)” [Al-An’am: 112]

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dan perkataan Allah Ta’ala, “Mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)”, maknanya adalah mereka mengatakan kepada yang lainnya ucapan yang dihiasi (dengan kata-kata yang menipu), sehingga membuat orang bodoh yang mendengarnya tertipu.” [Tafsir Ibnu Katsir, 3/321]

Memperburuk citra Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafiyin di mata ummat dan mengait-ngaitkan dengan aksi Terorisme, sebetulnya bukan baru sekarang ini dilakukan oleh orang-orang yang terusik dengan semakin tersebarnya dakwah kepada tauhid dan sunnah. Berbagai cara mereka lakukan untuk menjatuhkan dakwah yang mulia ini, tidak peduli walau harus berdusta, baik secara terang-terangan maupun dengan cara halus.

Secara terang-terangan seperti yang dilakukan oleh Syaikh Idahram dan didukung penuh oleh Prof. Said Agil Siraj [Ketua NU berpaham SYI’AH] baik dalam pernyataan-pernyataannya maupun dalam buku “Sejarah Berdarah,” yaitu tuduhan dusta mereka bahwa Salafi terkait dengan aksi-aksi Terorisme.

Adapun secara halus, yaitu tidak tegas menuduh Salafi terkait Terorisme namun dengan ucapan-ucapan yang mengarah ke sana, adalah seperti yang dilakukan Bpk. Agus Maftuh Abegebriel –hadaahullah- dalam “Bom Waktu dari Yaman” di Metro TV, sehingga pada akhirnya Metro TV dalam Metro Realitasnya benar-benar menuduh Darul Hadits, lembaga pendidikan Ahlus Sunnah Salafiyin di Yaman terkait Terorisme.

سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ


“Maha Suci Engkau (Ya Rabb kami), ini adalah dusta yang besar.” [An-Nur: 16]

Dan lebih parah lagi, sangat tampak alasan tuduhan mereka terlalu dipaksakan, yaitu adanya para santri Darul Hadits yang terpaksa memanggul senjata untuk menjaga keselamatan diri-diri mereka dan kaum muslimin dari serangan pemberontak Syi’ah Hutsi. Bersamaan dengan itu, ketika kaum Syi’ah membantai para santri Darul Hadits hampir-hampir tidak pernah terdengar suara pembelaan mereka.

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا


“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [Al-Ahzab: 58]

Muncul tanda tanya besar, benarkah mereka tidak bisa membedakan antara Salafi dan Teroris?

Ataukah mereka sebenarnya sudah tahu perbedaan tersebut namun sengaja ingin menggiring opini yang salah terhadap Salafi?

Kenapa perlu dipertanyakan? Sebab di era keterbukaan informasi seperti ini tentunya tidak sulit bagi orang-orang awam sekalipun untuk membedakan antara Salafi dan Teroris.

Alhamdulillah dengan mudah sekali dapat ditemukan di dunia maya: PERINGATAN-PERINGATAN KERAS yang disampaikan oleh Salafi terhadap penyimpangan para Teroris, terutama yang mengatasnamakan JIHAD dalam aksi-aksi teror mereka. Bahkan sepanjang yang kami ketahui, tidak ada yang lebih keras membantah dan menerangkan penyimpangan Teroris melebihi Ahlus Sunnah wal Jama’ah Salafiyin. Walhamdulillah sejak lama kami pribadi telah menulis tema ini dalam blog pribadi, seperti dalam beberapa link berikut:

http://nasihatonline.wordpress.com/2010/07/03/105/ [Nasihat Kepada Teroris: Ketahuilah, Jihad Beda dengan Terorisme!!!]

http://nasihatonline.wordpress.com/2010/08/23/perang-terhadap-teroris-khawarij-bukan-perang-terhadap-islam/ [PERANG TERHADAP TERORIS KHAWARIJ BUKAN PERANG TERHADAP ISLAM]

http://nasihatonline.wordpress.com/2010/09/23/perang-terhadap-teroris-khawarij-adalah-kewajiban-pemerintah-muslim/ [PERANG TERHADAP TERORIS KHAWARIJ ADALAH KEWAJIBAN PEMERINTAH MUSLIM]

Bahkan terdapat web Salafi secara khusus membantah Terorisme: http://jihadbukankenistaan.com/

Demikian pula telah ditulis sejumlah buku oleh Asatidzah Salafiyin untuk membantah penyimpangan Teroris diantaranya:

1. “Mereka Adalah Teroris” karya Al-Ustadz Luqman Ba’abduh hafizhahullah, ditulis untuk membantah buku “Aku ‘Memang’ Teroris” karya Imam Samudera, dan buku ini mendapat reaksi keras, baik dari para teroris dan pendukungnya, maupun dari orang-orang yang simpati dengan sebagian prinsip-prinsip teroris seperti penulis buku “Siapa Teroris? Siapa Khawarij? seorang alumni Mesir yang kagum dengan tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin/PKS.

2. Antara Terorisme dan Jihad karya Al-Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah.

Apakah semua ini tidak diketahui oleh para penuduh tersebut ataukah pura-pura tidak tahu!?

إن كنت لا تدري فتلك مصيبة ... وإن كنت تدري فالمصيبة أعظم

“Jika engkau tidak tahu maka itu musibah, namun jika engkau sudah tahu maka musibahnya lebih besar.”

Bukankah adanya bantahan-bantahan terhadap terorisme menunjukkan jauhnya Salafi dari keterkaitan dengan aksi-aksi terorisme?

Tidakkah mereka tahu fakta ini ataukah sebenarnya mereka telah tahu namun sengaja menyembunyikannya disebabkan ketidaksukaan dan kekhawatiran mereka terhadap meluasnya penyebaran dakwah salafiyah dan tegasnya dakwah ini dalam memberantas syirik dan bid’ah?

وعين الرضا عن كل عيب كليلة ... ولكن عين السخط تبدي المساويا


“Pandangan simpati menutupi segala cela, Pandangan benci menampakkan segala cacat.”

Namun alhamdulillah Pemerintah RI secara umum dan Densus 88 secara khusus insya Allah telah dapat membedakan mana Salafi dan mana Teroris. Maka sangat aneh kalau orang-orang media tidak dapat membedakan antara putih dan hitam.

فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” [Al-Hajj: 46]

Inilah “Sebuah Jawaban Singkat” kami, insya Allah jika ada kelapangan waktu akan kami tulis “Sebuah Jawaban Panjang” yang lebih rinci.

Sunday, February 26, 2012

Metode Yang Benar Dalam Memahami Islam

Metode Yang Benar Dalam Memahami Islam
Adalah suatu fenomena yang kita saksikan dan tidak bisa dipungkiri bahwasanya ummat Islam sudah terpecah belah menjadi beberapa golongan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri mengabarkan bahwasanya ummatnya akan terpecah menjadi 73 golongan (dan ini sudah terjadi), semuanya masuk neraka kecuali satu golongan yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para shahabatnya.

Akan tetapi, ketika ditanyakan kepada golongan-golongan tersebut, mereka menjawab bahwasanya mereka berpegang teguh kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah bahkan masing-masing golongan menyatakan golongannyalah yang benar sedangkan yang lainnya salah/sesat, bersamaan dengan itu kita ketahui dan saksikan bahwa golongan-golongan tersebut satu sama lainnya saling bertentangan, bermusuhan bercerai-berai dan tidak berada dalam satu manhaj yang menyatukan mereka. Hal ini seperti dikatakan di dalam sya'ir: "Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila akan tetapi Laila tidak mengakuinya

Untuk itu satu hal yang pasti bagi kita bahwasanya kebenaran itu hanya satu dan tidak berbilang yaitu golongan yang benar dan selamat hanya satu yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah dan para shahabatnya (salaf) sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah dalam haditsnya yang mutawatir. Dengan kata lain golongan yang selamat tersebut adalah orang-orang yang memahami dinul Islam dengan pemahaman salafush shalih (manhaj salaf).

Sedangkan manhaj salaf adalah suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tabi'in dan tabi'ut tabi'in di dalam memahami dinul Islam yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut Salafy atau As-Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As-Salafiyyun.

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata: "As-Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf." (Siyar A'lamin Nubala` 6/21).

Kemudian di sini akan dikemukakan sebagian dalil-dalil yang menyatakan bahwa manhaj yang benar dalam memahami agama adalah manhaj salaf serta kewajiban bagi kita untuk mengikuti manhaj tersebut, yaitu:

1. Firman Allah subhanahu wa ta'ala :"Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat." (Al-Fatihah:6-7).

Al-Imam Ibnul Qayyim berkata: "Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan berusaha untuk mengikutinya?, maka setiap orang yang lebih mengetahui kebenaran serta lebih konsisten dalam mengikutinya, tentu ia lebih berhak untuk berada di atas jalan yang lurus. Dan tidak diragukan lagi bahwa para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka adalah orang-orang yang lebih berhak untuk menyandang sifat (gelar) ini daripada orang-orang Rafidhah (Syi'ah)." (Madarijus Salikin 1/72).

Hal ini menunjukkan bahwa manhaj yang mereka tempuh dalam memahami agama ini adalah manhaj yang benar dan di atas jalan yang lurus, sehingga orang-orang yang berusaha mengikuti manhaj dan jejak mereka, berarti telah menempuh manhaj yang benar dan berada di atas jalan yang lurus pula.

2. "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian." (Al-Baqarah:143).

Allah telah menjadikan mereka orang-orang pilihan lagi adil, mereka adalah sebaik-baik ummat, paling adil dalam perkataan, perbuatan serta keinginan mereka, karena itu mereka berhak untuk menjadi saksi atas sekalian manusia, Allah mengangkat derajat mereka, memuji mereka serta menerima mereka dengan penerimaan yang baik.
Dengan ini jelaslah bahwasanya pemahaman para shahabat merupakan hujjah atas generasi setelah mereka dalam menjelaskan nash-nash Al-Qur`an dan As-Sunnah.

3. "Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Ali 'Imran:101).

Para shahabat adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada agama Allah, karena Allah adalah pelindung bagi siapa saja yang berpegang teguh kepada (agama)-Nya sebagaimana firman Allah: "Dan berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia adalah pelindung kalian maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (Al-Hajj:78).
Dan telah dimaklumi bahwasanya perlindungan dan pertolongan Allah kepada para shahabat sangat sempurna, hal tersebut menunjukkan bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, mereka adalah orang-orang yang memberi petunjuk dengan persaksian dari Allah.

4. "Kalian adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah." (Ali 'Imran:110).
Allah telah menetapkan atas mereka keutamaan atas sekalian ummat, hal tersebut karena keistiqamahan mereka pada segala hal, karena mereka tidak akan melenceng dari jalan yang lurus, Allah telah bersaksi atas mereka bahwasanya mereka menyuruh kepada setiap yang ma'ruf, mencegah dari setiap kemunkaran, berdasarkan hal tersebut merupakan suatu keharusan bahwasanya pemahaman mereka merupakan hujjah bagi generasi setelahnya hingga Allah menetapkan putusannya.

5. "Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (An-Nisa`:115).
Berkata Al-Imam Ibnu Abi Jamrah Al-Andalusi: "Para 'ulama telah menjelaskan tentang makna firman Allah (di atas): Sesungguhnya yang dimaksud dengan orang-orang mukmin di sini adalah para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan generasi pertama dari ummat ini,?." (Al-Mirqat Fi Nahjissalaf Sabilun Najah hal. 36-37).
Syaikhul Islam berkata: "Dan sungguh keduanya (menentang Rasul dan mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin-red) adalah saling terkait, maka siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran, pasti ia telah mengikuti selain jalan orang-orang mukmin. Dan siapa saja yang mengikuti selain jalan orang-orang mukmin maka ia telah menentang Rasul sesudah jelas baginya kebenaran." (Majmu' Fatawa 7/38).

Maksud ayat tersebut, bahwasanya Allah mengancam siapa saja yang mengikuti selain jalannya orang-orang mukmin (dengan neraka Jahannam), maka jelaslah bahwasanya mengikuti jalannya para shahabat dalam memahami syari'at Allah wajib hukumnya, sedangkan menyalahinya merupakan suatu kesesatan.

6. "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah:100).

Makna dalil tersebut, bahwasanya Tuhan manusia memuji orang-orang yang mengikuti manusia terbaik, maka diketahui dari hal tersebut bahwasanya jika mereka mengatakan suatu pandangan kemudian diikuti oleh pengikutnya pantaslah pengikut tersebut untuk mendapatkan pujian dan ia berhak mendapatkan keridhaan, jika sekiranya mengikuti mereka tidak membedakan dengan selain mereka maka tidak pantas pujian dan keridhaan tersebut.

7. "Dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-Furqan:74).
Maka orang-orang bertaqwa secara keseluruhan berimam kepada mereka. Adapun taqwa merupakan kewajiban, di mana Allah dengan gamblang menyebutkannya dalam banyak ayat. Tidak memungkinkan untuk menyebutkannya di sini, maka jelaslah bahwa berimam kepada mereka wajib, adapun berpaling dari jalan mereka akan menyebabkan fitnah dan bencana.

8. "Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku." (Luqman:15).
Seluruh shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang yang kembali kepada Allah, maka Allah memberikan hidayah kepada mereka dengan perkataan yang baik, serta berbuat amal shalih.
Maka merupakan suatu kewajiban untuk mengikuti manhaj para shahabat dalam memahami agama Allah baik yang ada dalam Al-Qur`an ataupun As-Sunnah.

9. "Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka bersabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah:24).
Sifat-sifat yang disebutkan pada ayat tersebut di atas adalah berkenaan dengan sifat-sifat para shahabat Nabi Musa 'alaihis salam, Allah mengabarkan bahwasanya Dia menjadikan mereka sebagai imam yang diikuti oleh orang-orang sesudah mereka karena kesabaran dan keyakinan mereka, jika demikian kesabaran dan keyakinan merupakan jalan untuk menjadi Imam (pemimpin) dalam agama.

Dan sangat dimaklumi bahwasanya shahabat-shahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam lebih berhak dengan sifat-sifat tersebut daripada ummat Nabi Musa, mereka lebih sempurna keyakinan dan kesabaran dari segenap ummat, maka mereka lebih berhak untuk menjadi imam dan ini merupakan hal yang paten berdasarkan persaksian dari Allah dan pujian Rasulullah atas mereka.

Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah adalah sebagai berikut:

1. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah (generasi) pada zamanku, kemudian setelah mereka, kemudian generasi berikutnya." (HR. Al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu).
Allah telah melihat hati-hati para shahabat Rasulullah di mana Dia mendapatkannya sebaik-baik hati para hamba setelah hati Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Dia memberikan kepada mereka pemahaman yang tidak dapat dijangkau oleh generasi berikutnya, karena itulah apa yang dalam pandangan shahabat merupakan suatu kebaikan demikian pula dalam pandangan Allah dan apa yang dalam pandangan shahabat jelek, jelek pula dalam pandangan Allah.

2. Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu berkata: "Kami melaksanakan shalat maghrib bersama Rasulullah, lalu kami berkata: "Sekiranya kita tetap di sini hingga kita melaksanakan shalat 'isya bersama beliau", kemudian kami duduk, lalu beliau mendatangi kami seraya berkata: "Kalian masih tetap di sini?" kami berkata: "Ya Rasulullah, kami shalat bersama Engkau, kemudian kami berpendapat: kita duduk di sini hingga melaksanakan shalat 'isya bersama Engkau." Beliau berkata: "Ya". Abu Musa berkata: "Kemudian beliau mengangkat kepalanya ke langit dan beliau sering melakukan hal tersebut, lalu beliau bersabda: "Bintang-bintang adalah penjaga langit, jika bintang-bintang telah redup, diberikan kepada langit persoalannya dan Aku adalah penjaga bagi shahabat-shahabatku, jika aku telah tiada maka persoalan akan diserahkan kepada shahabat-shahabatku, dan shahabat-shahabatku adalah penjaga ummatku, jika shahabat-shahabatku telah tiada maka persoalan diserahkan kepada ummatku". (HR. Muslim).

3. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian mencela shahabat-shahabatku, demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian berinfaq dengan emas sebesar gunung uhud, tidak dapat menyamai (pahala) satu mud infaq mereka, tidak pula setengahnya." (Muttafaqun 'alaih).

4. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa` Ar-Rasyidin yang terbimbing, berpeganglah erat-erat dengannya dan gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham?" (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ad-Darimi dan lainnya dari Al-'Irbadh bin Sariyah, lihat Irwa`ul Ghalil no. 2455).

5. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Terus-menerus ada sekelompok kecil dari ummatku yang senantiasa tampil di atas kebenaran. Tidak akan memudharatkan mereka orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang keputusan Allah dan mereka dalam keadaan seperti itu." (Muttafaqun 'alaih dari Tsauban radhiyallahu 'anhu, dan ini adalah lafazh Muslim).

6. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "?Ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, semuanya masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Beliau ditanya: "Siapa dia wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "(golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku berada (di atasnya)." (HR. At-Tirmidzi dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash).

Sedangkan ucapan para 'ulama akan wajibnya berpegang dengan manhaj salaf adalah:
Al-Imam Al-Auza'i berkata: "Wajib bagimu untuk mengikuti jejak salaf walaupun orang-orang menolakmu dan hati-hatilah dari pemahaman/pendapat tokoh-tokoh itu walaupun mereka mengemasnya untukmu dengan kata-kata (yang indah)." (Asy-Syari'ah, Al-Ajurri hal. 63).

Al-Imam As-Sam'ani berkata: "Syi'ar Ahlus Sunnah adalah mengikuti manhaj as-salafush shalih dan meninggalkan segala yang diada-adakan (dalam agama)." (Al-Intishar li Ahlil Hadits, Muhammad bin 'Umar Bazmul hal. 88).

Al-Imam Al-Ashbahani berkata: "Barangsiapa menyelisihi shahabat dan tabi'in (salaf) maka ia sesat, walaupun banyak ilmunya." (Al-Hujjah fii Bayanil Mahajjah 2/437-438).

Al-Imam Asy-Syathibi berkata: "Segala apa yang menyelisihi manhaj salaf maka ia adalah kesesatan." (Al-Muwafaqat 3/284).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: "Tidak tercela bagi siapa saja yang menampakkan manhaj salaf, berintisab dan bersandar kepadanya, bahkan yang demikian itu disepakati wajib diterima, karena manhaj salaf pasti benar." (Majmu' Fatawa 4/155). Beliau juga berkata: "Bahkan syi'ar ahlul bid'ah adalah meninggalkan manhaj salaf." (Majmu' Fatawa 4/155).

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala senantiasa membimbing kita untuk mengikuti manhaj salaf di dalam memahami dinul Islam ini, mengamalkannya dan berteguh diri di atasnya, sehingga bertemu dengan-Nya dalam keadaan husnul khatimah. Amin Ya Rabbal 'Alamin. Wallahu a'lamu bish shawab.

Maraji':
1. Limadza Ikhtartu Manhaj Salaf, Asy-Syaikh Salim bin 'Id Al-Hilali;
2. Majalah Syari'ah ed. 04.


Sumber: darussalaf.or.id

Saturday, February 25, 2012

Mengenal Salafi dan Tokoh Mereka

Apa itu Salafiy dan siapa tokoh mereka?

Jawab: Salafiy adalah nisbah kepada salaf.

Salaf sendiri artinya adalah para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para pengikut mereka (tabi'in) dengan baik dari penghuni tiga kurun yang dimuliakan dan yang setelah mereka, inilah yang disebut dengan salafiy. Bernisbah kepadanya artinya bernisbah kepada apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan kepada jalan ahlul hadits.
Dan ahlil hadits adalah para pengikut manhaj salafiy yang berjalan di atasnya.

Maka salafiy adalah sebuah aqidah dalam masalah nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Juga sebuah aqidah dalam masalah qadr, aqidah dalam masalah sahabat, dan seterusnya. Maka para salaf beriman kepada Allah dan dengan nama-narna-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi yang Allah sendiri sifatkan diri-Nya dengannya dan yang disifatkan oleh Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Mereka (para salaf) beriman kepadaNya menurut bentuk yang sesuai dengan kemuliaan Allah tanpa melakukan tahrif (merubah kata hingga merubah makna), tamsil (memisalkan Allah dengan makhluk), tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), ta'thil (meniadakan sifat bagi Allah atau menyatakan Allah tidak memiliki sifat apapun) dan ta'wil (mengartikan dengan salah, seperti misal; tangan Allah diartikan kekuasaan Allah. Ini salah. TanganAllah diartikan juga dengan tangan Allah. Tapi tidak boleh menyerupakannya dengan tangan makhluk-red).

Mereka para salaf juga beriman kepada qadr baiknya dan buruknya. Dan tidak sempurna iman seseorang hingga dia beriman dengan qadr yang Allah taqdirkan atas para hamba-Nya. Allah berfirman: "Sesungguhnya segala sesuatu Kami ciptakan dengan qadrnya" (Al Qamar: 49)

Adapun dalam masalah sahabat, maknanya adalah beriman bahwa para sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam wajib kita ridho kepada mereka dan meyakini bahwa mereka adalah orang yang adil. Mereka adalah sebaik-baik ummat dan sebaik-baik kurun. Dan meyakini bahwa mereka semua baik. ini berbeda dengan keyakinan syi'ah dan khawarij yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak menghormati mereka.

Adapun dalam salafiy tidak ada tokoh selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah pemimpin kelompok ini dan panutan mereka. Dan juga para sahabat adalah panutan mereka. Dasar hal ini adalah sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

"Telah terpecah orang-orang yahudi menjadi tujuhpuluh satu golongan dan terpecah orang nashara menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan akan terpecah ummatku menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya dalam neraka, kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: Siapakah mereka, wahai Rasulullah? Beliau berkata: Mereka adalah orang yang berdiri diatas apa yang aku dan para sahabatku berdiri diatasnya." (HR Abu Daud and dishahihkan syaikh Al Albani dalam shohih Sunan Abu Daud 3/115)
Dan juga beliau besabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu yang menerangkan tentang khuthbah beliau yang padanya beliau berwasiat untuk bertaqwa kepada Allah, maka beliau berkata: "Aku wasiatkan kaitan untuk bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, walau yang memimpin kalian adalah budak dar-i Habsyi." Kemudian beliau menyuruh untuk berittiba' kepada sunnahnya dan sunnah para khatifahnya yang rasyid dan mendapat hidayah. Beliau katakan: "Gigitlah dia dengan gigi geraham kalian. Dan hati-hatilah kalian dari perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap perkara yang baru adalah bid'ah dan setiap kebid'han adalah sesat." (HR Turmudzi dan dishohihkan syaikh Al Albani datam shohih sunan Turmudzi no.2830).

Sumber : Buletin Islamiy Al-Minhaj, Edisi II Th.I
http://darussalaf.or.id/stories.php?id=237

Sunday, January 22, 2012

Penjelasan Tentang Habib Dan Sikap Kita Terhadapnya


Ustadzuna dzulqornain ana ingin menyakan beberapa hal tentang habib::

1. bagaimana pandangan Quran dan Sunnah tentang kehabiban… sedangkan yg ana tau dalam hadits.. bahwa berlebihan dalam nasab tdk boleh akan tetapi menjelek2kan nasab seseorang jg tdk boleh.. jadi “BAGAIMANA SIKAP KITA AHLUSSUNNAH JIKA BERJUMPA DENGAN HABIB”

2. Lalu.. antum sudah lama di Yaman tentunya.. ana mau bertanya tentang kondisi Habib Umar bin Hafidz apakah beliau lurus manhajnya ataukah menyimpang dari kaidah ahlussunnah wal jama’ah.. dan bagaimana dengan Ma’had Habib tersebut di Yaman.. apa nasehat antum??

itu saja dulu ustadz.. semoga Allah ta’ala memberikan kesehatan buat antum untuk selalu mendakwahkan Al Haq

Jazakumullah khoiron katsirn.. Barokallahufiikum

Pertanyaan di atas dijawab oleh Al ustad Abu Muhammad dzulqarnain (makassar) 14-1-2011 di milis nashihah



Bismillah,

Pertama,
Habib secara bahasa adalah orang yang dicinta. Bentuk fa’il bermakna maf’ul.

Kedua,
cinta kepada orang-orang yang Shalih adalah hal yang baik, berdasarkan firman Allah, “Orang-orang yang saling mencintai pada hari itu, sebagian mereka adalah musuh bagi sebagian yang lainnya kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Ayat di atas menunjukkan bahwa kecintaan antara sesama orang yang bertakwa itulah yang bermanfaat pada hari kiamat.
Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang bersama yang dia cintai (pada hari kiamat).” (Muttafaqun ‘alaihi dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu)

Ketiga,
istilah Habib sudah menjadi istilah khusus di kalangan orang-orang shufi yang cenderung berlebihan sehingga membawa mereka kepada bid’ah, bahkan kepada kesyirikan.

Empat,
nama yang disebut dalam pertanyaan adalah salah satu pentolan kaum shufi, siapa yang menghendaki ilmu syariat tidak mengambil ilmu dari orang yang tidak dipercaya keilmuan dan agamanya.

Lima,
orang dicintai oleh Allah tidaklah terbatas pada golongan tertentu, juga bukan kavlingan pihak khusus. Kecintaan Allah kepada hamba tidak diperoleh dengan sekadar angan-angan, nasab, kedudukan dan semisalnya, namun kecintaan Allah kepada hamba akan terwujud dengan melaksanakan ketentuan Allah untuk mereka yang dimuliakan dengan kecintaan-Nya. Banyak amalan dalam A-Quran dan hadits yang menjadikan seorang sebagian kecintaan Allah, seperti, ketakwaan, keimanan, kesabaran, banyak bersabar, berbuat Ihsan, banyak bertambah.

Wallahualam

Dzulqarnain M. Sunusi

Sumber: muwahiid.wordpress.com

Friday, November 18, 2011

Ciri Pengikut Nabi dan Sahabat


Muqadimah

Dalam tulisan ini akan dijelaskan secara ringkas ciri-ciri utama Ahlus Sunnah wal Jama'ah yaitu pengikut Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dan Sahabatnya radhiyallahu anhum. Semoga kita termasuk manusia yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala ciri-ciri tersebut dan menjadikan kita istiqomah di atasnya, insya Allah.
بسم الله الرحمن الرحيم

1) Berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dalam segala perkara khususnya ketika terjadi perbedaan pendapat.
Allah berfirman :

“Maka jika kalian berbeda pendapat dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir”
( QS. An Nisa : 59 )



2) Memahami Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman para shahabat dan yang mengikuti mereka dengan baik dan tidak dipahami sesuai dengan hawa nafsu maupun tokoh tertentu.
Allah berfirman :

“Generasi pertama shahabat muhajirin dan anshor serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah meridloi mereka dan merekapun ridlo kepada Allah dan Allah siapkan untuk mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya itulah keberuntungan yang besar”
( QS. At Taubah : 100 )

3) Tetap istiqomah di atas kebenaran Al Quran dan As Sunnah walaupun dihina dan dijauhi oleh masyarakatnya, Rasulullah bersabda :

“Akan senantiasa ada sekelompok orang dari umatku yang terang-terangan di atas kebenaran, tidaklah membahayakan mereka orang-orang yang menghina mereka sampai datang perintah Allah (angin dingin yang mencabut nyawa setiap orang yang memiliki keimanan menjelang kiamat)”
( HR. Imam Muslim )

4) Tidak taqlid kepada madzhab atau tokoh tertentu tetapi melihat dalil yang dipakai. Bila sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, diterima. Bila tidak, maka ditolak siapapun yang mengucapkannya.

Imam Malik, Rahimahullah berkata :

“Setiap orang bisa diambil ucapannya dan bisa ditolak kecuali Nabi ”
( Minhaj Al Firqoh An Najiyah : 10 )

5) Tidak pilih-pilih syariat, semua perintah Allah dan Rasul-Nya dilaksanakan semampunya dan semua larangan ditinggalkan tanpa terkecuali.

Allah berfirman :
“Apa saja yang dibawa oleh Rasul untuk kalian maka ambillah dan apa saja yang dilarang maka tinggalkanlah”
( QS. Al Hasyr : 7 )

6) Hanya menggunakan hadits - hadits shahih dan tidak menggunakan hadits - hadits dloif ( lemah ) dan maudlu’ ( palsu ), karena yang dloif ( lemah ) dan maudlu’ ( palsu ) itu merupakan bentuk berdusta atas nama Rasulullah . Beliau bersabda :

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah menempati tempat duduknya di neraka”
( HR. Imam Muslim dan lainnya )

7) Menegakkan seluruh jenis tauhid dan memberantas segala jenis syirik, karena ini adalah inti dakwah para Nabi dan Rasul .
Allah berfirman :

“Sungguh kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul untuk menyeru ( kepada umatnya ) beribadahlah hanya kepada Allah ( tauhid ) dan jauhilah sesembahan selain Allah ( syirik )”
( QS. An Nahl : 36 )

8) Menegakkan Sunnah ( ajaran Rasulullah ) dan memberantas segala jenis kebid’ahan, Rasulullah bersabda :

“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafaur-rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku, gigitlah dengan gigi geraham ( pegang erat-erat dan jauhilah perkara-perkara baru yang tidak diajarkan agama, karena hal itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat )”
(HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ibnu Majah dishohihkan syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ )

9) Mendidik generasi umat dengan pendidikan yang sesuai dengan pendidikan Rasulullah dan para shahabatnya .

10) Giat menuntut ilmu syariat. Karena mereka yakin dengan ilmu ini dapat mengetahui dan mencontoh seluruh ajaran Rasulullah secara terperinci.
و الله أعلم بالصواب

Penulis: Al Ustadz Abu Ilyas Su’aidi As Sidawi

Sumber artikel darussalaf.or.id dengan muqadimah dari admin blog.

Kedustaan Abu Muhammad Al Maqdisi



MEMBONGKAR KEDUSTAAN AL – MAQDISIY DALAM KITABNYA PEMBONGKARAN YANG JELAS ATAS PENGKAFIRAN NEGERI SAUDI

OLEH: Asy – Syeikh Abdul ‘Aziz Ar Royyis

Penerjemah: Abu Ammar as – Salafi

Editor dan Peneliti: Mujahid as – Salafi

PENGANTAR REDAKSI

Segala puji bagi Alloh yang telah mencipkan gelap dan terang, sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Nabi Akhir zaman Muhammad bin Abdulloh, para keluarga dan shahabatnya, serta orang – orang yang mengikuti jejak langkah mereka dalam berjuang di jalan Alloh. Telah beredar sebuah kitab dengan judul Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) karya Abu Muhammad al – Maqdisiy Ishom Burqowi yang mana kitab tersebut berisikan racun – racun yang meracuni otak para kawula muda yang bermodal semangat dalam din tanpa bermodal ilmu. Karena itu dengan memohon pertolongan kepada Alloh kami akan menghadirkan bantahan kitab tersebut kepada para pembaca di Blog kami ini secara berseri. Dan kami katakan ”HAK PENERBITAN BUKU INI BEBAS BAGI SIAPA SAJA DAN DIPERBOLEHKAN BAGI SETIAP ORANG UNTUK MENCETAKNYA, MENTERJEMAHKANNYA SERTA MENYEBARKANNYA DALAM RANGKA MEMBUAT GERAM MUSUH-MUSUH ALLOH DARI KALANGAN KHOWARIJ PENERUS DZUL KHUWASIROH, DENGAN SYARAT TIDAK MELAKUKAN PERUBAHAN SEDIKITPUN TERHADAP ISINYA”, bagi pembaca yang ingin mendapatkan naskah asli dari kitab bantahan ini silahkan download disini.(Mujahid As – Salafi)

MUQODDIMAH
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم و رحمة الله و بركاته…….. أما بعد

Sesungguhnya sikap adil dan sikap tengah tengah, serta sikap tidak berlebih lebihan dan tidak pula sikap mengurang-ngurangi adalah merupakan sikap yang dicintai dan diridloi oleh Alloh. Alloh berfirman:

Dan berlaku adillah sesungguhnya Alloh itu mencintai orang – orang yang berbuat adil….

Dan sesungguhnya sikap berlebih – lebihan di dalam syariat islam itu adalah harom hukumnya. Yang mana keharomannya itu lebih dasyat daripada keharomannya sikap mengurang – ngurangi dan sikap yang kaku/kering. Oleh karena itulah syariat islam sungguh telah berbicara dengan sangat tegas dan keras dalam perkara seputar Khowarij dan ahlul bida’ melebihi sikap tegas dan kerasnya dalam berbicara menyikapi terhadap orang – orang yang berbuat maksiat secara umum dari orang – orang yang cenderung mengikuti syahwat.
Dan sungguh pada perkara ini ada sebuah pelajaran yang sangat penting, yaitu bahwa sikap berlebih – lebihan itu memang dari jiwa yang berperasaan ini bisa menerima sikap berlebih – lebihan. Karena sikap berlebih – lebihan tersebut berbingkis dengan bingkisan agama dan dengan penuh rasa kesemangatan diatas sikap berlebih – lebihan yang dibingkis atau dihiasi dengan atas nama agama tersebut. Yang demikian itu memang akan sangat mudah untuk bisa diterima oleh jiwa seseorang selama seseorang tersebut tidak terbentengi dengan ilmu atau orang tersebut enggan untuk keluar dari perkataan – perkataan pembesar – pembesar Ahlul – Ilmi(Ulama’).

Dan sesungguhnya robb kita Alloh yang Maha suci telah memperingatkan dari sikap berlebih – lebihan yang menjerumuskan kepada meninggalkan sebuah kebenaran. Alloh berfirman:

Wahai Ahli Kitab janganlah kalian berbuat berlebih – lebihan di dalam agama kalian, dan jangan pula kalian berkata atas nama (agama)Alloh mlainkan dengan kebenaran

Dan termasuk dari deretan kitab – kitab yang memiliki sikap berlebih – lebihan adalah sebuah kitab yang berjudul “Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)” yang pengarangnya adalah Abu Muhammad Al – Maqdisiy (‘Ishom Al Burqowi). Pensifatanku terhadap kitab tersebut dengan sifat berlebih – lebihan adalah merupakan dari suatu ahakan yang mana mari saya mengajakmuy kepada penelitian dalam keterangan/penjelasan isi kitab tersebut. Dan itu sebagaimana apa – apa yang terdapat dalam sampul kitab ini-yaitu kitab yang ada pada kedua tangan anda- dengan dalil dalil dan hujjah – hujjah serta kenyataan – kenyataan dan penukilan dari ahlul ilmi yang terdahulu maupun yang sekarang.

Maka apa – apa yang diserukan dan yang ditetapkan oleh pengarang kitab “Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)” dari celaan – celaan dan pengkafirannya yang jelas terhadap ulama’ – ulama’ kita, seperti Al – Imam Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Baz dan al – Imam Muhammad bin Sholeh al – Utsaimin serta selain keduanya dari kalangan para imam-imam Ahlus Sunnah-yang semoga Alloh selalu merohmati mereka baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal-. Dan dari pengkafirannya pula teradap para penguasa kita-yang semoga Alloh selalu membimbing mereka agar selalu mendapat petunjuk-Nya-, bahkan tidak hanya itu penulis kitab tersebut juga selalu menganjurkan dari sebuah penganjurannya atas pembunuhan dan pengrusakan di negara Al – Haromain (Saudi)-yang semoga Alloh menjaganya-. Semua ini yaitu apa yang diserukan oleh Abu Muhammad al – Maqdisiy (Ishom Burqowi) diatas adalah merupakan besarnay kejahatan, karena terkumpul padanya antara kerusakan agama dan juga kerusakan dunia*), oleh karena itu membantah kitab “Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)” ini adalah merupakan suatu keharusan dalm rangka untuk menjelaskan apa-apa yang ada dalam kitab ini dari sebuah kejelekan – kejelekan, kekejian – kekejian dan dari kesombongan – kesombongan, serta perkataan – perkataan yang mengada- ada yang memeras atas sebagian Ahlus Sunnah –yang semoga Alloh menjaga mereka dari setiap Syubhat dan Syahwat- terlebih bagi para kawula mudalah yang diinginkan dan diincar oelh musuh – musuh, yang mana para musuh – musuh tersebut menjadikan kawula muda sebagai alat yang bisa dipakai untuk menyalakan api fitnah, dimana perasaan jiwa kawula muda akhirnya menjadi sangat tersibukkan dengan setiap fitnah bersamaan dengan rasa semangat yang berkobar – kobar dan berapi – api yang mereka nisbahkan kepada Agama. Yang mana para kawula muda itu pada hakekatnya dalam kondisi sedikit ilmu, meskipun mereka berjumlah banyak. Dan terlebih lagi kita ditimpa oleh suatu cobaan dengan keruwetan dan kekacauan “INTERNET” yang mana internet itu akhirnya menjadi suatu yang sangat berharga bagi orang – orang yang mempunyai kepentingan dan internet pun menjadi sebuah sarana untuk memamerkan syubhat – syubhat mereka (Ahlul Bathil) terhadap kaum muslimin.Maka ketika kitab ini yakni kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) menjadi sebuah kitab rujukan dan sebagai pedoman oleh kebanyakan orang – orang yang tertipu oleh mereka sebagai pemikiran dari kalangan orang – orang yang gemar mengkafirkan, dan menjadilah pemikirang tersebut saling dinukil oleh sebagian kelompok dari orang – orang bodoh yang hanya mengedepankan perasaan(Syahwat), kemudian mereka membawa dan menenggelamkan apa – apa yang ada dalam kitab tersebut dari sebuah racun terhadap kaum muslimin. Akhirnya sayapun meminta pertolongan kepada Alloh robb semesta alam untuk membantah kitab ini, yang bertujuan sebagai nasehat dan sebagai arasa takut serta khawatir terhadap orang – orang yang bertauhid, jika sampai syubhat – syubhat yang bertebaran lagi serampangan yang terdapat dalam kitab tersebut mengena dan memeras (hati dan pikiran) sebagian orang – orang yang bertauhid, yang mana setan dari golongan manusia dan jin senantiasa menghiasi dan mempercantik syubhat – syubhat yang berterbangan lagi serampangan tersebut sebagai tipu daya dan kedustaan yang menyesatkan. Oleh karena itu aku menamai kitab bantahan ini dengan judul “TABDIIDU KAWASYIFIL ‘ANIIDI FII TAKFIRIHI LIDAULATIT TUHID”. Dan aku menjadikan kitab bantahan ini menjadi beberapa bagian sebagai berikut:
  1. Pengkafiran kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) Abi Muhammad al – Maqdisiy (Ishom Burqowi) terhadap dua imam yaitu imam Abdul ‘Aziz bin Abdulloh bin Baz dan imam Muhammad bin Sholeh al – Utsaimin.
  2. Membongkar lima syubhat Abu Muhammad al – Maqdisiy dalam pengkafirannya terhadap negeri Saudi-semoga Alloh menjaganya-
  3. Diskusi atas sebagian perkataan Abu Muhammad al – Maqdisiyyang lemah lagi tak berguna yang terdapat didalam kitabnya Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi)
  4. Sikap yang benar sesuai syar’I dalam mensikapi pemerintah.
  5. Sikap para Ulama’ as sunnah, para sastrawan dan Sejarahwan terhadap negara Saudi—semoga Alloh selalu menjaganya.
  6. Penutup.
Akhirnya saya memohon kepada Alloh untuk menjadikan bantahan ini sebagi petunjuk bagi orang – orang yang tersesat dan sebagai penjagaan bagi orang – orang yang mendapat petunjuk serta sebagai penolong untuk Tauhid dan para Muwahhidun (orang – orang yang bertauhid). Dan sebagai suatu kebenaran yang apabila telah memuntahgkan atas suatu kebatilan. Maka kebenaran tersebut pasti akan mengalahkan serta melenyapkan kebatilan itu, sebagaimana Alloh berfirman:
بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Dan bahkan kami muntahkan dengan suatu kebenaran atas kebatilan, maka kebenaran tersebut mengalahkan dan melenyapkan kebatilan itu, maka jadilah kebatilan itu lenyap dan binasa. Dan kalian mendapatkan celaka dari apa – apa yang kalian sifatkan.

Dan sebelum permulaan bantahan ini maka sesungguhnya Aku memuji Alloh atas apa yang telah Alloh anugrahkan dengan bantahan ini berupa muqoddimahnya dari Asy – Syeikh Sholeh al – Fauzan, yang mulia Asy – Syeikh Abdul Muhsin al Abiikan dan juga yang mulia Asy – Syeikh Abdulloh al – Abiilan-semoga Alloh senantiasa menjaga mereka- untuk kitab ini.

Dan aku bersyukur kepada mereka atas muqoddimah ini dan atas apa yang telah memberikan faedah – faedah padanya dari sebuah pengarahan dan sebagai pengetahuan. Sesungguhnya saya telah menetapkan didalam catatan kaki sebuah catatan – catatan koreksi milik Asy – Syeikh al – Fauzan bersamaan dengan menisbahkan catatan – catatan koreksi tersebut kepada beliau…….. dan merupakan dari sutu hal yang saya tidak melupaknnya adalah ketika aku memperlihatkan kitab bantahan ini kepada syeikh kami al – Fauzan, maka beliau menyebutkan bahwa beliau memang senantiasa menantikan bantahan atas kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) milik al – Maqdisiy. Maka segala puji bagi Alloh yang telah memberikan taufiq serta kesuksesan untuk membantah kitab Al – Kawasyiful Jaliyyah Fii Takfiri ad Daulatis Su’udiyyah(pembongkaran yang jelas didalam pengkafiran Negara Saudi) milik al – Maqdisi tersebut.

*)Berkata Syeikh Fauzan dalam memberi catatan: dan kenapa dia khususkan Negara Saudi diantara negara – negara arab yang lain?!, apakah karena negara saudi itu paling jeleknya negara – negara Arob, ataukah karena negara Saudi merupakan pusat Negara untuk dunia Islam?, ataukah karena dia itu Abu Muhammad al – Maqdisiy (Ishom Burqowi) dibayar oleh musuh – musuh Negara Saudi ini sebagai rasa hasad dan kezholiman?!

BANTAHAN POINT I “PENGKAFIRAN AL MAQDISIY TERHADAP SYEIKH BIN BAZ DAN SYEIKH UTSAIMIN”

Al-Imam Abu Utsman Ash-Shobuni berkata :”Tanda yang palling jelas dari ahli bid’ah adalah kerasnya permusuhan mereka kepada pembawa Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam mereka melecehkan dan menghina ahli Sunnah. [Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 14]

Maka petunjuk dan bimbingan dari ahlus sunnah adalah mereka menimbang dan mengukur orang-orang selain mereka itu dengan bagaimana sikap orang-orang tersebut terhadap ulama’ assunnah ahlul atsar pada zaman mereka. Jikalau sikap orang-orang tersebut adalah menentang ulama’ sunnah maka mereka pun membid’ahkannya dan tidak ada kehormatan.

Mereka juga menghajernya dan memperingatkan darinya kerena cacian dan cercaan serta penentangan dan merendahkan ulama’ assunnah adalah merupakan merendahkan assunnah, karena ulama’ assunnah adalah pembawa assunnah dan penjaga assunnah yang mana ulama’ asssunnah mereka berjalan meniti jejak dari assunnah.

Dan demikian halnya dengan keadaan Al Maqdisi ini seorang yang sangat durhaka (Ishom Al Barqowi). Maka dia sungguh telah mencerca dan mencela terhadap ulama’-ulama’ kita yang besar seperti Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin – semoga Alloh merohmati keduanya – pada beberapa tempat dari kitabnya ( ), dan termasuk dari cercaan dan celaannya adalah bahwasanya dia berkata: Dan engkau mengetahui kedustaan negara yang keji ini (yakni negara Saudi) yang mana negara Saudi ini telah merusak agama manusia dan telah menjadikan buruk tauhid manusia, serta engkau juga mengetahui kedustaan dan kesesatan pelayan-pelayan negara Saudi ini dari kalangan ulama’-ulama’ para penguasa. Engkau jangan mereka aneh dengan tidak adanya penistaan/pengembalian asal ke halaman-halaman kitab kawaasyif, karena kitab Al-Kawaasyif tersebut tidak mempunyai tampilan yang resmi autentik, bahkan kitab tersebut hanyalah ada di dalam internet, dan halaman-halamannya berubah-rubah seiring berbuahnya barisan tampilannya yang diturunkannya oleh setiap orang, oleh karena itu pengarang / Ishom Al-Barqowi tidak meletakkan halaman-halaman pada daftar isi, tapi dia hanya mencukupkan judul-judul/pokok-pokok bahasan.

Demikianlah Ishom Al-Barqowi, dia mensifati ulama’-ulama’ kita dan diantara mereka (para ulama’) yaitu Ibnu Baz, Ibnu Utsaimin, dan Al-Fauzan, bahwa mereka adalah pendusta dan sesat dan terkadang dia juga mensifati bahwa tauhid mereka adalah tauhid yang berubah, dan di tempat yang lain juga dia menuduh mereka bahwa sesungguhnya mereka adalah ulama’-ulama’ yang jelek, dan juga dalam perkataan dia terhadap negara Saudi dan fitnah Al-Harom / Masjidul Harom juga menukilkan omongan Juhaimin dalam Jarh dan celaannya terhadap Asy Syaikh Ibnu Baz, dan dia / Ishom Al Barqowi pun menetapkan omongan Juhaimin yang menjarh dan mencela Asy Syaik Ibnu Baz tersebut, dan dia Ishom Al Barqowi tidak mengingkarinya.

Dan dia / Ishom Al Barqowi menyatakan di tempat yang lain dengan nama Ibnu Baz dan juyga Ibnu Utsaimin – semoga Allah merohmatinya – dimana dia (Barqowi) mengatakan: Dan mereka para penguasa Saudi Arabia menyetir / menggiring ulama’, dan menjadikan sebagian dari ulama tersebut sebagai binatang ternak yang lembut dan nurut dan dengan tabir tutup tebal ini yang mereka para penguasa telah mengambilnya dari mereka para ahli ibadah dan para pendeta untuk menjadikan negara mereka sebagai negara Attauhid dan sebagai negara ilmu dan negara ulama’. Coba perhatikanlah bagaimana para syaikh ada di setiap tempat, inilah Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu Utsaimin dan syaikh-syaikh yang lainnya semuanya mereka bersama negara, pegawai negara dan mereka yang membela-bela dan melindungi negara ini (negara Saudi) …. Lantas apa yang kalian inginkan sesungguhnya tentang Al-Islam dan At-Tauhid…!! Demikianlah negara Saudi di dalam menyesatkan para rakyat.
- kemudian dia Barqowi berkata – : Sekarang tinggallah seorang yang bertauhid itu dapat mengetahui bagaimana sikap dari para ulama’ yang sesat yang mengeluarkan argumen dan bantahan membela pemerintahan Saudi Arabia. Para ulama yang tidur di dada pemerintahan Saudi Arabia, para ulama’ yang menyusu / menetek dari susu pemerintahan Saudi Arabia …. Maka dengarkanlah semoga Alloh selalu memberimu petunjuk padamu untuk agar selalu konsisten di atas kebenaran yang kita yakini dan kita beragama kepada Alloh dengan kebenaran yang kita yakini tersebut, dan tidaklah menyedihkan kita ocehan cercaan orang yang mencela jikalau kita selalu bersama kebenaran yang kita yakini, dan tidak pula menyedihkan kita kedustaan orang yang mengada-ada berkata palsu…. Maka sikap yang benar adalah bahwa para ulama’ tersebut harus dijahr / ditinggalkan, dan tidak menuntut ilmu dari mereka, dan mereka itu jangan dimintaki fatwa, karena ilmu itu sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian salaf adalah agama, maka perhatikan lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian, bahkan yang wajib adalah memperingatkan mereka dan menghajer mereka sehingga mereka kembali dan melepaskan dari sikap mudahanah / penjilat / mengambil muka para penguasa dan dari sikap condong kepoada para penguasa, dan juga dari sikap membantah mengeluarkan argumen membela para penguasa…. – kemudian Barqowi berkata – : Adapun jika mereka para ulama Saudi tersebut masih terus menerus selalu di atas keadaan mereka yang telah dirubah dan dibenci seperti demikian itu, maka wajiblah para ulama Saudi tersebut dihajer dan tidak boleh berhubungan bersama mereka ! (selesai perkataan Barqowi).

Maka ternyata demikianlah pandangan dan sikapnya Barqowi terhadap ulama sunnah di zamaannya, maka dia (Barqowi) adalah seorang mutbadi’ sesat dan tidak ada kehormatan untuknya, maka lalu lantas bagaimana apabila engkau pun mengetahui bahwa ternyata dia (Barqowi) tidak hanya berpandangan dan mensikapi ulama sunnah sebatas pensikapan kedholiman dan kejahatan seperti yang telah engkau ketahui itu akan tetapi ternyata justru dia (Barqowi) mensikapi para ulama sunnah tersebut kafir melebihi Yahudi dan Nashroni dengan anggapan karena ulama sunnah tersebut telah keluar dari agama Islam secara total.

Dia (Barqowi) telah berkata dalam risalahnya yang berjudul “Singkirkanlah Keledai Ilmu ke dalam Tanah”2 / catatan kaki Risalah ini dimaktabahnya di mimbar At Tauhid wal Jihad : Sungguh aku telah membaca surat kabar Arro’yu Al Urduniyah pada tanggal 16 SHofar 1417 Hijriyah yang bertepatan 2/7/1996 Masih ada sebuah berita yang berjudul (Hai’ah Kibarul Ulama di Negara Saudi Menjadi Susah dan Sedih Dengan Adanya Peristiwa Peledakan) dan datang di dalam berita tersebut (Hai’ah Majlis Kibarul Ulama di Kerajaan Arab Saudi telah sedih dan susah / terpukul terhadap adanya sebuah keterangan yang dinukilkan oleh surat kabar kerajaan kemarin tentang kejadian peristiwa peledakan dalam sebuah berita… – kemudian Barqowi berkata – Maka saya (Barqowi) katakan : Sungguh Alloh telah membuka kejelekan perkara kalian dan membongkar tabir kalian wahai ulama sesat…. Demi Alloh sekarang sungguh telah datang pada kami suatu hari yang dahulu kami menahan lisan-lisan kami dari masuk terjun ke dalam urusan kalian, dan kami menjaga diri kami dari menyibukkan dengan urusan perkara kalian, karena rasa takut kami dari kelirunya banyak berbicara dari perlawanan kami dan penyelewengan dari metode cara dakwah kami…. Dan kami dahulu itu hanya mencukupkan dengan memperingatkan para pemuda dari kesesatan kalian …. Sampai sehingga dikafirkan oleh orang yang telah mengkafirkan kami dikarenakan kami meninggalkan masuk terjun ke dalam mengkafirkan kalian…. Dan dahulu itu sungguh kami benar-benar mengharapkan agar kalian kembali atau agar kalian berubah, atau kalian mengganti, atau agar kalian, atau kalian membandingkan tentang kalian sama serupa dengan hadits Nabi Sholallohu Alaihi Wasalam, “Biarkan mereka, agar manusia tidak berbicara bahwa Muhammad itu telah membunuh sahabatnya”. Akan tetapi kalian sungguh amat sangat disayangkan justru kalian tidaklah bertambah melainkan hanyalah kesesatan dan kesewenang-wenangan, dan penyelewengan dari kebenaran dan berlepas diri dari At Tauhid, dan menggiring kepada thogut-thogut dan kepada kesyirikan dan tandingan…. – kemudian dia (Barqowi) berkata – Maka tempat kembali kalian jika kalian tidak bertaubat dan tidak mengadakan perbaikan dan juga menjelaskan kebenaran, adalah sebagaimana tempat kembali orang yang telah Allah katakan tentangnya :
Yang artinya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat kami kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia ikuti oleh syaithon sampai dia tergoda maka jadilah dia termasuk orang-orang yang tersesat. Dan kalau kami menghendaki sesungguhnya kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia justru cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaan dia seperti anjing jika kamu membawanya maka diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia pun tetap menglurukan lidahnya juga. Demikianlah itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kepada mereka kisah-kisah itu agar mereka berpikir.

Maka ulama sunnah dan tauhid Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin dan Al Fauzan dan Al Ghodyan dan Ali Syaikh – semoga Alloh selalu merohmati mereka yang masih hidup atau yang sudah meninggal – mereka telah berlepas diri dari At Tauhid dan mereka adalah kafir menurut Al Barqowi, hanya saja Barqowi tidak menampakkan pengkafirannya terhadap mereka karena untuk menjaga kemaslahatan sebagaimana Nabi Sholallohu Alaihi Wassalam menjaga kemaslahatan dengan tidak membunuh orang-orang munafiq “Sehingga manusia tidak berbicara bahwa Muhammad itu telah membunuh sahabatnya”.
Maka semoga Alloh menjelekkan dan menghinakan Al Barqowi dan juga semoga Alloh menjelekkan dan setiap orang membela Al Barqowi setelah orang tersebut mengetahui bahwa keadaan Al Barqowi sangat jelek dan hina seperti ini. Dan sesungguhnya pengetahuan pembaca yang sunni terhadap apa-apa yang telah berlalu ini adalah cukuplah untuk agar tidak menghitung atau menganggap keilmuan dan penukilan dan pencelaan Al Maqdisi ilmu adalah agama yang tentu tidak boleh diambil dari orang sangat pembohong dan pendusta yang mencakar seperti Abu Muhammad Al Maqdisi ini dan juga ada sesuatu yang akan saya suguhkan kepadamu wahai pembaca tentang keadaan Abu Muhammad Al Maqdisi ini, saya bawakan dari suatu kejadian yang diketahui oleh orang yang telah berkawanan dan bermajlis dengan Abu Muhammad Al Maqdisi ini, dia adalah (Ihsan Al Utaibiy)1 catatan kaki Ihsan Al Utaibiy ini ma’ruf / dikenal oleh banyak tempat Islam dan dia punya para pengikut, maka jaminan dan tanggungan atasnya dalam apa yang saya nukil ini. Maka dia Ihsan Al Utaibiy telah menyebutkan tentang Abu Muhammad Al

Maqdisi sesuatu perkara perbuatan maksiat, inilah sebagiannya :
1. Sesungguhnya Abu Muhammad Al Maqdisi tidak mau sholat di belakang kaum muslimin, akan tetapi dia justru bersembunyi di dalam WC-WC sehingga sampai manusia / kaum muslimin selesai sholat.
2. Dia Abu Muhammad Al Maqdisi tidak membolehkan sholat di belakang Al Hudzaifi (imam masjid Nabawi) dan As Sudais(Imam masjidil Haram).
3. Dia Abu Muhammad Al Maqdisi berpendapat bahwa harta polisi adalah halal untuk diambil atau dicuri, dan dia pun telah mencuri senjata dan harta salah satu seorang polisi muslim.
4. Dia Abu Muhammad Al Maqdisi berpendapat bolehnya mengkoyak kehormatan wanita-wanita muslim, karena wanita-wanita muslimin itu adalah budak, dan tentunya pendapat ini kembali pada karena pengkafirannya terhadap wanita-wanita muslimin.

Dan setelah muqodimah Syaikh kami Alallaamah Sholih Al-Fauzan – semoga Alloh selalu memberi taufiq padanya – untuk kitab ini (tabdlidu kawaasyifil ‘aniidi fii takfiirihi lidaulatid tauhiidi) maka beliau meminta pada saya untuk agar saya mencari tambahan dari data-data tentang keadaan Al Maqdisi ini, terlebih lagi dalam seputar ilmu syar’i, maka telah sampai pada saya bahwa Asy Syaikh ABdulloh As Sabt – semoga Alloh selalu memberinya taufiq – beliau sangat mengetahui tentang keadaan Al Maqdisi ini. Maka aku pun menelponnya dan terjadilah saling menjawab bersamaku – semoga Alloh membalas padanya kebaikan – dan beliau pun mengirimkan kepadaku biografi Muhammad Al Maqdisi ini yang mencangkup / memuat seputar apa-apa yang menunjukkan atas kebodohan agamanya dan sesungguhnya hanyalah angin syubhat-syubhat mengamuk bertiup keras dengannya ke kanan dan ke kiri – kita minta kepada Allah kesehatan dan kekuatan.

Berkata Syeikh Abdul Aziz ar Royyis:
Setelah saya menulis surat kepada Syeikh Abdulloh As Sabt, kemudian sayapun memnulis kembali surat kepada beliau yang isinya adalah sebagai berikut:
Kepada yang Mulia
 Asy Syeikh Abdulloh as Sabt-semoga Alloh senantiasa menjadikan beliau sebagai pembela sunnah-
As Salamu ‘alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh….

Adapun sesudah itu:
Saya sungguh berterimakasih kepadamu atas apa yang telah anda bersedia dengannya yaitu berupa keterangan – keterangan tentang seorang yang gila yakni “Abu Muhammad al Maqdisiy Ishom al Burqowiy”-semoga Alloh mencukupkan kaum muslimin dari kejelekannya-. Karena itu berikut ini adalah sebagian pertanyaan yang saya senang dan berharap anda bersedia memerikan jawaban atasnya:

Pertanyaan ke 1       : bagaimana   keadaan  Abu Muhammad  al Maqdisiy secara
  keilmuan,  apakah  dia  telah menimba Ilmu dari salah  satu
  seorang ulama’ disaat dia tinggal di Kuwait?

Pertanyaan ke 2       : apa dampak     negative        (Abu Muhammad al Maqdisiy)
  terhadappara    saudara – saudara di Kuwait dan umumnya
  bagi dunia Islam termasuk Negara Saudi?

Pertanyaan ke 3       : apakah  anda mengira bahwa Abu Muhammad al Maqdisiy
  Adalah   orang yang mengarang kitab Al Kawasiful Jaliyyah
  fii Kufri Daulatis Su’udiyyah?
 
Saya mohon kepada anda agar memberikan sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Dan semoga jawaban anda menjadi suatu dasar sebagai tempat pengambilan keterangan tentang orang gila ini. Semoga Alloh membalas anda dengan sutu kebaikan……

Kemudian beliau nengirimkan kepada saya pertanyaan tersebut, inilah konteks jawabannya:

Bismillahir rohmanir rohim
Saudaraku yang mulia Asy Syeikh Abdul Aziz Ar Rosyyis-semoga Alloh selalu memberikan taufiq padanya-. Amin
Wa’alaikum salam wa rohmatullohi wa barokatuh:
Selanjutnya: saya senang untuk menyebutkan apa yang saya ketahui terkhusus tentang Abu Muhammad al Maqdisiy dengan menyandarkan terhadap pembahasan yang telah lalu.

Jawaban atas pertanyaan ke 1 anda :
a.    Terkait apa yang saya ketahui bahwa sesungguhnya laki – laki ini (Abu Muhammad al Maqdisiy) belum pernah menimba ilmu disisi para Masyayikh di Kuwait, akan tetapi puncak dari belajarnya adalah kepada Muhammad Surur dan tidaklah diketahui pula bahwa dia belajar kepada Masyayikh pembawa Aqidah salafiyyah di Kuwait.
b.    Setelah dia kembali dari Afghonistan, dia langsung berhubungan dengan sisa – sisa kelompok Juhaiman di Kuwait dan mereka tidak menimba Ilmu bahkan kebanyakan mereka berbicara tentang (kejelekan) penguasa serta kebanyakan mereka berbicara masalah pergerakan dan pembangkitan (keterpurukan Islam). Mereka sungguh disayangkan dalam pokok permasalahan al wala’ wal Baro’, mereka tenggelam pada pengkokohan dan dukungan untuk Ikhwanul Muslimin, dan mereka memerangi para Salafiyyin dengan tuduhan bahwa mereka adalah pegawai sebuah sitem aturan.
c.    Orang laki – laki ini(Abu Muhammad al Maqdisiy) bukanlah seeorang penuntut ilmu. Oleh karena itu sesungguhnya ilmu yang ia dapatkan dari Muhammad Surur dan dari semisalnya hanyalah ilmu As Siyasah Al Hauja’(politik yang berjalan cepat) yang ilmu tersebut sebenarnya tidak pantas dan tidak layak bagi ummat ini .
Dan ringkas perkataan sesungguhnya mereka itu adalah suatu kelompok dari kalangan orang – orang yang mengetahui dan mempunyai pemikiran As Siyasah al Hauja’ ini. Mereka tidaklah termasuk para penuntuk ilmu, akan tetapi mereka hanya sekedar menghafal beberapa kumpulan nash – nash/dalil – dalil kemudian mereka mengambil sebagiannya untuk apa yang mereka inginkan tanpa kembali pada keterangan ahlul ilmi dan ini merupakan cirri khas mereka, baik kelompok takfir di Mesir atau selainnya atau juga pada kelompok Juhaiman.

Jawaban pertanyaan yang ke 2:
Adapun pengaruh orang sesat ini di Kuwait seungguh lemah, dikarenakan beberapa perkara diantaranya:
a.    Sesungguhnya Abu Muhammad al Maqdisiy telah meninggalkan Kuwait semenjak waktu yang lama sebelum nampak pemikiran takfir pada dirinya dan sebelum Nampak pula pemikiran takfir pada kelompok sisa – sisa Juhaiman.
b.    Sesungguhnya pengaruh pemikirannyaa itu pada pemuda Palestina secara khusus, dikarenakan dia adalah orang Palestina sehingga ia tidak biasa menyebarluaskan pemikiran takfiri di Negara Kuwait sebagaimana selain dia dari kalangan orang – orang asal Kuwait juga ikut andil dalam menyebarluaskan.
c.    Sesungguhnya yang paling utama dan penting bahwa barisan Salafi yang berhubungan dengan Ulama’ sangatlah kuat di Kuwait-segala puji hanya milik Alloh- maka keutamaan daerah – daerah Kuwait berisi penuh dengan saudara – saudara kami para salafiyyin dari kalangan penceramah – penceramahdan dari kalangan pengajar, karena itu hal ini menghalangi tersebarnya pemikiran takfiri. Oleh karena itu para Qutbiyyun (para pengikut sayyid Quthb) dan kelompok Harokah Ilmiyyah yang berasal dari Kuwait tidak berani menampakkan dengan jelas dan terang madzab mereka dalam hal memberontak kepada penguasa dan mengkafirkannya, akan tetapi mereka hanyalah menyesatkan manusia yang kondisi mereka bodoh dan suka marah.
d.    Akan tetapi tidak diragukan bahwa mereka memiliki pengaruh atas sebagian pemuda, akan tetapi saya yakini bahwa pengaruh mereka di Negara Saudi sangatlah lemah. Karena itu mereka yang mengharumkan dan memelihara manhaj Sayyid Quthb disana hanyalah menyandarkan perkataan semisal ini dan itu    kepada sayyid Quthb, kalau tidak seperti itu maka sangatlah sulit.

Jawaban pertanyaan ke-3:
Adapun kitab Al KawaSyiful Jaliyyah Fii Kufri Daulatis Su’udiyyah, maka sungguh ketika saya pertama kali meneliti kitab tersebut dan kesepakatan para orang yang membaca pada saat tersebarnya di Afghonistan, menyimpulkan bahwa kitab Al Kawasyiful Jaliyyah Fii Kufri Daulatis Su’udiyyah ini adalah hasil karya dari kalangan Masyayikh Su’udiyyah dan selainnya yang berpemikiran takfir serta kitab tersebut belum dinisbahkan kepada Abu Muhammad al Maqdisiy kecuali pada saat akhir – akhir ini.
Barang siapa yang mendalami padsa konteks – konteks kitab Al KAwasiful Jaliyyah tersebut tentu akan Nampak baginya dengan jelas bahwa pengarang kitab tersebut lebih dari satu orang, sebagaimana pula keadaan kitab “Ma’alimul Intholaaqotil Kubro” yang tersebar pada masa itu. Setiap orang yang meneliti cara – cara metode penulisan pada kitab Al Kawasyiful Jaliyyah dan meneliti kitab al Maqdisiy yang lain maka akan Nampak jelas baginya suatu keadaan antara dua ungkapan.

Oleh karena itu saya memastikan bahwa kita Al Kawasyiful Jaliyyah dibikin tanpa meminta pendapat pihak yang yang menyiarkan pada saat itu dan kitabnya (Al Kawasyiful Jaliyyah itu) merupakan hasil dari orang – orang Jaziroh araob. Pemastian dan penetapanku mengenai hal ini semenjak dahulu sebelum nampaknya fitanh ini.

Sebagaimana saya juga telah memastikan dan menetapkan bahwa kitab Rof’ul Iltibas yang disandarkan kepada Juhaiman juga bkan merupakan karangan Juhaiman.

Sesungguhnya cara metode penulisan pada kitab Al Kawasyiful Jaliyyah adalah metode yang sangat memuaskan dan tulisn – tulisan yang jelas menunjukkan bahwa pengarang kitab Al Kawasyiful Jaliyyah adalah seorang yang kokoh dalam mendalami berita penduduk Nejd, sedangkan data – data pengetahuan ini tidak terpenuhi oleh Abu Muhammad al Maqdisiy dan juga tidak terpenuhi pula oleh Muhammad Surur waktu itu.

Maka ringkasnya bahwa kitab Al Kawasyiful Jaliyyah ini ditulis oleh anak – anak Jaziroh arob dari kalangan orang – orang yang dendam terhadap Negara Saudi dan sepertinya orang yang member data – data secara terbuka dan penyiaran – penyiara mengenai Negara Saudi adalah orang yang bernama “Faqih”. Oleh karena itu orang yang membaca kitab Al Kawasyiful Jaliyyah akan mendapatkan penggabungan dua metode penulisan.

Inilah apa yang dapat saya sampaikan dalam perkara ini, dan hanyalah kepada Alloh saya meminta agar menolong Ahlul Haq untuk membongkar para pengekor hawa nafsu. Sungguh membongkar aib – aib dan kejahatan mereka adalah Jihad di jalan Alloh.
والله هادي للحق
كتبه محبكم
أبو معاوية/ عبد الله السب
Dan Alloh-lah dzat yang member petunjuk kepada kebenaran
Telah menulisnya orang yang mencintaimu Abu Mu’awiyah/Abdulloh As Sabt

Sikap Ulama Salaf Terhadap Penentang Sunnah


Dari Abu Qatadah berkata: Kami pernah di sisi 'Imran bin Hushain rodhiyallahu 'anhu dalam suatu rombongan dan di antara kami terdapat Busyair bin Ka'b. Maka 'Imran berbicara kepada kami pada suatu hari, dia berkata: bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam: "Malu itu baik semuanya" atau beliau bersabda: "Malu itu adalah semuanya baik." Maka berkata Busyair bin Ka'b: "Sesungguhnya kami mendapati di sebagian kitab atau hikmah bahwa dari malu itu ada yang merupakan ketentraman dan penghormatan kepada Allah, tetapi pada malu itu juga ada kelemahan." Maka 'Imran pun marah sampai merah kedua matanya dan berkata: "Tidakkah kamu melihat aku, aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kamu menentangnya!!" (HR. Al-Bukhariy no.6117, Muslim no.37 dan lafazh ini milik Muslim)
 
Dari 'Abdullah bin Mughaffal rodhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk melempar dengan batu dan beliau bersabda: "Sesungguhnya melempar dengan batu itu tidak akan mendapatkan buruan dan tidak akan dapat mengalahkan musuh, tetapi hanya akan membutakan mata dan memecahkan gigi." Maka berkatalah seseorang kepada 'Abdullah bin Mughaffal: "Apa jeleknya hal ini?" Maka 'Abdullah bin Mughaffal berkata: "Sesungguhnya aku mengajak bicara kepadamu dengan hadits dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan seperti ini, maka Demi Allah... Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!" (HR. Al-Bukhari no.5479, Muslim no.1954 dan lafazh ini milik Ibnu Baththah di dalam Al-Ibaanah hadits ke-96)

Dari Abil Makhariq berkata: 'Ubadah bin Ash-Shamit rodhiyallahu 'anhu menyebutkan bahwa Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Maka berkatalah seseorang: "Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa asalkan tangan dengan tangan (kontan)." Maka 'Ubadah berkata: "Aku berkata: "Telah bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan kamu mengatakan: "Aku berpendapat yang demikian tidak apa-apa", (maka) Demi Allah... Tidak akan menaungi aku dan kamu satu atap pun selama-lamanya!!" (HR. Ibnu Majah no.81, Ad-Darimiy no.443 dan lafazh ini milik Ad-Darimiy. Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy)
Dari Salim bin 'Abdullah bahwa 'Abdullah bin 'Umar rodhiyallahu 'anhu berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian ke masjid jika mereka meminta ijin kepada kalian untuk ke sana!"
Berkata Salim: Berkatalah Bilal bin 'Abdullah: "Demi Allah, kami akan melarang mereka."
Berkata Salim: "Maka 'Abdullah menghadap kepadanya (anaknya yaitu Bilal bin 'Abdullah) kemudian mencaci-makinya dengan suatu caci-makian yang jelek, yang aku belum pernah mendengar caci-makian seperti itu sama sekali. Kemudian 'Abdullah berkata: "Aku khabarkan kepadamu dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam sedangkan kamu mengatakan: "Demi Allah, kami akan melarang mereka!!" (HR. Muslim no.442)
 
Dari 'Atha` bin Yasar: Bahwa seseorang menjual pecahan emas atau mata uang dengan yang lebih banyak dari ukuran nilainya. Maka berkatalah Abu Darda` rodhiyallahu 'anhu kepadanya: "Aku mendengar Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam melarang dari hal yang seperti ini kecuali dengan yang senilai. Maka orang itu pun berkata: "Aku berpendapat yang seperti ini tidak apa-apa." Maka berkatalah Abu Darda`: "Siapakah yang bisa memberikan alasan kepadaku dari si fulan ini, aku mengatakan: "Dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan dia mengatakan kepadaku dari pikirannya, aku tidak akan tinggal di negeri yang kamu berada padanya!" (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-94)

Dari Al-A'raj berkata: Aku pernah mendengar Abu Sa'id Al-Khudriy rodhiyallahu 'anhu berkata kepada seseorang: "Tidakkah kamu mendengar aku, aku mengatakan dari Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Janganlah kalian menjual dinar dengan dinar, dirham dengan dirham kecuali dengan yang senilai dan janganlah kalian menjual darinya, yang segera (kontan) dengan yang ditunda!", sedangkan kamu berfatwa dengan apa yang kamu fatwakan, maka Demi Allah... tidak akan menaungi aku dan kamu selama aku hidup kecuali masjid." (Lihat Al-Ibaanah, Ibnu Baththah hadits ke-95)

Dari Qatadah berkata: "Ibnu Sirin pernah mengajak bicara kepada seseorang dengan hadits dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, maka orang tersebut berkata: "Si Fulan telah berkata demikian dan demikian!" Maka Ibnu Sirin berkata: "Aku mengatakan kepadamu dari Nabi shollallahu 'alaihi wa sallam, sedangkan kamu mengatakan: "Si Fulan dan si Fulan telah berkata demikian dan demikian...!" Aku tidak akan berbicara kepadamu selama-lamanya!!" (Sunan Ad-Daarimiy no.441)

Berkata Abus Sa`ib: "Kami pernah di sisi Waqi', maka dia berkata kepada seseorang yang berada di sisinya, yang termasuk orang yang berpendapat dengan ra`yu: "Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam telah melakukan Isy'aar (yaitu merobek salah satu sisi pundak (punuknya) hewan (unta) sehingga mengeluarkan darahnya dan hal itu dijadikan sebagai tanda bagi hewan tersebut yang dengannya akan diketahui bahwasanya itu adalah hewan qurban, lihat An-Nihaayah 2/479)."
Berkatalah orang tersebut: "Bahwasanya telah diriwayatkan dari Ibrahim An-Nukha'iy, bahwa dia berkata: "Isy'aar adalah menyakitkan."
Berkata Abus Sa`ib: "Maka aku melihat Waqi' marah dengan marah yang sangat dan berkata: "Aku telah berkata kepadamu: "Telah bersabda Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam", sedangkan kamu berkata: "Telah berkata Ibrahim", (maka) tidaklah ada yang menghalangi kamu agar kamu ini dipenjara kemudian tidak dilepaskan sampai kamu menarik kembali dari ucapanmu ini!!" (Jaami'ut Tirmidziy 3/250)

Dari Kharzadz Al-'Abid berkata: "Abu Mu'awiyyah Adh-Dharir meriwayatkan di sisi Harun Ar-Rasyid suatu hadits: "Adam dan Musa saling berhujjah." (HR. Al-Bukhariy no.3409 dan Muslim no.2652 dari Abu Hurairah -pent.)
Maka berkatalah seorang bangsawan dari Quraisy: "Di mana dia (Adam) bertemu dengannya (Musa)?"
Maka Harun pun marah dan berkata: "(Untuk) orang yang berlebih-lebihan adalah pedang, seorang Zindiq yang mencela hadits." Maka Abu Mu'awiyyah pun terus berusaha menenangkannya (Harun) lalu berkata: "Jangan terburu-buru, Ya Amirul Mu`minin..." dan dia tetap belum paham, sampai (akhirnya) dia tenang. (Taariikh Baghdaad 41/7 dan Siyar A'laamin Nubalaa` 9/288)

Ikutilah Jejak Salafush Shalih!
Inilah nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah tentang pengagungan terhadap Sunnah. Dan inilah sikap Salafush Shalih (shahabat dan tabi'in) terhadap orang-orang yang menentang Sunnah. Kamu lihat padanya terdapat kekuatan, keseriusan dan kekerasan terhadap orang yang muncul darinya sesuatu yang di dalamnya terdapat penentangan terhadap Sunnah.

Berkata Ibnul Qayyim: "Sesungguhnya Salafush Shalih sangat keras pengingkaran dan kebencian mereka terhadap orang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dengan akal atau qiyas atau istihsaan (menganggap baik sesuatu) atau dengan pendapat seseorang siapa pun orangnya. Dan mereka mengisolir terhadap orang yang melakukan hal tersebut serta mengingkari atas orang yang menjadikan bagi beliau tandingan-tandingan. Dan tidaklah mereka melakukan hal ini, melainkan hanya karena keterikatan dan ketundukan (mereka) kepada beliau serta menerimanya dengan pendengaran dan ketaatan, dan tidak pernah terbetik di dalam hati mereka untuk berhenti dari menerimanya.... (I'laamul Muwaqqi'iin 4/244)

Maka bandingkanlah antara sikap Salafush Shalih terhadap orang yang menentang Sunnah dengan sikap orang sekarang terhadap orang yang mengolok-olokkan Sunnah!!!

Dan sebelum itu lihatlah (terlebih dahulu) perkataan-perkataan mereka (Salafush Shalih), kemudian lihatlah perkataan-perkataan orang-orang sekarang. Adapun mereka (Salafush Shalih), kamu telah melihatnya. Sedangkan mereka, orang-orang sekarang, maka lihatlah contoh-contoh atas pengolok-olokan mereka (terhadap Sunnah):

1. Sebagian mereka ada yang menolak suatu hadits. Ketika dikatakan kepadanya: "Bahwasanya hadits tersebut terdapat di dalam Shahiih Muslim!" Maka orang itu berkata: "Letakkan hadits itu di bawah kakimu!!!" (Karena menurutnya bertentangan dengan Al-Qur`an, padahal tidak akan pernah As-Sunnah bertentangan dengan Al-Qur`an -pent.)

2. Berkata salah seorang di antara mereka dengan sangat kurang ajarnya -mengomentari terhadap hadits masalah lalat-: "Saya akan mengambil ucapan dokter kafir dan tidak aku ambil ucapan Rasul !!"

3. Berkata yang lain: "Apabila hadits bertentangan dengan akal, maka tolaklah hadits tersebut!" Maka dikatakan kepadanya: "Walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy?!" Dia berkata: "Ya, walaupun terdapat di dalam Shahih Al-Bukhariy dan tidak ada kemuliaannya!!!"

Demikianlah mereka memperolok-olokkan dan melecehkan Sunnah!
Maka bagaimanakah sikap orang-orang di zaman kita ini terhadap mereka (yang mengolok-olokkan Sunnah)? Dan bagaimanakah memperlakukan mereka, apakah dengan mengisolir, mencerca dan memutuskan hubungan dengan mereka?!
"Tidak... tidak demikian.... Bahkan orang-orang di zaman kita ini telah menganggap mereka ini sebagai para da'i, para 'ulama dan para mujaddid (pembaharu Islam)!!!"

Alangkah mengherankan...?!! Apabila telah demikian keadaan para da'inya, maka bagaimana pula dengan keadaan mad'unya (orang-orang yang diserunya)?!!"

Berkata Ibnu Baththah: "Ambillah pelajaran oleh kalian... Wahai orang-orang yang memiliki pandangan.... Alangkah jauhnya perbedaan antara mereka, orang-orang yang memiliki akal, para tokoh, orang-orang yang baik dan orang-orang pilihan (yakni Salafush Shalih), yang hati-hati mereka dipenuhi dengan ghiirah (kecemburuan) terhadap keimanan mereka dan marah kalau agama dicela atau dikurang-kurangi, dengan mereka (orang-orang) di zaman kita yang kita hidup di dalamnya, kita berada di antara punggung-punggung mereka (hidup bersama mereka)?!

Inilah 'Abdullah bin Mughaffal -shahabat Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan tokohnya para tokoh mereka- memutuskan silaturrahmi dan meninggalkan kawan dekat/kekasihnya, ketika kawan dekatnya tersebut menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan dia juga telah bersumpah untuk memutuskan hubungan kepadanya dan meninggalkannya, dalam keadaan dia mengetahui apa-apa yang terdapat di dalam masalah silaturrahmi dan memutuskan hubungan kekeluargaan!

Begitu juga 'Ubadah bin Ash-Shamit dan Abu Darda` -Rasulullah telah menamakan beliau sebagai hakim ummat ini- serta Abu Sa'id Al-Khudriy, mereka semua pergi dari tempat tinggal mereka dan pindah dari negeri mereka serta menampakkan kepergian mereka kepada kawan-kawan mereka hanya dikarenakan ada seseorang yang menentang hadits Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam dan tidak mau mendengarkan Sunnah!

Duhai kiranya.... Bagaimanakah keadaan kita nanti di hadapan Allah 'Azza wa Jalla, yang kita selalu bertemu dengan orang-orang yang menyimpang di waktu pagi dan sore, mereka selalu mengolok-olokkan ayat-ayat Allah dan menentang Sunnah Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam, mereka menjauhkan diri dari Sunnah tersebut dan mengingkarinya?! Semoga Allah menyelamatkan kami dan kalian dari penyimpangan dan ketergelinciran." (Al-Ibaanah hal.259)

Wahai Saudaraku.... Sesungguhnya memperolok-olokkan Sunnah dan mencemoohkannya adalah suatu kejelekan yang betul-betul kejelekan!!
Berkata 'Abdullah Ad-Dailamiy: "Telah sampai kepadaku bahwa pertama kali hilangnya agama ini adalah dengan ditinggalkannya Sunnah, akan hilang agama ini satu Sunnah demi satu Sunnah sebagaimana tali akan lapuk satu kekuatan demi satu kekuatan." (Sunan Ad-Daarimiy 1/58 dan Al-Laalikaa`iy 1/93)

Oleh karena itu.... Kembalilah wahai para da'i kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaful Ummah (Salafush Shalih).
"Maka setiap kebaikan itu di dalam mengikuti Salafush Shalih dan setiap kejelekan itu ada pada bid'ahnya orang-orang Khalaf (yang menyelisihi Salafush Shalih)."

Berkata Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab di dalam risalahnya (Nawaaqidhul Islaam/ Pembatal-pembatal Keislaman):
"Barangsiapa yang membenci sesuatu dari apa-apa yang dibawa oleh Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam, walaupun dia beramal dengannya, maka dia telah kafir!! Dalilnya firman Allah Ta'ala: "Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (Al-Qur`an), lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amalan-amalan mereka." (Muhammad:9)
"Dan barangsiapa yang memperolok-olokkan sesuatu dari agama Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam atau pahala Allah atau siksaan-Nya, maka dia telah kafir!!" Dalilnya firman Allah Ta'ala: "Katakanlah: "Apakah dengan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok? Tidak usah kalian cari alasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah:65-66)

Berkata Sulaiman bin 'Abdullah bin Muhammad bin 'Abdul Wahhab: "Para 'ulama telah sepakat atas kafirnya seseorang yang melakukan sesuatu dari hal itu (membenci atau istihzaa`), maka barangsiapa yang memperolok-olokkan Allah atau Kitab-Nya atau Rasul-Nya atau Agama-Nya, maka dia telah kafir secara ijma' (kesepakatan 'ulama) walaupun dalam keadaan bersenda gurau, tidak bermaksud benar-benar untuk memperolok-olokkannya." (Taisiirul 'Aziizil Hamiid hal.617)

Wahai Para Da'i.... Sesungguhnya perkara ini adalah sangat berbahaya sekali. Maka sesungguhnya kalian seandainya mau membandingkan antara apa yang telah dilakukan oleh orang tersebut (dari kalangan munafiq -pent.) di dalam Perang Tabuk yang dengan sebabnyalah turunnya ayat ini (At-Taubah:65-66), dengan apa yang telah dikatakan oleh sebagian orang-orang yang menisbatkan dirinya kepada dakwah pada hari ini, niscaya kalian akan mendapatkan bahwa perkataan mereka (orang-orang sekarang ini) lebih besar dan lebih keras lagi (kejelekannya) daripada perkataan mereka (orang-orang yang di zaman Rasul shollallahu 'alaihi wa sallam). Wallaahul Musta'aan.

"Ya Rabb kami.... Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)." (Aali 'Imraan:8). Wallaahu A'lam.

Diringkas dari kitab "Ta'zhiimus Sunnah" karya 'Abdul Qayyum As-Sahaibaniy hal.35-53.
Sumber: Buletin Al Wala' Wal Bara' Edisi ke-30 Tahun ke-2