“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)
Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?
Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.
Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:
Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.
Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.
Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.
Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.
Kita paham bahwa shalat yang baik – khususnya shalat malam – adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.
Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.
Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.
Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:
Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?
Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.
Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?
Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.
Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.
Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Sunday, July 1, 2012
Saturday, June 30, 2012
Ashriyanti, Nabi Palsu dari Maluku Utara
NABI palsu kembali beredar. Kali ini datang dari Maluku Utara. Seorang perempuan bernama lengkap Ashriyanti Samuda (30), warga Kabupaten Kepulauan Sula, mengklaim dirinya sebagai seorang rasul (nabi).
Pengakuan sebagai nabi itu diketahui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara sejak dua bulan lalu. Namun, MUI Maluku Utara baru memanggil yang bersangkutan untuk disidang pada 15 Juni lalu.
Saat disidang, Ashriyanti tetap berkeras mengklaim dirinya sebagai utusan Tuhan. Hal ini diungkapkan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan MUI Maluku Utara, Rabia M Alhadar, saat pelantikan pengurus MUI Kabupaten Pulau Morotai, Jumat (29/6/2012) kemarin.
Rabia mengatakan, pengakuan Ashriyanti sebagai nabi muncul pada pertengahan Mei 2012 lalu. Mencuatnya pengakuan “nabi palsu” oleh Ashriyanti ini lantaran diterbitkannya sebuah buku dengan judul “Pemimpin yang Diutus Cahaya dari Indonesia Timur for Presiden RI 2014”.
Setelah diteliti, buku tersebut tidak memiliki penerbit yang jelas. Diduga buku tersebut dicetak sendiri oleh Ashriyanti. Beruntung, buku yang intinya mengklaim penulis sebagai utusan Tuhan itu belum beredar luas di masyarakat.
“Kita sudah panggil dia untuk berdialog dan kita sidangkan dia. Dia seolah mengklaim dirinya seorang nabi sebagai utusan Allah,” kata Rabia seperti dikutip dari Kompas.
Menariknya, lanjut Rabia, saat MUI bertanya tentang jumlah umat yang sudah mengikutinya, dengan santai Ashriyanti mengklaim semua orang adalah umatnya.
“Dia malah menjawab, Anda-anda ini umat saya,” kisah Rabia.
Sejauh ini, MUI Maluku Utara sendiri belum bisa mengindentifikasi jumlah pengikut “nabi palsu” ini. Sebab, menurut Rabia, cara penjaringan pengikut Ashriyanti dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun, diduga pengikut Ashriyanti ada di Kepulauan Sula dan di Ternate. Saat ini, aktivitas Ashriyanti berada dalam pengawasan MUI Maluku Utara.
“Dia ini PNS di Sula. Kini dia melakukan aktivitas sembunyi-sembunyi di Sabia (salah satu kelurahan di Kota Ternate Tengah). Bahkan, dia ada pengikutnya,” tambah Rabia.
Rabia kembali menambahkan, status Ashriyanti sebagai PNS di Kepulauan Sula pun diduga tidak lagi aktif. Hal tersebut karena yang bersangkutan jarang beraktivitas sebagai PNS.
Atas nama MUI Maluku Utara, Rabia lantas mengimbau kepada seluruh umat Muslim Maluku Utara agar tidak terpancing dengan ajaran-ajaran yang sesat seperti dibawakan oleh Ashriyanti.
“Karena dalam Al-Qur’an sudah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang paling terakhir. Bila ada yang mengaku sebagai nabi di zaman sekarang ini, maka itu dikategori ajaran sesat yang dirasuki oleh syaitan,” imbau Rabia.
http://islampos.com/ashriyanti-nabi-palsu-dari-maluku-utara/
Pengakuan sebagai nabi itu diketahui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku Utara sejak dua bulan lalu. Namun, MUI Maluku Utara baru memanggil yang bersangkutan untuk disidang pada 15 Juni lalu.
Saat disidang, Ashriyanti tetap berkeras mengklaim dirinya sebagai utusan Tuhan. Hal ini diungkapkan Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan MUI Maluku Utara, Rabia M Alhadar, saat pelantikan pengurus MUI Kabupaten Pulau Morotai, Jumat (29/6/2012) kemarin.
Rabia mengatakan, pengakuan Ashriyanti sebagai nabi muncul pada pertengahan Mei 2012 lalu. Mencuatnya pengakuan “nabi palsu” oleh Ashriyanti ini lantaran diterbitkannya sebuah buku dengan judul “Pemimpin yang Diutus Cahaya dari Indonesia Timur for Presiden RI 2014”.
Setelah diteliti, buku tersebut tidak memiliki penerbit yang jelas. Diduga buku tersebut dicetak sendiri oleh Ashriyanti. Beruntung, buku yang intinya mengklaim penulis sebagai utusan Tuhan itu belum beredar luas di masyarakat.
“Kita sudah panggil dia untuk berdialog dan kita sidangkan dia. Dia seolah mengklaim dirinya seorang nabi sebagai utusan Allah,” kata Rabia seperti dikutip dari Kompas.
Menariknya, lanjut Rabia, saat MUI bertanya tentang jumlah umat yang sudah mengikutinya, dengan santai Ashriyanti mengklaim semua orang adalah umatnya.
“Dia malah menjawab, Anda-anda ini umat saya,” kisah Rabia.
Sejauh ini, MUI Maluku Utara sendiri belum bisa mengindentifikasi jumlah pengikut “nabi palsu” ini. Sebab, menurut Rabia, cara penjaringan pengikut Ashriyanti dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun, diduga pengikut Ashriyanti ada di Kepulauan Sula dan di Ternate. Saat ini, aktivitas Ashriyanti berada dalam pengawasan MUI Maluku Utara.
“Dia ini PNS di Sula. Kini dia melakukan aktivitas sembunyi-sembunyi di Sabia (salah satu kelurahan di Kota Ternate Tengah). Bahkan, dia ada pengikutnya,” tambah Rabia.
Rabia kembali menambahkan, status Ashriyanti sebagai PNS di Kepulauan Sula pun diduga tidak lagi aktif. Hal tersebut karena yang bersangkutan jarang beraktivitas sebagai PNS.
Atas nama MUI Maluku Utara, Rabia lantas mengimbau kepada seluruh umat Muslim Maluku Utara agar tidak terpancing dengan ajaran-ajaran yang sesat seperti dibawakan oleh Ashriyanti.
“Karena dalam Al-Qur’an sudah menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang paling terakhir. Bila ada yang mengaku sebagai nabi di zaman sekarang ini, maka itu dikategori ajaran sesat yang dirasuki oleh syaitan,” imbau Rabia.
http://islampos.com/ashriyanti-nabi-palsu-dari-maluku-utara/
"Makan dulu ya anakku sayang..."
Sebuah foto yang menggambarkan seorang ibu berumur 97 tahun di Cina yang sedang menyuapi dan merawat anaknya yang lumpuh yang sudah berumur 60 tahun. Ini sudah dilakukannya sejak 19 tahun yang lalu.
Foto ini mengingatkan betapa cinta seorang ibu tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Sudahkah hari ini kita bersyukur kepada Allah sebab diberiNya kesehatan, kebebasan meski belum tentu kita membalas cintaNya dengan cara-cara ksatria dan penuh membahagia?
Foto ini mengingatkan betapa cinta seorang ibu tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Sudahkah hari ini kita bersyukur kepada Allah sebab diberiNya kesehatan, kebebasan meski belum tentu kita membalas cintaNya dengan cara-cara ksatria dan penuh membahagia?
RENUNGAN : HARI ITU ENGKAU DATANG DAN MENYAPAKU
Hari itu seperti biasa, aku ada di stasiun Palmerah dan duduk di tepi pagar besi menunggu pembeli daganganku, pecel lontong dengan gorengan. Biasanya orang kantoran yang tidak sempat sarapan mampir dan membeli daganganku. Beberapa malah jadi langgananku.
Lalu hari itu menjelang siang, seorang mbak berbaju seperti anak kuliahan datang menghampiri. Tiba-tiba dia tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Tumben ada orang mau beli sarapan pakai kenalan segala.
Tapi ternyata si mbak bilang kalau mau ngobrol sebentar. Ahh, kirain beli. Ya sudah, saya layani si mbak ini.
Si mbak tanya tentang keadaanku,
Aku menjawab bahwa aku sudah tua. Sebenarnya sudah ndak pantas jualan seperti ini di usia senja ini, mana gampang sakit karena penyakit pengeroposan tulang makin lama makin menyiksa. Tapi apa boleh buat, harus bekerja biar bisa hidup.
Lalu si mbak tanya tentang anak.
Aku bilang kalau anakku ada dua. Yang sulung ikut suaminya kerja di Priok. Dia jarang ketemu, mungkin karena tidak ada yang bisa dia berikan ke aku, ibunya. sedang suaminya buruh lepas pelabuhan. Mereka lebih prihatin hidupnya. "Hidup ini keras," begitu bisikku padanya dan dia mengangguk. Menangis.
Anak kedua ada di rumah. dia tidak bisa kemana-mana. Kata orang puskesmas, dia kena penyakit polio. padahal dia lebih cantik dari kakaknya. dan tidak ada laki-laki yang mau mempersuntingnya meski dia selalu haus membaca semua buku-buku dan pelajaran apapun termasuk dari tv. tapi dia tidak bisa kemana-mana, kursi roda saja kami tidak mampu beli. tapi dia sayang sama aku, ibunya. juga sayang sama kakaknya.
Lalu si mbak bertanya tentang suamiku.
Aku tersenyum kecut lalu menangis mendengarnya. Lelaki yang aku cintai, yang darinya aku punya dua putri itu telah lama pergi dan tidak mungkin kembali itu ditanyakannya juga.
Si mbak itu mengejar, apakah suamiku pergi dengan perempuan lainkah? Tanyanya diawali kata maaf sebab dia tidak ingin membuat aku tersinggung.
Aku menjawab, bukan. Suamiku laki-laki baik. Sholatnya tekun, tidak melanggar larangan agama, sampai...
Si mbak menunggu kalimat lanjutannya.
Tapi aku menangis. Mengusap air mataku dengan serbet kumal yang setia menemaniku. Dia menunggu lanjutan kata-kataku.
Sampai dia pergi ke medan konflik di timur negeri ini, dia lalu gugur menemui Robbnya, begitu kata seorang laki-laki pembawa pesan yang menyampaikan berita duka itu bersama lipatan bendera merah putih dan Al Quran di tangannya untukku. "Aku dan kedua puteriku membanggakan laki-laki itu, mbak. Sungguh...." Jawabku sambil menangis. Kuusap lagi air mataku di pagi menjelang siang di hari itu, malu dilihatin sama sekuriti yang menjaga karcis yang kadang-kadang galak mengusir kalau ada pejabat mau lewat naik KRL disini.
Dan jawabanku membuat si mbak terdiam. Kulihat ada airmata menggenang di sudut matanya. Lalu dia memberiku sekedar rezeki dan kenang-kenangan dari orang-orang yang peduli dengan orang sepertiku.
Aku menerimanya dan berterima kasih padanya.
Lalu si mbak itu pamitan dariku, meninggalkan aku sendiri lagi. Tapi aku merasa bahagia. sebab selama aku berjualan disini, jarang yang menyapa seperti ini, bertanya perasaanku, anak-anakku, suamilu almarhum juga mengapa aku ada di sini, bagaimana ceritanya aku bisa disini. Aku merasa bahagia. Dan bukan tidak mungkin, Engkau yang telah mengutus seorang hambaMu barusan, juga hamba-hamba yang lain untuk bergerak bersama menyapa orang-orang seperti kami. Sebab hidup adalah cinta, milikNya. dan kita ada dalam pusaran rahmat, kasih dan karuniaNya. Aku sangat mempercayainya.
~ Irfan Hidayat
Lalu hari itu menjelang siang, seorang mbak berbaju seperti anak kuliahan datang menghampiri. Tiba-tiba dia tersenyum dan memperkenalkan dirinya. Tumben ada orang mau beli sarapan pakai kenalan segala.
Tapi ternyata si mbak bilang kalau mau ngobrol sebentar. Ahh, kirain beli. Ya sudah, saya layani si mbak ini.
Si mbak tanya tentang keadaanku,
Aku menjawab bahwa aku sudah tua. Sebenarnya sudah ndak pantas jualan seperti ini di usia senja ini, mana gampang sakit karena penyakit pengeroposan tulang makin lama makin menyiksa. Tapi apa boleh buat, harus bekerja biar bisa hidup.
Lalu si mbak tanya tentang anak.
Aku bilang kalau anakku ada dua. Yang sulung ikut suaminya kerja di Priok. Dia jarang ketemu, mungkin karena tidak ada yang bisa dia berikan ke aku, ibunya. sedang suaminya buruh lepas pelabuhan. Mereka lebih prihatin hidupnya. "Hidup ini keras," begitu bisikku padanya dan dia mengangguk. Menangis.
Anak kedua ada di rumah. dia tidak bisa kemana-mana. Kata orang puskesmas, dia kena penyakit polio. padahal dia lebih cantik dari kakaknya. dan tidak ada laki-laki yang mau mempersuntingnya meski dia selalu haus membaca semua buku-buku dan pelajaran apapun termasuk dari tv. tapi dia tidak bisa kemana-mana, kursi roda saja kami tidak mampu beli. tapi dia sayang sama aku, ibunya. juga sayang sama kakaknya.
Lalu si mbak bertanya tentang suamiku.
Aku tersenyum kecut lalu menangis mendengarnya. Lelaki yang aku cintai, yang darinya aku punya dua putri itu telah lama pergi dan tidak mungkin kembali itu ditanyakannya juga.
Si mbak itu mengejar, apakah suamiku pergi dengan perempuan lainkah? Tanyanya diawali kata maaf sebab dia tidak ingin membuat aku tersinggung.
Aku menjawab, bukan. Suamiku laki-laki baik. Sholatnya tekun, tidak melanggar larangan agama, sampai...
Si mbak menunggu kalimat lanjutannya.
Tapi aku menangis. Mengusap air mataku dengan serbet kumal yang setia menemaniku. Dia menunggu lanjutan kata-kataku.
Sampai dia pergi ke medan konflik di timur negeri ini, dia lalu gugur menemui Robbnya, begitu kata seorang laki-laki pembawa pesan yang menyampaikan berita duka itu bersama lipatan bendera merah putih dan Al Quran di tangannya untukku. "Aku dan kedua puteriku membanggakan laki-laki itu, mbak. Sungguh...." Jawabku sambil menangis. Kuusap lagi air mataku di pagi menjelang siang di hari itu, malu dilihatin sama sekuriti yang menjaga karcis yang kadang-kadang galak mengusir kalau ada pejabat mau lewat naik KRL disini.
Dan jawabanku membuat si mbak terdiam. Kulihat ada airmata menggenang di sudut matanya. Lalu dia memberiku sekedar rezeki dan kenang-kenangan dari orang-orang yang peduli dengan orang sepertiku.
Aku menerimanya dan berterima kasih padanya.
Lalu si mbak itu pamitan dariku, meninggalkan aku sendiri lagi. Tapi aku merasa bahagia. sebab selama aku berjualan disini, jarang yang menyapa seperti ini, bertanya perasaanku, anak-anakku, suamilu almarhum juga mengapa aku ada di sini, bagaimana ceritanya aku bisa disini. Aku merasa bahagia. Dan bukan tidak mungkin, Engkau yang telah mengutus seorang hambaMu barusan, juga hamba-hamba yang lain untuk bergerak bersama menyapa orang-orang seperti kami. Sebab hidup adalah cinta, milikNya. dan kita ada dalam pusaran rahmat, kasih dan karuniaNya. Aku sangat mempercayainya.
~ Irfan Hidayat
Friday, June 29, 2012
Mursi: Saya Tak Takut Siapapun, Kecuali Allah
Presiden Mesir terpilih Mohamed Mursi tiba-tiba muncul di tengah kerumunan massa di alun-alun Tahrir, Kairo yang tengah berdemonstrasi menentang kekuasaan militer yang besar, Jumat (29/6/2012).
Di hadapan rakyatnya, Mursi membuka jaketnya untuk menunjukkan bahwa ia tidak memakai jaket anti peluru. Ia menyatakan. “Saya merasa tentram. Saya bersyukur kepada Allah SWT dan kepada kalian semua. Saya tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT.”
Di alun-alun itu, secara sembolik massa melantik Mursi sebagai presiden. Mursi juga kemudian membacakan sumpahnya di hadapan rakyat, yang ia sebut sebagai sumber kekuasaan terbesar. Pelantikan secara resminya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi hari ini (Sabtu 30/6/2012).
Mursi berjanji akan menjadi presiden untuk segenap rakyat Mesir, sambil menyatakan bahwa, “Revolusi harus dilanjutkan hingga tercapai tujuan. Saya berjanji tidak akan tunduk pada kekuasaan lain.” Yang ia maksud adalah kekuasaan yang dideklarasikan oleh Dewan Agung Angkatan Bersenjata.
Ia juga berjanji akan membebaskan seluruh warga sipil yang ditahan oleh militer dan akan menegakkan keadilan bahwa warga yang tewas dalam konflik tahun lalu.
Mursi juga berjanji akan berupaya membebaskan tokoh Islam militan, Omar Abdel-Rahman yang ditahan di AS terkait pengeboman gedung World Trade Center pada 1993.
Di hadapan rakyatnya, Mursi membuka jaketnya untuk menunjukkan bahwa ia tidak memakai jaket anti peluru. Ia menyatakan. “Saya merasa tentram. Saya bersyukur kepada Allah SWT dan kepada kalian semua. Saya tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah SWT.”
Di alun-alun itu, secara sembolik massa melantik Mursi sebagai presiden. Mursi juga kemudian membacakan sumpahnya di hadapan rakyat, yang ia sebut sebagai sumber kekuasaan terbesar. Pelantikan secara resminya dilakukan oleh Mahkamah Konstitusi hari ini (Sabtu 30/6/2012).
Mursi berjanji akan menjadi presiden untuk segenap rakyat Mesir, sambil menyatakan bahwa, “Revolusi harus dilanjutkan hingga tercapai tujuan. Saya berjanji tidak akan tunduk pada kekuasaan lain.” Yang ia maksud adalah kekuasaan yang dideklarasikan oleh Dewan Agung Angkatan Bersenjata.
Ia juga berjanji akan membebaskan seluruh warga sipil yang ditahan oleh militer dan akan menegakkan keadilan bahwa warga yang tewas dalam konflik tahun lalu.
Mursi juga berjanji akan berupaya membebaskan tokoh Islam militan, Omar Abdel-Rahman yang ditahan di AS terkait pengeboman gedung World Trade Center pada 1993.
Thursday, June 28, 2012
DUNIA DI PENGHUJUNG KEJATUHAN KEKUASAAN AMERIKA
Buku apakah yang di pegang Obama....Beberapa hari yang lalu ketika Presiden Obama turun dari pesawat, juru kamera sempat memfokuskan lensa kameranya ke arah buku yang di bawa Obama, buku tersebut berjudul " THE POST AMERICAN WORLD" yang di tulis oleh seorang muslim bernama "FARID RAFIQ ZAKARIA",tahukah anda buku ini berisi tentang "DUNIA DI PENGHUJUNG KEJATUHAN KEKUASAAN AMERIKA" ya tent u saja Obama khawatir pasca terpilihnya tokoh Ikhwanul Muslimin sebagai Presiden Mesir.
Selama ini Mesir merupakan salah satu sekutunya di Timur Tengah selain Israel, kekhawatiran Obama sangat beralasan karena Mesir memiliki pengaruh yang besar di Timut tengah, karena mesir memiliki kekuatan militer yang cukup kuat.
Selama ini Mesir merupakan salah satu sekutunya di Timur Tengah selain Israel, kekhawatiran Obama sangat beralasan karena Mesir memiliki pengaruh yang besar di Timut tengah, karena mesir memiliki kekuatan militer yang cukup kuat.
Hari-hari Presiden Terpilih Muhammad Mursi
Presiden Mesir terpilih Muhammad Mursi, seorang akademisi dan hidup sehari-hari secara sederhana, kini mengalami kerepotan. Ia harus mengubah cara hidupnya lantaran tuntutan protokol kepresidenan, terutama menyangkut keamanannya.
Mursi tinggal di rumah kontrakan di distrik Tajamu’ al Khamis, Kairo baru. Mursi dan keluarganya hanya memiliki rumah di Zagazig, 100 kilometer arah timur Kairo. Mereka terpaksa mengontrak rumah di Kairo setelah Mursi menjadi ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sayap politik Ikhwanul Muslimin, April tahun lalu.
Mursi dan keluarganya yang memiliki dasar agama sangat kuat dan amat disiplin dalam beribadah bersikeras selalu shalat di masjid meskipun telah menjadi presiden.
Mursi terkejut setiap akan shalat subuh di masjid dekat rumahnya, melihat pengamanan sangat ketat dari pasukan pengawal presiden. Jalan-jalan di sekitar rumahnya diawasi petugas yang siaga. Bahkan, jalan-jalan sekitar rumah Mursi ditutup ketika presiden terpilih itu lewat. Mursi pun mengeluhkan sistem pengamanan yang sangat ketat itu.
Sumber pasukan pengawal presiden (paswalpres) mengungkapkan, Mursi meminta sistem pengamanannya diperlonggar dan konvoi kendaraan yang mengiringi saat bepergian dikurangi supaya tidak mengganggu lalu lintas.
Kendaraan yang mengiringi presiden ini terdiri dari 10 mobil pengawal, sebuah ambulans, serta beberapa sepeda motor polisi. Namun, pihak pengawal mengatakan sistem pengamanan seperti itu sudah standar terhadap seorang presiden.
Pihak paswalpres telah meminta secara resmi agar Mursi pindah dari rumah kontrakannya sekarang yang agak jauh dari kantor presiden di Istana Al Ittihadiyah, ke Istana Al Salam yang berdampingan. Namun, Mursi masih menolak pindah.
Menurut harian Misri al Youm, paswalpres mencari jalan tengah dengan mengusulkan agar Mursi menjalankan shalat di masjid yang lebih dekat dengan rumahnya, atau masjid dekat istana Al Ittihadiyah jika nanti pindah ke istana Al Salam.
Ketika mengunjungi kantor kepresidenan, Senin dan Selasa lalu, Mursi selalu menjadi imam dalam shalat bersama para pegawai istana.
Mursi diberitakan mendadak marah ketika melihat anggota paswalpres berdiri di bawah terik matahari. Setelah bertanya kepada komandan pengawal, Mursi meminta anggota pengawal yang berdiri di bawah terik matahari segera bubar dan mencari tempat teduh.
Menurut harian al Ahram, secara protokol, presiden tidak harus tinggal di istana, tetapi bisa tinggal di vila atau rumah sewaan. Istri presiden juga tidak harus mendampingi presiden dalam acara resmi dan tidak perlu menemani bila presiden bepergian ke luar negeri.
Paswalpres kini juga direpotkan oleh istri Mursi, Sayyidah Nagla Mahmud, yang belum mau pindah dari Zagazig ke kota Kairo karena harus menunggui putra bungsunya, Abdullah, menyelesaikan ujian akhir sekolah menengah. Paswalpres pun menempatkan 10 petugas dan tiga kendaraan untuk mengamankan rumah Mursi di Zagazig, tak jauh dari Universitas Zagazig itu.
Mursi juga memerintahkan tidak memasang fotonya di kantor pemerintah atau di mana saja. Hal itu berbeda dengan kebiasaan pemimpin Arab yang suka jika fotonya dipasang di mana-mana, bahkan membuat patung dirinya. (Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir)
Mursi tinggal di rumah kontrakan di distrik Tajamu’ al Khamis, Kairo baru. Mursi dan keluarganya hanya memiliki rumah di Zagazig, 100 kilometer arah timur Kairo. Mereka terpaksa mengontrak rumah di Kairo setelah Mursi menjadi ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (FJP), sayap politik Ikhwanul Muslimin, April tahun lalu.
Mursi dan keluarganya yang memiliki dasar agama sangat kuat dan amat disiplin dalam beribadah bersikeras selalu shalat di masjid meskipun telah menjadi presiden.
Mursi terkejut setiap akan shalat subuh di masjid dekat rumahnya, melihat pengamanan sangat ketat dari pasukan pengawal presiden. Jalan-jalan di sekitar rumahnya diawasi petugas yang siaga. Bahkan, jalan-jalan sekitar rumah Mursi ditutup ketika presiden terpilih itu lewat. Mursi pun mengeluhkan sistem pengamanan yang sangat ketat itu.
Sumber pasukan pengawal presiden (paswalpres) mengungkapkan, Mursi meminta sistem pengamanannya diperlonggar dan konvoi kendaraan yang mengiringi saat bepergian dikurangi supaya tidak mengganggu lalu lintas.
Kendaraan yang mengiringi presiden ini terdiri dari 10 mobil pengawal, sebuah ambulans, serta beberapa sepeda motor polisi. Namun, pihak pengawal mengatakan sistem pengamanan seperti itu sudah standar terhadap seorang presiden.
Pihak paswalpres telah meminta secara resmi agar Mursi pindah dari rumah kontrakannya sekarang yang agak jauh dari kantor presiden di Istana Al Ittihadiyah, ke Istana Al Salam yang berdampingan. Namun, Mursi masih menolak pindah.
Menurut harian Misri al Youm, paswalpres mencari jalan tengah dengan mengusulkan agar Mursi menjalankan shalat di masjid yang lebih dekat dengan rumahnya, atau masjid dekat istana Al Ittihadiyah jika nanti pindah ke istana Al Salam.
Ketika mengunjungi kantor kepresidenan, Senin dan Selasa lalu, Mursi selalu menjadi imam dalam shalat bersama para pegawai istana.
Mursi diberitakan mendadak marah ketika melihat anggota paswalpres berdiri di bawah terik matahari. Setelah bertanya kepada komandan pengawal, Mursi meminta anggota pengawal yang berdiri di bawah terik matahari segera bubar dan mencari tempat teduh.
Menurut harian al Ahram, secara protokol, presiden tidak harus tinggal di istana, tetapi bisa tinggal di vila atau rumah sewaan. Istri presiden juga tidak harus mendampingi presiden dalam acara resmi dan tidak perlu menemani bila presiden bepergian ke luar negeri.
Paswalpres kini juga direpotkan oleh istri Mursi, Sayyidah Nagla Mahmud, yang belum mau pindah dari Zagazig ke kota Kairo karena harus menunggui putra bungsunya, Abdullah, menyelesaikan ujian akhir sekolah menengah. Paswalpres pun menempatkan 10 petugas dan tiga kendaraan untuk mengamankan rumah Mursi di Zagazig, tak jauh dari Universitas Zagazig itu.
Mursi juga memerintahkan tidak memasang fotonya di kantor pemerintah atau di mana saja. Hal itu berbeda dengan kebiasaan pemimpin Arab yang suka jika fotonya dipasang di mana-mana, bahkan membuat patung dirinya. (Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir)
RENUNGAN : Ucapan Terima Kasih
Seorang anak bertengkar dengan ibunya dan meninggalkan rumah. Saat berjalan ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.
Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar. Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya "Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?"
"Ya, tetapi aku tidak membawa uang," jawab anak itu dengan malu-malu. "Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,"jawab si pemilik kedai.
Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" Tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.
Pemilik kedai itu berkata "Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi, nasi dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.
Anak itu kaget mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?
Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih,
tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.
Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam."
Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.
Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering lupa untuk berterima kasih. :D
Ia melewati sebuah kedai bakmi. Ia ingin sekali memesan semangkok bakmi karena lapar. Pemilik bakmi melihat anak itu berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu bertanya "Nak, apakah engkau ingin memesan bakmi?"
"Ya, tetapi aku tidak membawa uang," jawab anak itu dengan malu-malu. "Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu,"jawab si pemilik kedai.
Anak itu segera makan. Kemudian air matanya mulai berlinang. "Ada apa Nak?" Tanya si pemilik kedai. "Tidak apa-apa, aku hanya terharu karena seorang yg baru kukenal memberi aku semangkuk bakmi tetapi ibuku sendiri setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah. Kau seorang yang baru kukenal tetapi begitu peduli padaku.
Pemilik kedai itu berkata "Nak, mengapa kau berpikir begitu? Renungkan hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi & kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi, nasi dll sampai kamu dewasa, harusnya kamu berterima kasih kepadanya.
Anak itu kaget mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal itu?
Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih,
tetapi terhadap ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak peduli.
Anak itu segera menghabiskan bakminya lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih & cemas. Ketika melihat anaknya, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Nak, kau sudah pulang, cepat masuk, aku telah menyiapkan makan malam."
Mendengar hal itu, si anak tidak dapat menahan tangisnya & ia menangis di hadapan ibunya.
Sekali waktu kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada orang lain untuk suatu pertolongan kecil yg diberikannya pada kita. Namun kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita sering lupa untuk berterima kasih. :D
TAHUKAH ENGKAU SIAPA HUDAIR RADHIYALLAHU 'ANHU ?
Banyak orang yang dilupakan manusia, namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak melupakannya. Ini dikarenakan keikhlasan orang-orang seperti itu, yang banyak menyebut Allah secara sembunyi-sembunyi jauh dari pandangan mata manusia.Nafi’ meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam pernah mengirim satu ekspedisi militer, yang diantara mereka ada seseorang yang biasa dipanggil Hudair. Tahun itu adalah tahun paceklik dan kekurangan makanan. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam memberikan bekal kepada mereka semua, sementara beliau lupa memberikan bekal kepada Hudair. Namun, Hudair tetap berangkat dengan sabar dan mengharapkan ridha Allah.
Hudair berada di barisan paling belakang sambil tiada henti mengucapkan kalimat ” La ilaha illallah wallahu akbar wal hamdu lillah wa subhanallah wa la haula wa la quwwata illa billah “. Dia berkata, “Sebaik-baik bekal adalah dzikir ini wahai Tuhanku”. Hudair tak berhenti mengucapkannya.
Ibnu Umar menuturkan, Jibril lalu mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau, ” Sesungguhnya Rabb-ku mengutusku kepadamu, untuk mengabarkan kepadamu bahwa engkau telah memberikan bekal kepada rekan-rekanmu, sementara engkau lupa memberikan bekal kepada Hudair. Dia berada di barisan paling belakang sambil mengucapkan ” La ilaha illallah wallahu akbar wal hamdu lillah wa subhanallah wa la haula wa la quwwata illa billah “. Dia juga berkata, “Sebaik-baik bekal adalah dzikir ini wahai Tuhanku”.
Jibril berkata lagi, “Perkataannya itu merupakan cahaya baginya pada Hari Kiamat , yang ada diantaranya langit dan bumi. Karena itu kirimlah bekal untuknya”.
Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam lalu memanggil seorang Shahabat, dan mengutusnya untuk membawakan bekal kepada Hudair serta memerintahkan agar dia terus mengucapkan dzikir itu ketika bekal sudah diterima. Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bertitah kepada utusan itu, agar menyampaikan pesan kepada Hudair, ” Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyampaikan salam kepadamu dan beliau lupa memberikan bekal kepadamu. Beliau berpesan, Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengutus Jibril kepada beliau dan mengingatkan beliau tentang dirimu, dan memberitahukan keadaan serta posisimu “.
Ketika utusan itu dapat menyusulnya, Hudair sedang mengucapkan dzikir tersebut. Dia mendekati Hudair dan berkata, ” Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menyampaikan salam kepadamu dan mengutusku untuk menyerahkan bekal ini kepadamu. Beliau berpesan, bahwa beliau lupa terhadap dirimu. Jibril pun diutus dari langit untuk mengingatkan keberadaan dirimu “.
Hudair menjawab, “Segala puja dan puji bagi Allah serta shalawat atas Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam”. Setelah itu dia berkata lagi, Segala puji bagi Allah, Tuhan penguasa semesta alam karena Allah telah mengingat aku dari atas langit yang ketujuh dan dari atas ‘Arsy-Nya yang mengasihi rasa lapar dan kelemahan diriku. Ya Rabbi, sebagaimana Engkau tidak melupakan Hudair, maka buatlah Hudair tidak lupa kepada-Mu “.
Hudair pun terus mengucapkan apa yang diucapkannya hingga dia kembali lagi kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Beliau kemudian mendengarkan apa yang dikabarkan Hudair dan apa yang didengarnya. Setelah itu Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda, ” Sesungguhnya jika engkau menengadahkan kepala kelangit, tentu engkau akan melihat perkataan itu memilki cahaya yang terang diantara langit dan bumi “. (Shifat ash-Shafwah, jilid 1 hal.743)
Disalin dari buku ” AL-AKHFIYA’ “ Edisi Indonesia hal. 103-106 oleh Walid bin Sa’id Bahakam. Penerbit: Daun Publishing, dengan sedikit penambahan kata dari admin.
Wednesday, June 27, 2012
Menangkap inspirasi & isyarat Qur'ani dari usaha saudara-saudara kita di Mesir sampai saat ini
Sebagaimana telah dijelaskan, surat ini dinamakan dengan Al Ahzaab terkait dengan banyaknya golongan yang muncul dari luar dan dalam Madinah. Tidak diragukan lagi, bahwa mendamaikan kelompok-kelompok yang muncul dari dalam dan menguasai mereka sangat sulit dibandingkan dengan kelompok-kelompok yang muncul dari luar, Allah binasakan dengan angin yang dikirimkan kepada mereka.
"..lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya" (Al Ahzaab: 9)
Sementara itu, untuk kelompok atau golongan yang datang dari dalam, seandainya berhasil didamaikan (disatukan), akan memperkuat umat sehingga memiliki peradaban yang kuat, seperti peradaban bangsa Saba yang akan dijelaskan pada surat berikutnya. Seakan korelasi antara dua surat (Al Ahzab dan Sabaa') berkisar pada risalah sebagai berikut: 'Wahai golongan-golongan yang ada di dalam, bersatulah dan berserahdirilah kalian semua kepada Allah, karena persatuan dan penyerahan diri secara penuh kepada Allah Ta'ala merupakan jalan menuju keabadian semua peradaban.
-SURAT SABAA'-
KEPASRAHAN PERADABAN KEPADA ALLAH
Surat Sabaa' termasuk surat yang menjelaskan tentang ketinggian suatu peradaban, seperti halnya surat An Naml. Hanya saja surat Sabaa' datang sebagai penyempurna bagi surat An Naml terkait makna di dalamnya. Sementara itu, surat An Naml menjelaskan tentang pilar-pilar suatu peradaban, mulai dari ilmu, ketinggian teknologi, dan manajemen. Surat Sabaa' datang untuk menanyakan kepada siapa saja yang hendak membangun umat, berikut peradabannya. 'Berdasarkan apakah peradaban ini berdiri?' Sasaran (tujuan) surat ini adalah mengenai perlunya peradaban bagi keimanan.
Surat ini berbicara tentang dua gambaran peradaban yang kontradiktif, yaitu peradaban yang dilandaskan atas keimanan dan penyerahan diri kepada Allah. Itulah peradaban Nabi Daud dan Sulaiman AS. Peradaban maksiat yang keluar dari jalan Allah, itulah peradaban bangsa Sabaa'.
Kedatangan surat ini menurut tertib atau susunan dalam mushaf diseburkan setelah surat Al Ahzaab. Hal ini memberikan isyarat, bahwa mendamaikan (memperbaiki) kelompok-kelompok yang muncul dari dalam dengan dasar keimanan merupakan jalan untuk membangun sebuah peradaban yang kuat....
Isyarat ini, segala puji bagi Allah, dengan amat baik dibahasakan oleh ustadzuna DR Muhammad Mursi, Al Hafiizh kepada rakyat Mesir dengan Lugas namun menuai berbagai pujian dan semangat revolusi.
Allah, jadikan kami semua,termasuk yang menanti setia janji kemenangan dari-Mu... Allah kuatkan kami...
:::
Saya tidak mungkin berdiri dihadapan anda sekalian kecuali berkat rahmat Allah SWT
Terima kasih dan penghormatan kepada syuhada dan luka-luka teriring doa atas jasa mereka yang telah membukakan pintu
Terima kasih kepada masyarakat Mesir dan militer yang saya cinta. Tidak ada yang mengetahui dalamnya cinta kecuali Allah SWT
Terima kasih kepada hakim Mesir yang tengah mengawasi dan melancarkan pemilu
Dalam pidato Morsi menyebut provinsi-provinsi yang tidak mendapat perhatian dari Mubarak selama 30 tahun
Para buruh, sopir bus, masinis, pengemudi bajaj, para pelajar, semuanya adalah keluarga saya. Saya tidak akan membeda-bedakan
Mari kita melanjutkan perjalanan, agar semua tuntutan revoluasi tercapai
Dahulu kita selalu bertanya-tanya:kapan rakyat akan menjadi sumber kekuasaan sebagaimana di negara lain? Sekarang, Anda sekalian adalah penguasa
Rakyat dan penguasa sama di depan hukum
Saya tidak memiliki hak. Semua yang saya punya hanyalah kewajiban
Apabila saya tidak melaksanakan semua janji-janji saya, maka janganlah patuhi saya
Wa'tashimu bihablillahi jami'an wa laa tafarraqu. Shadaqallahul Adzim
Mari bersama-sama kita pikul proyek kebangkitan. Demi masa depan Mesir
Kita semua bangsa Mesir, Muslim maupun Kristen, kita semua pelaku peradaban
Saya akan menjaga semua perjanjian dengan semua negara. Saling menghargai. Saya tidak izinkan intervensi asing
Ketahuilah semuanya, bahwa semua keputusan Mesir tergantung pada keinginan rakyatnya
Saya paham bahwa kita semua dalam kondisi yang sulit. Tapi dengan taufik Allah kita akan melewati semua ini.
Saya tidak akan menghianati kalian semua. Wattaqu yauman turjauuna fihii ilallahi
Semua orang melihat itu jauh. Tapi kita memandang semua itu dekat.
"..lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya" (Al Ahzaab: 9)
Sementara itu, untuk kelompok atau golongan yang datang dari dalam, seandainya berhasil didamaikan (disatukan), akan memperkuat umat sehingga memiliki peradaban yang kuat, seperti peradaban bangsa Saba yang akan dijelaskan pada surat berikutnya. Seakan korelasi antara dua surat (Al Ahzab dan Sabaa') berkisar pada risalah sebagai berikut: 'Wahai golongan-golongan yang ada di dalam, bersatulah dan berserahdirilah kalian semua kepada Allah, karena persatuan dan penyerahan diri secara penuh kepada Allah Ta'ala merupakan jalan menuju keabadian semua peradaban.
-SURAT SABAA'-
KEPASRAHAN PERADABAN KEPADA ALLAH
Surat Sabaa' termasuk surat yang menjelaskan tentang ketinggian suatu peradaban, seperti halnya surat An Naml. Hanya saja surat Sabaa' datang sebagai penyempurna bagi surat An Naml terkait makna di dalamnya. Sementara itu, surat An Naml menjelaskan tentang pilar-pilar suatu peradaban, mulai dari ilmu, ketinggian teknologi, dan manajemen. Surat Sabaa' datang untuk menanyakan kepada siapa saja yang hendak membangun umat, berikut peradabannya. 'Berdasarkan apakah peradaban ini berdiri?' Sasaran (tujuan) surat ini adalah mengenai perlunya peradaban bagi keimanan.
Surat ini berbicara tentang dua gambaran peradaban yang kontradiktif, yaitu peradaban yang dilandaskan atas keimanan dan penyerahan diri kepada Allah. Itulah peradaban Nabi Daud dan Sulaiman AS. Peradaban maksiat yang keluar dari jalan Allah, itulah peradaban bangsa Sabaa'.
Kedatangan surat ini menurut tertib atau susunan dalam mushaf diseburkan setelah surat Al Ahzaab. Hal ini memberikan isyarat, bahwa mendamaikan (memperbaiki) kelompok-kelompok yang muncul dari dalam dengan dasar keimanan merupakan jalan untuk membangun sebuah peradaban yang kuat....
Isyarat ini, segala puji bagi Allah, dengan amat baik dibahasakan oleh ustadzuna DR Muhammad Mursi, Al Hafiizh kepada rakyat Mesir dengan Lugas namun menuai berbagai pujian dan semangat revolusi.
Allah, jadikan kami semua,termasuk yang menanti setia janji kemenangan dari-Mu... Allah kuatkan kami...
:::
Saya tidak mungkin berdiri dihadapan anda sekalian kecuali berkat rahmat Allah SWT
Terima kasih dan penghormatan kepada syuhada dan luka-luka teriring doa atas jasa mereka yang telah membukakan pintu
Terima kasih kepada masyarakat Mesir dan militer yang saya cinta. Tidak ada yang mengetahui dalamnya cinta kecuali Allah SWT
Terima kasih kepada hakim Mesir yang tengah mengawasi dan melancarkan pemilu
Dalam pidato Morsi menyebut provinsi-provinsi yang tidak mendapat perhatian dari Mubarak selama 30 tahun
Para buruh, sopir bus, masinis, pengemudi bajaj, para pelajar, semuanya adalah keluarga saya. Saya tidak akan membeda-bedakan
Mari kita melanjutkan perjalanan, agar semua tuntutan revoluasi tercapai
Dahulu kita selalu bertanya-tanya:kapan rakyat akan menjadi sumber kekuasaan sebagaimana di negara lain? Sekarang, Anda sekalian adalah penguasa
Rakyat dan penguasa sama di depan hukum
Saya tidak memiliki hak. Semua yang saya punya hanyalah kewajiban
Apabila saya tidak melaksanakan semua janji-janji saya, maka janganlah patuhi saya
Wa'tashimu bihablillahi jami'an wa laa tafarraqu. Shadaqallahul Adzim
Mari bersama-sama kita pikul proyek kebangkitan. Demi masa depan Mesir
Kita semua bangsa Mesir, Muslim maupun Kristen, kita semua pelaku peradaban
Saya akan menjaga semua perjanjian dengan semua negara. Saling menghargai. Saya tidak izinkan intervensi asing
Ketahuilah semuanya, bahwa semua keputusan Mesir tergantung pada keinginan rakyatnya
Saya paham bahwa kita semua dalam kondisi yang sulit. Tapi dengan taufik Allah kita akan melewati semua ini.
Saya tidak akan menghianati kalian semua. Wattaqu yauman turjauuna fihii ilallahi
Semua orang melihat itu jauh. Tapi kita memandang semua itu dekat.
Guyonan Presiden Baru Mesir
Saat kunjungan kerja ke Kementerian Dalam Negeri Mesir, Presiden Mursi menyalami pejabat-pejabat teras di kementerian tersebut yang nampak berbaris rapih dengan seragam putih-putih (seragam musim panas). Menteri Dalam Negeri memperkenalkan satu persatu bawahannya. Presiden Mursi tersenyum saat diperkenalkan dengan salah seorang Jenderal Polisi.
Kata Mendagri Mesir: "Perkenalkan, pria ini adalah Komjen Ibrahim Syarbini."
Presiden pun tersenyum dan berkata, "Tentu saja, saya kenal baik pria ini. Dulu dia yang menangkap saya di rumah jam 2 pagi (Subuh)."
Sang jenderal pun tersipu...
Sebuah guyonan yang mengharukan bagi saya.
Kata Mendagri Mesir: "Perkenalkan, pria ini adalah Komjen Ibrahim Syarbini."
Presiden pun tersenyum dan berkata, "Tentu saja, saya kenal baik pria ini. Dulu dia yang menangkap saya di rumah jam 2 pagi (Subuh)."
Sang jenderal pun tersipu...
Sebuah guyonan yang mengharukan bagi saya.
Rasulullah dan Buah Jeruk
Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu baginda bersama para sahabatnya. Wanita itu membawa beberapa buah jeruk sebagai hadiah untuk baginda. Menggoda sekali buahnya. Siapa yang melihat pasti tergiur. Baginda menerimanya dengan senyuman gembira. Hadiah itu dimakan oleh Rasulullah SAW seulas demi seulas dengan tersenyum.
Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulaspun jeruk itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan seorang diri. Setiap kali makan selalu di iringi dengan senyuman, hinggalah habis semua jeruk itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda.
Sahabat-sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan “Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu asam sewaktu saya mencicipinya pertama kali. Sekiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengkrenyitkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya”
Biasanya Rasulullah SAW akan makan bersama para sahabat, namun kali ini tidak. Tidak seulaspun jeruk itu diberikan kepada mereka. Rasulullah SAW terus makan seorang diri. Setiap kali makan selalu di iringi dengan senyuman, hinggalah habis semua jeruk itu. Kemudian wanita itu meminta diri untuk pulang, diiringi ucapan terima kasih dari baginda.
Sahabat-sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan “Tahukah kamu, sebenarnya buah jeruk itu terlalu asam sewaktu saya mencicipinya pertama kali. Sekiranya kalian turut makan bersama, saya bimbang ada di antara kalian yang akan mengkrenyitkan mata atau memarahi wanita tersebut. Saya bimbang hatinya akan tersinggung. Sebab itu saya habiskan semuanya”
SEGENGGAM GARAM
Suatu pagi, seorang anak muda yang dirundung malang menemui seorang tua yang bijaksana.
Langkah anak muda itu lunglai dan air mukanya kelihatan pucat tidak bermaya serta seperti orang yang tidak bahagia. Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya.
Impiannya tidak tercapai dan gagal dalam kehidupan dan percintaannya. Pak Tua yang bijak itu mendengarnya dengan teliti dan saksama.
Dia kemudian mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu mengambil segelas air.
Dia menabur garam itu ke dalam gelas sebelum mengaduknya dengan sendok
"Coba, minum air ini dan katakan bagaimana rasanya...", ujar Pak Tua itu.
"Asin sampai pahit, pahit sekali," jawab anak muda itu sambil meludahkan sisa minuman dimulutnya, sedangkan Pak Tua itu tersenyum melihat perbuatan tamunya.
Kemudian, dia mengajak tamunya itu untuk berjalan ke tepi telaga, di dalam hutan yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.
Mereka berjalan beriringan dan akhirnya sampai ke tepi telaga bening yang tenang itu.
Pak Tua itu menabur segenggam garam ke telaga itu dan menggunakan sepotong kayu untuk mengaduknya dan menciptakan riak air yang mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah".
Setelah anak muda itu selesai meneguk air, Pak Tua berkata:
"Bagaimana rasanya?"
"Segar." sahut tamunya.
"Apakah kamu rasa asin garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak," jawab si anak muda.
Pak Tua menepuk punggung anak itu lalu mengajaknya duduk berhadapan,
bersimpuh di tepi telaga itu.
"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan adalah umpama segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu akan didapatkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua akan tergantung pada hati kita.
"Jadi, saat kamu rasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai pengalaman hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar daripadanya," katanya.
Pak Tua itu terus memberikan nasihat dengan berkata:
"Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu merendam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Lalu, kedua-duanya pulang.
Mereka sama-sama belajar pada hari itu.
Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan 'segenggam garam' untuk anak muda yang lain,
yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa
Langkah anak muda itu lunglai dan air mukanya kelihatan pucat tidak bermaya serta seperti orang yang tidak bahagia. Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya.
Impiannya tidak tercapai dan gagal dalam kehidupan dan percintaannya. Pak Tua yang bijak itu mendengarnya dengan teliti dan saksama.
Dia kemudian mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu mengambil segelas air.
Dia menabur garam itu ke dalam gelas sebelum mengaduknya dengan sendok
"Coba, minum air ini dan katakan bagaimana rasanya...", ujar Pak Tua itu.
"Asin sampai pahit, pahit sekali," jawab anak muda itu sambil meludahkan sisa minuman dimulutnya, sedangkan Pak Tua itu tersenyum melihat perbuatan tamunya.
Kemudian, dia mengajak tamunya itu untuk berjalan ke tepi telaga, di dalam hutan yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.
Mereka berjalan beriringan dan akhirnya sampai ke tepi telaga bening yang tenang itu.
Pak Tua itu menabur segenggam garam ke telaga itu dan menggunakan sepotong kayu untuk mengaduknya dan menciptakan riak air yang mengusik ketenangan telaga itu.
"Coba ambil air dari telaga ini, dan minumlah".
Setelah anak muda itu selesai meneguk air, Pak Tua berkata:
"Bagaimana rasanya?"
"Segar." sahut tamunya.
"Apakah kamu rasa asin garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak," jawab si anak muda.
Pak Tua menepuk punggung anak itu lalu mengajaknya duduk berhadapan,
bersimpuh di tepi telaga itu.
"Anak muda, dengarlah.
Pahitnya kehidupan adalah umpama segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.
Jumlah dan rasa pahit itu sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu akan didapatkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.
Itu semua akan tergantung pada hati kita.
"Jadi, saat kamu rasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan.
Lapangkanlah dadamu menerima semuanya.
Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai pengalaman hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar daripadanya," katanya.
Pak Tua itu terus memberikan nasihat dengan berkata:
"Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu merendam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."
Lalu, kedua-duanya pulang.
Mereka sama-sama belajar pada hari itu.
Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan 'segenggam garam' untuk anak muda yang lain,
yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa
"Life is so beautiful struggle…"
Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari luar, maka kehdupan di dalam telur tersebut akan berakhir…, tapi, Jika sebuah telur dipecahkan oleh kekuatan dari dalam, maka kehidupan baru telah lahir..
Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup selalu lancar tanpa masalah
Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum disetiap air mata, berkah disetiap cobaan, dan jawaban di setiap Doa.
Jangan pernah menyerah sahabat, Terus berjuanglah….
Life is so beautiful struggle…
Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, maka nikmatilah…
Hidup adalah tantangan, maka hadapilah…
Hidup adalah anugrah, maka terimalah…
Hidup adalah pertandingan, maka menangkanlah..
Hidup adalah Tugas, maka selesaikanlah…
Hidup adalah Cita-cita, maka capailah…
Hidup adalah Misteri, maka singkapkanlah…
Hidup adalah lagu, maka nyanyikanlah…
Hidup adalah Janji, maka penuhilah…
Hidup adalah Keindahan, maka bersyukurlah…
Hidup adalah Teka-teki, maka pecahkanlah..
Satu hal yang membuat kita bahagia adalah CINTA..
Satu hal yang membuat kita tambah dewasa adalah MASALAH..
Satu hal yang membuat kita hancur adalah PUTUS ASA..
Satu hal yang membuat kita maju adalah USAHA….
Satu hal yang membuat kita kuat adalah DOA...
Hal-hal besar selalu dimulai dari dalam, Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup selalu lancar tanpa masalah
Tapi ketahuilah bahwa Dia selalu memberi pelangi di setiap badai, senyum disetiap air mata, berkah disetiap cobaan, dan jawaban di setiap Doa.
Jangan pernah menyerah sahabat, Terus berjuanglah….
Life is so beautiful struggle…
Hidup bukanlah suatu tujuan, melainkan perjalanan, maka nikmatilah…
Hidup adalah tantangan, maka hadapilah…
Hidup adalah anugrah, maka terimalah…
Hidup adalah pertandingan, maka menangkanlah..
Hidup adalah Tugas, maka selesaikanlah…
Hidup adalah Cita-cita, maka capailah…
Hidup adalah Misteri, maka singkapkanlah…
Hidup adalah lagu, maka nyanyikanlah…
Hidup adalah Janji, maka penuhilah…
Hidup adalah Keindahan, maka bersyukurlah…
Hidup adalah Teka-teki, maka pecahkanlah..
Satu hal yang membuat kita bahagia adalah CINTA..
Satu hal yang membuat kita tambah dewasa adalah MASALAH..
Satu hal yang membuat kita hancur adalah PUTUS ASA..
Satu hal yang membuat kita maju adalah USAHA….
Satu hal yang membuat kita kuat adalah DOA...
Membiarkan Papua merdeka?
Berita mengejutkan tayang di situs Indonesia Today. Ulil Abshar Abdalla bilang "Biarkan Saja Papua Merdeka". Tokoh yang pernah menjadi orang nomor satu dan icon Jaringan Islam Liberal ini dengan enteng mengatakan "biar saja Papua meredeka". Seakan pengorbanan para pahlawan yang berjuang merebut Irian Barat (sebagaimana disebut saat itu) tidak ada arti dan harganya sama sekali dalam pandangan orang tersebut.
Siapapun yang pernah mempelajari sejarah kemerdekaan Indonesia pasti tahu, minimal secara umum, perjuangan merebut Irian Barat. Betapa banyak pahlawan yang gugur dalam beberapa operasi militer seperti operasi Trikora dan Pertempuran Laut Aru yang mengakibatkan hancurnya KRI Matjan Tutul. Apakah layak seorang liberal dengan enteng melontarkan pendapat "biarkan saja Papua lepas dari Indonesia" tanpa memperhitungkan pengorbanan para pahlawan tersebut?
Permasalahan Papua memang rumit, namun akarnya sudah jelas, ketidakadilan di berbagai bidang terutama ekonomi. Perusahaan-perusahaan penambangan asing dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Papua sementara rakyat di sana masih berbaku hantam dalam bentuk Perang Antar Suku. Rakyat Papua hingga hari ini masih banyak yang terbelakang, miskin dan primitif. Mungkin tradisi perang antar suku itu memang sengaja dipelihara agar kekayaan alam Papua bisa dikeruk dengan mudah. Ketidakadilan itu sendiri berawal dari lemahnya ketegasan pemerintah dalam menghadapi intervensi asing, terutama dari Barat khususnya Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan merajalelanya korupsi di berbagai bidang, termasuk di tubuh partai si Ulil sendiri. Semua itu semakin membenarkan kebenaran pepatah lama di Indonesia, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Orang-orang liberal yang mulutnya berbusa-busa menyerukan kebebasan ternyata malah menjerumuskan Indonesia ke dalam penjajahan moderen yang jauh lebih mengerikan daripada penjajahan era kolonial. Jika benar Papua merdeka dan lepas dari NKRI, apakah rakyatnya bakal sejahtera? Belum tentu. Bahkan mungkin malah semakin menderita karena kapitalis pengeruk sumber daya alam di sana jelas bukan kaum filantropis yang peduli pada sesama. Mereka hanya peduli pada kepentingan ekonominya sendiri, masa bodo pada kesejahteraan dan kepentingan orang lain.
Entah kenapa sepertinya salah satu ciri khas orang liberal adalah menggampangkan masalah dan meremehkan orang lain. Betapa pedihnya perasaan para pahlawan yang sudah berjuang berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah jika mereka tahu betapa entengnya lisan orang liberal melecehkan dan menghinakan perjuangan mereka. Lontaran-lontaran pendapat khas orang-orang liberal itu memang sangat pas dengan definisi Rasulullah tentang kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu
Siapapun yang pernah mempelajari sejarah kemerdekaan Indonesia pasti tahu, minimal secara umum, perjuangan merebut Irian Barat. Betapa banyak pahlawan yang gugur dalam beberapa operasi militer seperti operasi Trikora dan Pertempuran Laut Aru yang mengakibatkan hancurnya KRI Matjan Tutul. Apakah layak seorang liberal dengan enteng melontarkan pendapat "biarkan saja Papua lepas dari Indonesia" tanpa memperhitungkan pengorbanan para pahlawan tersebut?
Permasalahan Papua memang rumit, namun akarnya sudah jelas, ketidakadilan di berbagai bidang terutama ekonomi. Perusahaan-perusahaan penambangan asing dengan enaknya mengeruk kekayaan alam Papua sementara rakyat di sana masih berbaku hantam dalam bentuk Perang Antar Suku. Rakyat Papua hingga hari ini masih banyak yang terbelakang, miskin dan primitif. Mungkin tradisi perang antar suku itu memang sengaja dipelihara agar kekayaan alam Papua bisa dikeruk dengan mudah. Ketidakadilan itu sendiri berawal dari lemahnya ketegasan pemerintah dalam menghadapi intervensi asing, terutama dari Barat khususnya Amerika Serikat. Ditambah lagi dengan merajalelanya korupsi di berbagai bidang, termasuk di tubuh partai si Ulil sendiri. Semua itu semakin membenarkan kebenaran pepatah lama di Indonesia, "Kuman di seberang lautan kelihatan, gajah di pelupuk mata tidak tampak". Orang-orang liberal yang mulutnya berbusa-busa menyerukan kebebasan ternyata malah menjerumuskan Indonesia ke dalam penjajahan moderen yang jauh lebih mengerikan daripada penjajahan era kolonial. Jika benar Papua merdeka dan lepas dari NKRI, apakah rakyatnya bakal sejahtera? Belum tentu. Bahkan mungkin malah semakin menderita karena kapitalis pengeruk sumber daya alam di sana jelas bukan kaum filantropis yang peduli pada sesama. Mereka hanya peduli pada kepentingan ekonominya sendiri, masa bodo pada kesejahteraan dan kepentingan orang lain.
Entah kenapa sepertinya salah satu ciri khas orang liberal adalah menggampangkan masalah dan meremehkan orang lain. Betapa pedihnya perasaan para pahlawan yang sudah berjuang berdarah-darah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari bangsa-bangsa penjajah jika mereka tahu betapa entengnya lisan orang liberal melecehkan dan menghinakan perjuangan mereka. Lontaran-lontaran pendapat khas orang-orang liberal itu memang sangat pas dengan definisi Rasulullah tentang kesombongan. “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang shahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”(HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitabul Iman, Bab: Tahrimul Kibri wa Bayanuhu
Subscribe to:
Posts (Atom)







